21.40

“Perempuan Pengusung Peradaban Untuk Bangsa”.

“Perempuan Pengusung Peradaban Untuk Bangsa”.
Oleh: Maulidar Yusuf

Sejak zaman Rasulullah, masalah yang dihadapi kaum perempuan telah mendapat perhatian besar. Prinsip Islam yang mengutamakan keadilan dan kesetaraan ummat manusian, memberikan dorongan kuat bagi perempuan untuk mendapatkan hak-hak yang telah digariskan oleh Allah, disamping kewajiban yang harus dilaksanakan.
Dengan mengikuti petunjuk Allah, Nabi Muhammad telah membibing ummat Islam untuk memuliakan perempuan. Norma ideal tentang kesetaraan perempuan dengan laki-laki, dan bagaimana seharusnya relasi antara keduanya, serta kewajiban mereka terhadap Tuhan dan sesame manusia, telah diajarkan oleh Allah, sebagaimana terkandung dalam Al-Qur’an.

Namun dalam kehidupan sehari-hari, sering ditemukan kesenjangan antara norma ideal yang seharusnya dilaksanakan, dengan sikap dan perilaku yang dipengaruhi oleh budaya maupun pemahaman agama yang patriarkis. Dampaknya terlihat jelas pada pandangan dan sikap yang menempatkan perempuan sebagai makhluk yang lemah, tidak penting (subordinat) dan sekedar pelayanan atau pemuas nafsu laki-laki. Pandangan dan sikap yang merendahkan harkat dan martabat kaum perempuan telah berlangsung sejak zaman sebelum islam datang dan masi berkembang sampai pada masa sesudahnya. Bahkan hal ini sering berlanjut menjadi penidasan-penindasan.

Banyak sekali kasus yang kita temui dewasa ini yang merugikan perempuan, disamping kesadaran dari kaum perempuan sendiri yang minim, bahwa mereka sebenarnya mampu menjadi lebih baik dari apa yang sering berkembang dan telah membudaya dilingkungannya, termasuk didalamnya hegemoni laki-laki. Padahal dalam Islam sendiri perempuan selalu didorong untuk berfikir dan bersikap kritis. Sehingga paradigm budaya “fisik” yang unggul pada masa jahilyah, bisa bergantu dengan budaya “akal” yang mengedepankan rasio dan moralitas. Perempuan berhak bersikap kritis, mempertanyakan berbagai persoalan yang bertentangan dengan hak-hak dan moralitas, serta menggugat apa-apa yang dipandang bersebrangan dengan prinsip kesetaraan dan keadilan.

Oleh karena kemampuan yang sama tersebut, meski memiliki perbedaan, perbedaan tersebut bukan hal yang harus diperdebatkan, namun haruslah disingkapi dengan arif dan bijak, karena permasalahan perempuan hari ini, bukan sekedar hak dan fungsi saja, tapi juga peran. Bangkitnya sebuah peradabaan suatu bangsa sangat bergantung kepada peran perempuan. Hal ini bisa kita lihat bagaimana perubahan-perubahan yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh perempuan dimasa lalu.

Telah ada ketetapan dari dulu hingga sekarang peran perempuan memang tidak terbatas dalam ruang domestic semata, perempuan bisa lebih dari itu, selama masih dalam koridor normative dan tidak melawan kodratnya.

Terciptanya atau terwujudnya peradaban yang baik adalah cermin dari pembagian peran yang benar terhadap setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Termasuk terciptanya pendidikan yang baikpun tidak terlepas dari pengaruh budaya, ekonomi, social, serta politik suatu wilayah. Hal ini juga sangat bergantung pada peran institusi mikro, seperti keluarga, maupun makro, seperi Negara, yang selalu memiliki benang merah diantara keduanya.

Oleh karena itu penulis ingin sedikit memaparkan tentang betapa pentinggnya peran perempuan dalam menciptakan sebuah peradaban, serta pengaruh-pengaruh yang telah diciptakan oleh tokoh-tok perempuan, yang seharusnya menjadi acuan kepada setiap perempuan hari ini untuk berani bergerak dan serius menjalankan perannya, baik perannya kepada Tuhannya, keluargan, dan masyarakat.

Islam dan Peran Perempuan
Tuhan menciptakan manusia dengan dibekali kekuatan akal serta diiringi kesucian wahyu untuk mencapai kesempurnaan. Di alam ‘azali manusiapun berikrar menjadi khalifah Tuhan di muka bumi. Manusia bersedia mengemban amanat suci langit untuk menebarkan kebaikan serta mencegah kemungkaran di dunia. Sebuah amanat yang tak sanggup diemban oleh makhluk mana pun. Maka, manusia memiliki konsekuensi untuk membangun diri serta lingkungannya, baik pada lingkup keluarga maupun masyarakat secara luas.

Demikian halnya dengan perempuan sebagai salah satu misdaq manusia, tak dapat lepas dari amanat tersebut. Perempuan, sebagaimana laki-laki memiliki tanggung jawab terhadap diri dan masyarakatnya. Dari sinilah, muncul ada tiga peran utama yang dimiliki oleh perempuan. Pertama, peran yang terkait dengan kehidupan individu, yaitu hubungan transendental manusia dengan Tuhannya. Kedua, peran perempuan dalam kehidupan keluarga baik sebagai istri maupun ibu dari anak-anaknya. Ketiga, peran perempuan di masyarakat.

Peran terakhir ini, memunculkan dua tesis berseberangan. Di satu sisi, ada sebagian kelompok yang sama sekali menolak keterlibatan perempuan di ranah publik. Kekhawatiran yang kerap kali dimunculkan adalah terjadinya fitnah serta kekacauan peran. Di sisi lain, tak sedikit kalangan yang memberikan kebebasan seluas-luasnya untuk terjun di masyarakat tanpa adanya pembatasan. Pendapat ini muncul sebagai reaksi terhadap kelompok pertama. Padahal sampai hari ini banyak sekali kita lihat peran perempuan yang sangat berpengruh pada perubahan-perubahan yang berguna untuk masyarakat luas.

“Tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki dari sisi kemanusiaan. Karena perempuan sebagaimana laki-laki memiliki hak yang sama dalam menentukan masa depannya. Adapun perbedaan yang ada di antara keduanya, tidak mengurangi sisi kemanusiaan itu sendiri”.

a. Peran perempuan dalam bidang
b. Peran perempuan sebagai seorang sosok ibu dan proses pendidikan

Islam memandang posisi perempuan sebagai posisi yang paliag penting dalam rumah tangga dan masyarakat sebagai upaya pembentukan generasi islam,Rasulullah SAW,menempatkan posisi ibu yang utama bagi anak-anaknya ,sebagaimana sabdanya yang artinya:
“Abu Huraira berkata:Datanglah seseorang kepada Nabi SAW. Dan bertanya :siapakah yang berhak akan layani dengan sebaik-baiknya? Jawab Nabi SAW :Ibumu. Kemudian siapa /jawab Nabi :Ibumu .Kemudian siapa ? Jawab Nabi :Ibu mu .Lalu siapa lagi ? Jawbab Nabi :Ayahmu.”(Muttafaakun”alaihi).

Seorang ahli pendidikan,Abdullah Nashih Ulwan mengungkapkan,ibu merupakan sekolah. Barang siapa menyiapkannya, ia telah menyiapkan bangsa yang berbibit dan berakar kokoh. Maksudnya bahwa seorang ibu merupakan pendidikan yang mempunyai posisi penting dalam keluarga, terutama sekali kalau dilihat pada saat proses anak berada dalam kandunagan ibu selama Sembilan bulan dan proses menyusui anak setelah melahirkan, mengindikasi bahwa masa awal kehidupan anak di dunia, punya kedekatan yang kuat pada sosok ib. Zakiyah Daradjat dalam bukunya“Kesehatan Mental dalam Keluarga”mengatakan sebagai berikut :

“Karena orang yang dikenal pertama anak adalah ibunya.Dan ibu itulah yang memberikan pengalaman pertama kepada si anak, apakah pengalaman dilihat didengar atau dilihat ,di dengar atau dirasakannya pada tahun-tahun pertama dari umurnya akan merupakan unsur penting dalam membina kepribadiannya.Jika pengalaman tersebut menyenangkan dan baik pertumbuhan anak, maka unsur positif dan baiklah yang akan memenuhipribadi anak yang tumbuh. Tetapi jika pengalaman tidak menyenangkan dan tidak baik yang dirasakan anak dari ibunya waktu ia kecil, maka unsur negativ dan kurang baiklah yang akan mewarnai pribadi anak yang tumbuh itu”.

Untuk mendapatkan generasa yang handak, maka dimulai dari pendidiknya haruslah seorang yang handal pula.Jadi seorang ibu yang handal, haruslah membekali diri dengan keteguhan iman dan berilahmu pengetahuan yang tinggi. Karena di zaman sekarang ini begitu banyak tantangan dan pengaruh-pengaruh yang dihadapi seorang anak.Oleh karena itu, ibu harus memulai dangan mengajarkan anak-anaknya tentang dasar-dasar keimanann dari sejak kecil untuk membantu mereka menjadi manusia yang saleh, kuat imannya dan memiliki pemahaman yang benar tentang agama dan menjadi anggota umat islam yang menyaruh kebaikan dan mencegah ke



Pendidikan dan Perempuan
Pendidikan merupakan usaha pembinaan keterampilan menggunakan pengetahuan atau pengajaran (the art of imparting or acquiring knowledge and habit through instructional as study) yang mencakup aspek jasmani, akal, dan rohani.

Secara historis, perintah menuntut ilmu dalam islam tidak dibatasi oleh usia, jenis kelamin (pria atau perempuan). Al Qur’an member kesempatan untuk beramal kebajikan kepada semua dan Allah akan memberikan balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Dalam pandangan Allah derajat setiap manusia sebagai seorang hamba adalah sama, yang membedakannya hanyalah kadar iman dan ketakwaannya. Secara konseptual jelas bahwa yang membedakan manusia sesame manusia hanyalah kemampuan mereka mengaplikasi ilmu yang telah dianugerahkan oleh Tuhan untuk manusia, karena manusia diberi kelebihan akal pikiran sehingga dengan akal manusia dapat membedakan yang mana baik dan yang mana buruk, dengan akal pula manusia berbeda dengan binatang. Oleh sebab itu pendidikan semestinya berpegang pada tataran konseptual yang benar sehingga pada tataran aplikasinya tidak keliru. Karena kekeliruan itulah yang sering mengakibatkan permasalahan dalam dunia pendidikan itu sendiri.

Pada masa awal perjuangan Islam perempuan memiliki intergritas yang tinggi sebagai seorang yang cerdas . Kecerdasan perempuan pada masa lalu terbukti dalam catatan sejarah seperti saidah Aisyah selaku isteri Rasulullah SAW yang banyak menghafal hadis sampai hari ini tetap dinilai memiliki otoritas yang tinggi.

Secara historis, pada periode awal perjuangan penegakan ajaran islam perempuan diberikan kedudukan tinggi dalam mengakses informasi dari Rasulullah Saw, walaupun pendidikan berpusat dirumah, denagan menggunakan system halaqah. Artinya semua pendekatan yang dinereikan oleh Rasulullah semua bertujuan menjelaskan al-quran kepada sahabat termasuk kaunm perempuan.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dipahami behwa peluang yang ada tidak disia-sia kan oleh perempuan untuk memperdalam ilmu agama islam dengan berbagai cara, oleh karena itu perempuan seharusnya tidak lengah terhadap kesempatan-kesempatan yang terbuka luas untuk menuntut ilmu.

Modal perempuan sangat besar untuk menjadi manusia yang super dalam mekanisme penciptaan imajinasi kreatif. Fakta menunjukkan bahwa kebanyakan perempuan lebih peka terhadap masalah. Ia menjadi cepat dewasa. Namun, struktur sosial yang patriarkal kadang membuat imajinasinya terbatas dalam wilayah kuasa sistem patriarki.

Oleh karena itu

21.34

Titah Hakim Langit

Inilah lembar-lembar disaat kemuraman menjadi teman
Bukan permasalahan takdir,m maupun keadilan Tuhan
Namun adakah Tuhan menjadikan kehidupan sebagai beban untuk manusia?
Lantas untuk apa Tuhan menciptakan manusia?
Jika hidangan beban, siksaan, anianya menjadi hidangan untuk mereka

Inilah detik-detik mulut tak perlu menggangga dan gantikan dengan merantai mata hati
Meskipun tahu “Tuhan tak akan merubah satu kaumpun jika mereka tidak ingin berusaha merubahnya sendiri”
Malah benarkan semua tingkah, jika kita tejebak dalam arus ketidak adilan Tuhan
Terasa terasing, sayup-sayup terdengar “ Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?”

Inilah desah-desah terkrisis, yang menati pahatan senja menuju peraduan
Celaka, celaka, dan kemudian celaka
Sebuah titah dari Hakim Langit, tak ada yang kuasa menolak
Lalu tiba saat tak berdaya dalam luka yang terus berputar, harus benarkan bahwa tak akan pernah ada bintang tunggangan yang telungkup, itulah kesabaran, tak akan punya batas.
“Sekali-kali Allah tidak mengaruniakan nikmat kepada seseorang hamba, kemudian Dia tarik nikmat itu dan Dia gantikan dengan kesabaran, kecuali Allah gantikan dengan yang lebih baik dari apa yang telah ia cabut darinya”
Ternyata………….
Dalam lembaran ini hanya ada dua pilihan, tetap merangkak lalu berdiri berlari hingga akhirnya terbang atau berhenti disini tanpa arti.

*Dulu kau yang telah membuatku terbangun, mengapa harus sekarang kau jatuhkan aku...................................

20.29

Pray from Aceh To Japan

*Tulisan ini ditulis dalam rangka membantu warga Jepang yang sedang dilanda musibah, Tsunami, dan akan dikirim ke Jepang bersama bantuan-bantuan materil dan moril dari rakyat Aceh ke Jepang dalam " Pray From Aceh To Japan".Semoga bermanfaat dari segi psikologis.


“Jak beulage awak Jeupang bacut,,!!” sederet kalimat perintah yang diucapkan nenekku, aku tak tahu pasti apakah ia sudah pernah ke Jepang atau belum, ataupun setidaknya berjumpa dengan orang-orang Jepang. Karena dalam kenyataan kesehariaannya nenekku dan juga nenek-nenek orang lain yang ada di Aceh sering menyebutkan kata-kata Jepang dalam ucapannya, dan kata-kata initerus diikuti oleh anak-anaknya, cucu-cucunya, bahkan cicit-cicitnya.

Termasuk hari ini disaat nenek menyuruhku mengangkat jemuran karena tiba-tiba saja hujan turun. Secara eksplinsit memang “jak beulage awak Jeupang bacut,,!!” artinya adalah “jalan seperti orang jepanglah dikit,,!”, namun jika dikaji secara eksplinsit artinya adalah nenek menyuruhku untuk bergerak segera mengambil jemuran, lebih bersemangat, serta lebih cepat, lebih serius, lebih gesit. Secara cultural memang masyaraka Aceh sengaja menggunakan kata “orang jepang” untuk menjadi standar semangat dalam berkerja walaupun mereka sempat menjajah negrinya.

Aku bisa melihat ini bukan hanya sekedar kata, karna walaupun mereka adalah mantan penjajah negriku, namun aku pernah ditompang oleh mereka, tepatnya tujuh tahun lalu. Beberapa bulan setelah Aceh luluh lantak karena Tsunami, yang menghabiskan hampir separuh Tanoeh Riencong, tak terkecuali rumahku dan keluargaku. Aku mengira ini adalah akhir dari kehidupan yang berakhir dengan keadaan yang benar-benar tak wajar, karna aku masih hidup dan itu artinya aku harus berdiri lagi, sendiri diantara puing-puing reruntuhan dan mayat-mayat saudara-saudaraku.

Ternyata dugaan aku salah, aku masih punya mereka yang peduli, mereka yang punya mata hati, mereka yang punya uluran tangan panjang yang mau menompang aku dan juga sisa-sisa amuk tsunami. Salah satunya adalah mereka yang merupakan ciptaan Tuhanku yang berasal dari negri matahari terbit, Jepang.

Aku pernah bersama mereka, menjadi salah satu tongkat untukku bangkit, memapahku untuk bersama-sama membangun Acehku, difraksi semangat tak henti-hentinya datang dari mereka untuk ku dan teman-temanku di Aceh untuk terus bangkit dari berbagai keterpurukan, fisik maupun non fisik, semangat untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan, karna hidup bukan untuk kembali kemasa lalu, tetapi masa depanlah yang sedang menanti kita, masa lalu akan menjadi sejarah dan cambuk kita untuk terus bangkit membangun masa depan.

Tahun ini aku tak menyangka Tuhan kembali bertitah pada tsunami, salah satu kuasanya, untuk menyapa Jepang, meluluh lantakkan kota-kota yang ada di Jepang. Ingin rasanya aku kesana, membantu mereka saat ini juga.

Tapi aku yakin, Jepang akan lebih tegar dariku, lebih kuat dariku. Seperti pesan-pesan nenekku, untuk coba mencontohi mereka, Jepang. Jepang yang kami kenal adalah Jepang dengan semagatnya.

Sebuah semangat kebangkitan.

Semangat itu akan selalu ada pada mereka yang yakin bahwa Tuhan menciptakan matahari yang tak akan pernah kenal kata lelah, apalagi menyerah untuk kehidupan, untuk tetap terang dalam berbagai keadaan. Seperti sebuah firman Tuhan ku yang artinya “Bukankah subuh itu sudah sangat dekat.” (Qs. Hud: 81), artinya akan selalu ada sinar yang akan memancar kesenangan, kebahagian, dan kejayaan kepada kita. Seperti pagi dengan mentari yang akan membebaskan malam yang pekat dengan kegelapan.

Musibah dan kesedihan memang bagian dari kehidupan kita, ini merupakan hukum Tuhan yang akan terus berlanjut, apalagi kita tahu bahwa dunia ini bukan tempat yang akan selamanya kekal, bisa jadi hari ini kita membawa berita kesedihan, tapi esok siapa tahu, bisa saja kita yang akan menjadi bahagian dari berita duka tersebut.
Tuhan tidak lupa pula menciptakan ketegaran dan sabar, yang akan mengiring kita untuk membuka mata bahwa segala yang ada dialam ini akan selalu menuntut kita untuk menyadari bahwa Yang Mengambil adalah Yang Memberi.

23.21

Kami lemah

Merindukan Tuhan kami...
Bilamana mungkin kami menjadi budak yang bodoh,
Kami enggan mengecup-Nya mesra dalam sujud ini....


Merindukan Tuhan kami...
Bilamana mungkin kami menjadi budak yang cerdas,
Kami bersyukur akan hadiah perasaan cinta dari-Nya...



Hidup kami teramat singkat,
Kami tak mampu berbuat banyak untuk dunia
Kami lemah sebagai pemimpin diri ini. ..
Kami terombang-ambing dalam gelapnya khayalan,
sedang tangan ini sejak tadi belum bertindak
Tuhan, tolong selamatkan ruh kami dalam kuasa cinta-Mu...!!
Lindungi jalan kami.....

Kami lemah,..

12 sya'ban 1431 H

23.12

Dimana kau lihat aku, *Rec. International Women's day, today

Kau lihat dibajukah?

Silahkan, tapi kasihan, yang ku punya hanya kain bekas, kumal, sumbangan orang, sisa pesta, penuh tambalan, dan kemudian ibuku menjahitnya kembali.

Kau lihat dikulitkukah?
Silahkan, tapi warnanya gelap, kusam, kasar, bahkan mungkin bersisik nyaris seperti…… ah kau saja yang mengatakan seperti apa

Kau lihat dimatakukah?
Silahkan, rabun, meski sudah ku tambah dua lagi

Kau lihat dibibirkah?
Ranum? Mimpi itu! Lihat, merahnya hanya bendungan darah, untung saja belum pecah, muncrat ke wajahmu

Atau ditangan?
Ada apa? Penuh goresan, sayatan pisau, bekas luka yang terajut bersama pinang-pinang yang ku belah setiap petang, kasar dengan kayu bakar yang ku angkut setiap pagi.

Atau malah dirumahku, hartaku…? Haha……………..

Apa yang kau dapat? Kecuali saat kau datang kerumahku, tak pernah lupa kuberi minum dari sumur yang digali ayahku, Ku beri makan dari padi, upahku menggarap sawah
Tapi jangan takut!! Aku jamin Halal
Ada bayam dibelakang rumahku, yang ditanam ibuku, Tak akan ambar, ada garam kiriman nenekku, dan ikan yang dikail ayah ku

Jangan resah, kau takkan menyesal mengenalku, jika kau masih ingin menghargaiku, memberiku kesempatan mengisi ruang kosong yang memang hakku yang tersebebar dijagat ini, memahami bahwa niatku benar-benar tulus, bukan melihatku sebagai sebagai racun.

Dalam gerak statis yang ku punya, pisauku bukan untuk mengiris tampa arah, semua ada arti untuk sebuah peradaban…………

8 Maret

23.03

Sajak Untuk Nanggroe….

Jika ada sajak yang lebih dahsyat dari pada petir
Kami ingin menyerap seluruh daya listrik yang dimilikinya
Ingin kami gencarkan arusnya diseluluh jagat ini
Agar mereka tahu, sedahsyat itu jiwa kami ingin berontak
Pada cicit kedidi yang tlah lupa akan sayap yang menerbanginya hingga sampai dilubung padi
Pada pinang-pinang kuning yang tak lagi menghargai batang yang pernah bersusah payah merangkak mengalirkan hara
Pada seulanga yang lupa kelopak pelindung masa rapuhnya
Pada mereka yang tak lagi menganggap ada cinta dalam aksara kami, bukan sekedar mencerca tanpa arah

Kamilah para penyair
Tak ada susunan aksara menyerah dalam deret yang kami rangkai
Tak pernah sekalipun kami berkenalan dengan lelah, meski beribu gunung ranjau tlah kami lalui demi sebongkah batu asah
Agar pena kami tetap runcing, tajam

Kamilah para penyair
Yang senja kami selalu gerah kala putih kau nodai

Kamilah para penyair
Meski malam rangkang, bantal, selimut kami kau incar, kami tak gentar

Kami akan terus berputar hingga poros kami sampai kekerak bumi
Kami tetap menjerit dalam lengkingan yang meluruhkan juntai permata dilangit
Agar mereka tahudikerak bumi ini ada kejujuran, kearifan, kebijaksanaan, keadilan, kesetiaan, pengorbanan yang tertimbun , lalu berharap seluruh permata langit tertelan ketika luruh
Kemudian masuk, mendekam dalam perut, yang perlahan akan mengkristal, dan akhirnya kedamaian terperangkap dijiwa kita semua
Inilah maksud kami yang terangkul dalam sajak untuk nanggroe….

Tanoeh Riencong, 9 Februari 2011

18.19

Sesuatu Yang Tergantung di Hatimu, Nawaitu (adat Khanduri Laot)

Oleh: Maulidar Yusuf

“Singoeh bek tuwo beuh! Jangan lupa bawa mangkuk plastic kecil ya dik, biar gampang latihan..”

“ok kaak…” koor anak-anak sambil berlari pulang.

Pesanku pada anak-anak tari binaanku disanggar agar membawa perlengkapan latihan, kali ini mereka harus latihan ekstra karena akan ada penampilan beberapa hari lagi pada sebuah acara besar di Krueng Aceh, Khanduri Laot. Tarian yang akan dipentaskan adalah tarian ranup lampuan, tarian khas Aceh untuk penyambutan tamu-tamu yang datang dan dalam acara seremonial ditarikan oleh tujuh atau sembilan penari wanita diiringi oleh music “seurunee kale”. Pada akhir tarian para penari menawarkan ranup untuk para tamu sebagai rasa hormat walaupun tidak seorangpun wajib memakannya.

“Dek noeng, kamu saja yang belikan ranup dipasar aceh ya..” kata Novi padakku untuk membeli ranup yang akan diberikan oleh para penari kepada tamu undangan yang akan hadir dalam khenduri laot pada hari kamis ini. Ranup adalah sirih yang sering dimakan oleh orang Aceh sebagai daun yang berkhasiat. Secara tradisional digunakan sebagai kunyahan setelah makan dan sering disajikan untuk menunjukkan rasa hormat kepada tamu.

“Njoe na kanduri laot uro ameh njoe ” kata ayah. Beberapa hari lagi orang tua kami yang manyoritas adalah nelayan akan mengadakan khanduri laot di Krueng Aceh.
“Krueng Aceh ini adalah salah satu sungai yang letaknya sangat strategis yang ada di Aceh, dan sudah menjadi sentral nelayan untuk menangkap ikan sejak masa kerajaan Sultan Iskandar Muda” kata Wak Yan, mantan wakil panglima laot Krueng Aceh yang juga merupakan keturunan nelayan generasi ketiga sejak masa kejayaan kerajaan Aceh. Dalam usianya yang hampir enampuluh tahun beliau masih memiliki ingatan dan wawasan yang sangat kuat tentang khanduri laot dan hal-hal yang berkaitan dengan laut

“Di Aceh njoe antara adat ngoen agama hana jeut meupisah ” kata beliau sambil memceritakan sedikit tentang kerajaan Aceh yang jaya sebagai kerajaan dengan kekuatan Islam yang sangat luar biasa, karena dalam semua hal hukum agama selalu menjadi acuan dalam beribadah dan juga menggunakan hukum adat dalam hal hubungan kemasyarakatan selama tidak bertentangan dengan hukum agama dan ini masih tetap digunakan dimasyarakat sebelum adanya hukum negara dan masih tetap ditegakkan hingga sekarang meskipun ada sebagian yang sudah lutur.

“Tapi njoe harus tetap tapeukong” lanjut beliau sangat bersemangat mengharapkan adat yang tak bertentangan dengan agama tetap harus ditegakkan agar tidak banyak permasalahan dan ketimpangan social yang terjadi dimasyarakat.

“Ditempat kita setiap tempat memiliki aturan mainnya, seperti dilaut ada Panglima Laot, disawah ada Keudjreun Blang, dipasar ada Haria Peukan, dan dihutan ada Pawang Rimba” kata Kak Dek Na, pimpinan sanggar Puekat, salah satu sanggar yang membina anak-anak nelayan yang ada diperkampungan nelayan, Lampulo .

“Fungsinya itu banyak sekali, namun tujuannya sama-sama menjaga ketertiban dimasyarakan dengan menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi” lanjut beliau disuatu petang sambil membantu kami membereskan peralatan sanggar.

Seperti tugas seorang Keujreun Blang, bersama-sama masyarakat memimpin memikirkan bagaimana pemasaran hasil panen sawah nantinya setelah keumukoh , agar masyarakat tak rugi. Ada pepatah yang sangat popular dimasyarakat Aceh “Jaroe bak langai, mata u pasai”.

Inilah Aceh, disini setiap aktivitas masyrakat memiliki aturan main tersendiri yang diatur oleh pemimpimpin masing-masing atas dasar kesepakatan bersama.
****

“Tulong bagah bacut, karap poh lapan njoe..! ” seru Apit, salah seorang pengurus sanggar kepada anak-anak penari agar segera begegas menuju area Khanduri laot yang tak jauh dari sanggar.

Dalam perjalanan menuju lokasi khanduri laot, dari kejauhan sudah tampak para tamu yang hadir. Membuat kami semakin terburu-buru untuk segera sampai.
Beberapa menit kemudian kami sampai, akhirnya para penaripun mengabil posisi masing-masing untuk menari menyambut tamu. Acara hari ini akan dibuka oleh wakil gubernur Aceh Muhammad Nazar. Dalam acara ini seperti biasa akan dihidangkan masakan-masakan khas Aceh disamping masakan khas Khanduri laot, hidangan gulai daging kerbau, kemudian akan diisi juga dengan lantunan ayat-ayat suci oleh pengajian Mesjid Raya. Ada dua belas kerbau yang disembelih dalam khanduri laot tahun ini.

“Njoe peng dari para nelayan, tahun ini dikutip dari 150 boat nelayan yang ada di Krueng Aceh nak….. dan Alhamdulillah selain bisa membeli beberapa ekor kerbau juga digunakan untuk sumbangan kepada anak-anak yatim” kata seorang nelayan yang juga sangat mengerti kondisi.

Khanduri laot adalah kegiatan adat yang tidak pernah lupa dilaksanakan oleh para nelayan yang ada di Aceh disaat memiliki rezeki dengan cara menyembelih lembu atau kerbau yang kemudian kepala berserta isi perut dari hewan tersebut dibungkus dengan kulitnya lalu dibuang kelaut dan diadakandalam 3 atau 5 tahun sekali. Secara kasat mata kita bisa melihat ini kegiatan ini hampir mirip dengan ritual ummat Hindu, seperti yang ada dipulau Jawa.

“Ini Cuma sebagai ucapan syukur kepada Allah yang telah memberikan kita rezeki dari laut, sehingga kita bisa memberi makan kepada anak dan istri” kata Wak Yan .

“Acara seperti ini, setelah Islam sangat kuat ada di Aceh sangat jauh dari ritual yang berbau syirik, karna kita bersyukur bukan kepada laut, namun kepada Allah, Sang Pemberi Rahmat” Lanjut beliau. Karena kegiatan khenduri laot ini sangat berbeda dengan apa yang dilaksanakan oleh ummat Hindu, khususnya yang ada di Pantai Laut Selatan, baik dari segi pelaksaanaan dan subtabsi.

Pantai Laut selatan yang menurut kepercayaan masyarakat dipulau Jawa dikuasai oleh Nyai Roro Kidul telah memberikan banyak anugerah sehingga harus diadakan hajatan disetiap hari senin atau kamis dalam bulan suro disaat malam kliwon, karena itu merupakan hari pantangan untuk melaut. Kerbau yang dipersembahkan haruslah dikejar-kejar terlebih dahulu ketika disembelih, agar darahnya membasahi pantai, dan keberkatanpun akan muncul. Dan mereka percaya bahwa ini akan mendatangkan rezeki yang lebih banyak.

Namun, melihat konteks Aceh yang sangat kental dengan nilai spiritual keislaman,
acara khanduri Laot ini hanyalah wujud syukur kepada Allah dengan cara mengadakan Khanduri bersama masyarakat dan anak yatim dan yang paling penting adalah doa bersama yang dipimpim oleh seorang tengku atau ulama. Acara ini dilakukan dengan penuh khidmat ketauhidan dan dalam praktiknya sangat hati-hati agar tak ada usur syirik dan riya.

“Khanduri yang kita adain ini tetap dengan menyembelih daging kerbau soalnya dagingnya itu banyak dan enak” Kata seorang panitia penyembelihan.
Menyingung persoalan mengapa kepalanya tetap dibuang kelaut, “sebernarnya semua ini tergantung niat dari yang melakukannya, kalau kita sih ini bentuk saling ketergantungan antara manusia, hewan yang ada dilaut, nah…..kalau kita membuang kepalanya kelaut ini akan mempengaruhi ekosositem laut kearah yang lebih baik dengan mempercepat pertumbuhan plankton-plankton sumber makanan bagi ikan, tapi… kalau dilihat dari sisi menjaga kebersihan lingkungan, jangan sering-sering jugalah kita buang sampah sembarangan..hehhe” kata seorang warga nelayan sambil tersenyum.

Sejak tahun 1316 ritual ini sudah ada di Aceh, namun tahun lalu berdasarkan hasil kesepakatan para Panglima Laot se-Aceh memutuskan bahwa khanduri dengan mengadakan pembuangan kepala kerbau kelaut sudah tidak dibenarkan lagi, hal ini merujuk pada penerapan syarian Islam di Aceh, walaupun kesepakatan ini tidak tertulis, namum tetap siapapun harus menjaga niat dari tujuan pembuangan kepala kerbau kelaut, bukanlah untuk sebuah persembahan, karna dalam hal apapun Allahlah tujuan kita, alam dan isinya Allahlah Sang Penguasa, dan Allahlah yang akan melebihkan dan mengurangi rezeki kita oleh karena itu hanya kepada Allah tempat kita persembahkan rasa syukur.

“Njoe siat teu na duk pakan njoe….. dengan para panglima laot lhok yang ada disekitar Banda Aceh seperti Panglima Laot Pasii tibang, Ulee Lhee, Lamtong dan lain-lain” Kata Wak Sol, seorang toke boat yang ada di Lampulo yang berada dibawah naungan Panglima Laot dari Krueng Aceh. Karena disetiap laut disini memiliki panglima yang berbeda yang disebut dengan panglima Laot Lhok yang berfungsi mengatur ketertiban dikawasanya masing-masing, seperti menyelesaikan sengketa antar nelayan. Permasalahan-pernasalan yang timbul ini akan diselesaikan dengan jalur musyawarah yang dipimpin oleh Panglima Laot dikawasannya bersama orang-orang yang bersengketa. Dengan tujuan menegakkan keadilan, sejak dulu Aceh sangat menjunjung tinggi nilai keadilan disemua sisi kehidupan pribadi dan masyarakat.

Pada dasarnya acara Khanduri Laot ini memiliki banyak tujuan yang mengandung berbagai hikmah. Selain sebagai wujud syukur kepada Allah yang telah menganuigerahkan laut sebagai tempat yang paling banyak meluapkan rezeki kepada manusia didarat, khanduri laot ini juga dijadikan masyarakat sebagai ajang silaturrrahmi sesama masyarakat.

“Sekarang zaman udah canggih, apa-apa pake telpon, sms, atau melalui media internet udah bisa berkomunikasi langsung dengan orang lain, jadinya intensitas tatap muka dengan teman, kerabat semakin berkurang, dan kita ga tahu keadaan mereka sebenarnya bagaimana” kata Luddin, seorang warga nelayan yang memiliki tempat pengolahan ikan keumamah yang juga hadir pada khenduri laot.

“Gini ni kan enak kita bisa ketemu langsung sekali-kali, kelihatan ternyata Nyak Maneh udah ga segendut dulu…hheheh” lanjutnya sambil melihat seorang ibu penjual nasi diwarung yang biasa disinggahi nelayan ketika pulang melaut disampingku.
Hampir ribuan masyarakat yang datang dalam syukuran para nelayan tahun ini, diantaranya adalah tamu undangan dan anak yatim yang diundang khusus untuk menikmati bersama hidangan yang telah disiapkan.

“Ini semua tergantung pada rezeki nelayan juga nak,,” kata salah seorang kakek saat mendengar pertanyaanku. “Pue tip thoen na khanduri njoe ?”
*****

Sebelum zhuhur acarapun sudah selesai. “Kak tolong bereskan peralatan tari ya.. kami mau jalan-jalan dulu sebentar” kata Nurul sambil terburu-buru meletakkam peralatan tari.

“Ya kak.. kami mau keliling dulu sebentar, mau liat-liat sungainya” sambung Aisyah sambil berlari meninggalkanku dengan segala pernak-pernik yang digunakan ketika menari tadi.