Potensi kepemimpinan itu memang dimiliki oleh setiap orang, namun untuk menjadi seorang pimpinan yang baik itu tak mudah. Begitulah yang terjadi hari ini dinegri kita, dimasa-masa krisis ini sulit sekali menemukan sosok pemimpin yang sempurna. Namun menjadi sebuah pertanyaan besar mengapa hari ini semua orang berlomba-lomba menjadi pemimpin orang lain, padahal memipin diri sendiri saja tak mampu, baiklah, seandainya kita katakana bahwa itu merupakan cara mereka belajar unruk sempurna, mereka berani mengambil resiko dicaci disaat kinerja mereka buruk, mereka berani disaat kesalahan yang mereka lakukan meskipun kecil tapiu menjadi bulan-bulanan semua orang. Tapi terlepas dari itu semua kita tak pernah tahu apa tujuan mereka sebenarnya, namakah? Popularitaskah? Kepeduliankah? Atau malah materil untuk kepentingan pribadi dan kelompok?. Terserah tujuan mereka, yang jelas hari ini kita bisa melihat orang-orang mulai sibuk dengan agenda kepemimpinan, baik itu menyiapkan diri sendiri menjadi pemimpin, maupun menyiapkan orang lain, tim sukseslah istilahnya.
Teringat beberapa hari yang lalu disaat kami berjumpa dengan tokoh-tokoh masyarakat di beberapa daerah yang memiliki sumberdaya alam yang tidak sedikit, namun nyaris tidak berefek apa-apa pada perekonomian masyarakatnya, tak jauh beda keadaan perekonomian dimasa konflik dengan masa setelah MoU Helsinki untuk Aceh. Mereka ini adalah tokoh masyarakat yang sangat dekat keberadaan dengan masyarakat, mereka diangkat langsung oleh masyarakatnya untuk menjadi pengatur sekaligus pemimpin, namun mereka bukan pemimpin besar dengan gaji yang cukup untuk anak dan istri mereka, bahkan jerih payah mereka dibayar nyaris dibawah upah buruh perhari, mereka tak menuntut banyak, padahal dimasa-masa konflik dulu merekalah orang yang paling dicari, bahkan terhadap keberadaan seorang separatis didesa yang masuk tanpa sepengetahuan mereka, namun yang menjadi bulan-bulanan adalah mereka, dengan tuduhan yang andaikata langit bisa langsung bersaksi tentang kejujuran maka detik itu pula petir menyambar penuduh.
Sebenarnya merekalah pemimpin yang luar biasa, mereka adalah tokoh yang dipercaya tanpa janji manis, bahkan ada yang sampai 20 tahun menjadi tokoh kepercayaan, tempat mengadu meski mereka tak tahu lagi harus mengadu kemana setelahnya kecuali pada Tuhan. Mereka bukan pemimpin besar namun segala persoalan pada masyarakat merekalah yang lebih banyak tahu dari pada orang-orang yang selalu berorasi mengelu-elukan diri bahwa dia pemimpin besar yang paling bijak dan perhatian , apalagi persoalan pada masyarakat level rendah.
Bermimpi menjadi pemimpin besar itu memang hak setiap individu, tapi jangan lupa banyak sekali catatan penting yang harus selalu diingat oleh siapapun yang akan menjadi pemimpin. Khususnya di Aceh, berikut ini ada kutipan dari beberapa tokoh masyarakat yang ada dibeberapa desa yang sedikit terpencil di Aceh beberapa waktu yang lalu. Menurut mereka perhatian pemerintah hari ini hanyalah janji manis saja, sebagai tokoh kepercayaan masyarakat didesanya, banyak janji manis dari pemerintah yang ditawarkan kepadanya dalam hal apapun, namun sampai detik ini janji itu tak kunjung jua terealisasikan, tak salah jika mereka berkata “meunjoe tan tamita keudroe sapue koen”. Apalagi menanggapi persoalah yang sedang dibicarakan saat ini terkait permasalahan siapa yang layak menjadi pemimpin kali ini kedepan “terserah soe yang ji’ek, ata cit peukateun tetap lagei soet. Bandum cit peutaba mameh, watei ka tijoh ie babah teuh, ka dihieng”.
Disaat disinggung persoalan perekonomian masyarakat setelah MoU ini mereka menjawab “ walaupun konflik di Aceh sudah reda, tapi perekonomian kami terkadang malah semakin merosot; bahkan sang hie dalam ta mita raseki leubeh goet dan leu berkah lam masa konflik, dan urueng hana troe sidroe mantoeng lagei jinoe, peng meutumpok bak sidroe urueng mantoeng, berjeh pen siribe jeut tabloe dum pue, jinoe sapue tan seip lei”. Harusnya pemerintah bisa mengatur ini semua lebih bijak.
Ketika ditanya apa harapan mereka terhadapa pemimpin kedepan “seumoga bek sampe urueng yang ek tring yu ek bak u, siapa saja boleh, asal mampu”. Tokoh yang lain menambahkan “ kita ingin dipimpin oleh orang yang berwawasan luas, dalam hal apapun, dan mampu membawa Aceh ini sebagai kiblat peradaban, bek sabe payah ta meu kiblat u jawa sabe…….”
“..harus djih bek bri uengot keu kamoe, tapi kawe, buka lapangan kerja, jangan hanya member modal usaha apalagi tanpa kontrol,nrentan dengan korupsi, ini jelas mendidik rakyat untuk jadi pemalas, fakta ini..! fakta…” harapan tokoh masyarakat didesa lain ketika ditanya keadaan ekonomi masyarakat setelah perdamaian.
“kamoe njoe asai cit urueng bangai, tapi buet hek, maunya ajaklah kami sekali waktu berdiskusi dengan mereka pemegang simpul terkuat, biar lebih tahu apa yang yang sebenarnya terjadi dimasyarakat level bawah ini….” Sambut yang lain disaat mendengar kata pemilukada menanti didepan mata.
Setelah perdamaian ternyata kesejahteraan hanya ilusi, harusnya bek sare jak cilet mameh bak rhueng, hana jeut kamoe lieh. Manyoritas rakyat semakin gerah dengan keadaan yang han glah-glah, leuh bak meuruwa meusangkot gaki lom lam trieng, leuh glah bacut kameuchop jaroe lomgen duro.
Lantas bagaimana sebenarnya perasaan mereka yang sedang sibuk bergeriliya mencari dukungan untuk mencapai puncak, bahkan tak jarang sikut menyikut, keu’ih wie, keu’ih uneun, berlomba-lomba mengumpulkan KTP, berlomba-lomba meukat ubat rata sagoe, padahal tak jarang ubat yang dijual hanya ramuan asal jadi. Pencitraan sana-sini.
Mulai sekarang sebenarnya kita bisa melihat siapa ceurape itu sebenarnya, dan sebuah pertanyaan besar lagi, apakah ada sosok yang akan benar-benar tulis ingin mensejahterakan rakyat, bukan hanya memperturut kepentingan golongan apalagi pribadi.
Seorang filsuf dari Tiongkok yang hidup dua ribu empat ratus tahun yang lampau pernah berkata: “Suatu bangsa akan berada di dalam keadaan sejahtera bila tiga syarat terpenuhi. Syarat yang pertama bila bangsa tersebut memiliki system keamanan yang kuat. Kedua bila ekonomi negara tersebut dalam keadaan yang lancar. Ketiga bila pemimpin negara dapat diandalkan oleh rakyatnya”.
Tentunya kita semua berharap jangan sampai (lagi) terpilih orang-orang “paleeh”. Karena paleeh itu adalah virus yang sangat bahaya, banyangkan saja paleeh tanoh cot teungoeh kurueng asoe, paleh inoeng teumanjoeng watei lakoe woe, paleh agam sipak kuah piuleh aso, paleeh rakyat ji meupat rata sagoe, paleh raja djitop geulinyoeng wate ta krip. Hasilnya adalah hancur disemua sudut.
Assalamu'alaikum...... Saboeh langkah dari uloen tuan munuju mimpi.. lewat kata loen meurangkai, semoga langakah sabe lam berkah..
Pengikut
About Me
- Maulidar Yusuf Atjeh
- Mencoba menjelajah dunia melalui mimpi... saya adalah saya,, dengan segala kekurangan dan kelebihan.. lewat mimpi saya mencoba merajut asa,, entah,, saya terhadap semua yang saya dapat.. kerna semua maya.. tak pasti.. tak nyata... hanya saja saya punya satu keyakinan.. yaitu, apapun yang telah terjadi hari ini,, belum tentu tak berarti, walaupun tak penting... yah,,, walaupun sering bgt aq terbang tapi jatuh lagi,, ehmm,tapi aq selalu berfikir.. kalo jatuh, yaa,, bangun lagi, trs terbang lagi, jth lagi?? yaudah bangun lagi.. eeee jatuh lagi?? istirahat dulu sebentar,, ^_^ terbang lagi... i'll get it!!
“hayalan ini setinggi-tingginya, seindah-indahnya…..”
Berhayal, memang tak ada yang berhak melarang, karna imjinasi itu adalah fitrah setiap kita, temasuk berhayal hidup disebuah negri yang subur, damai, dan tenang tanpa ketimpangan-ketimpang, tapi terkadang ingin rasanya berada dinegri nyata seperti negri dalam hayalan tersebut agar tak ada gundah, gelisah dihati, tapi inilah tantangan hidup manusia, Tuhan memberi kita akal, pikiran, serta kekuatan fisik untuk berjuang dalam hidup. Tuhan pun tak akan merubah suatu kaum jika mereka tidak berusaha untuk menggunakan setiap kekuatan yang telah diberikan, hal ini juga tidak terlepas dari semua tindak vertical dan horizontal, kewjiban kepada Tuhan dan kepada sesama manusia.
Namun, meskipun kita berhayal, kita sadar bahwa kenyataan sering, bahkan selalu bersebrangan dengan jagat hayal kita. Lihat saja ketika kita keluar dari dunia hayal kita, berjumpa dengan realita, tampaklah apa yang sebenarnya terjadi dengan negri ini, yang sering jauh dari apa yang sering orang atas bicarakan, yang katanya perekonomian mikro negri ini sudah sangat maju dan berkembang, kata meraka.
Hari ini diatas gunung ini, ketika tulisan ini terpaksa kutulis untuk sekedar bercerita tentang perasaanku, kecenganganku pada pagi ini, terhadap jawaban polos seorang bocah laki-laki yang sedang memungut pinang-pinang kuning, bukankah ini jam sekolah? Bagi anak seumuran dengannya. Pukul Sembilan kawan. Ketika aku bertanya, “iya, tahu” katanya, “alah kupue teuma, loen hawa baje bola, meunjoe jak sikula hana jeut ta bloe baje bola, sipatu loem,, hek mantoeng diyue leh pue pue, habeh peng mantoeng,,”
Singkat memang, dan munafik jika kita mengatakan kita tak mengerti apa maksudnya, apa latarbelakang dia berkata demikian. Karena ini bukan sekali kita berjumpa dengan kenyataan seperti ini, ini adalah kesekian kalinya. Seandainya ditanya siapa yang salah, terkadang aku tidak ingin mengatakan pemerintah. Tapi jika disuruh mengulas kata aku akan akan menyalahkan pemerintah.
Isi UUD dan pembukaannya sepertinya akan selalu menjadi karya tulis yang sistematis, yang tebaik yang pernah dimiliki negri ini, terlalu indah sehingga harus disimpan didalam lemari jauh dari debu, jauh dari rayap, terlalu ribet mugkin jika disimpan dihati, lebih gampang menciptakan aturan baru, kemudian pelaksanaannya pun jauh dari kekonsistenan. Maklumlah, Negara berkembang ini katanya, yah…mungkin memang iya, saatnya berkembang bebas dan terus mengembang, dan sangat menyedihkan seandainya terjadi pengembangan yang sangat ironis dengan tujuan dasar, kesejahteraan.
Salahkan jika mengatakan bahwa pemerintah telah mengingkari falsafah dasar negri ini, pemerintah mendustai UUD, disaat terlihat jelas pengingkaran kesempatan anak bangsa untuk menikmati wajib belajar 9 tahun, dan dalam pasal 31 jelas disebutkan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas kecerdasan bangsa.
Melihat realita saat ini, disaat kemauan rakyat tak sama dalam hal menuntut ilmu. Pantaskah pemerintah mengatakan bahwa mereka telah lelah mengurus semua ini, karena permasalahan ingti dari semuanya sebenarnya adalah emosional individu, ohhooww….Lantas “kupue meusigak that jak calon droe keu pemimpin ?”.
Kita bisa melihat disaat pemilu, pilkada, pilkades, dan pilka-pilka lainnya. Jelas tergambar emosi, ambisi untuk menjadi pemenang, dan sikut kanan sikut kiri itu hal biasa, semua cara ditempuh agar bisa mendapatkan sebuah kursi, entah ~kita mana tahu~ apa tujuan sebenarnya. Apkah kekuasaan mutlak untuk kesejahteraan orang lain, atau malah kekuasaan yang terkontaminasi dengan hasrat memperoleh jalan pintas menjadi hartawan, maklum sajalah negri ini berbeda dengan negri lain.
Lihat saja Amerika, disaat seseorang ingn menjadi penguasa/mendapatkan jabatan, mereka harus memiliki kekayaan yang memadai terlebih dahulu, baru kemudian mencalonkan diri menjadi penguasa, sedangkan dinegri ini kebalikannya, kejar kekuasaan dulu, baru kemudian menjadi kaya raya. Kultur yang berbeda, karena itu tak perlu heran jika sosok-sosok seperti Om Gayus muncul.
Benarkah begitu utopisnya mengharapkan sosok pemimpin seperti Rasulullah, atau setidaknya seperti para Kulafaurrasyidin?
Apa yang sering terjadi hari ini jika dikatakan sebuah media pembelajaran, bahkan selalu dikatak sebuah proses menuju kesejahteraan, sebuah proses pendidikan, maka siapa sebenarnya yang mendapat didikan baik dari kenyataan ini, karna yang ada hanya paranoid terhadap penguasa, hidup dalam tekanan. Tak salah mungkin jika ada orang yang membeci kalimat “kegagalan adalah awak dari kesuksesan”. Karena kata-kata itu adalah bentuk kepesimisan yang dilapisi dengan semangat pembenaran kegagalan. Ada baiknya mungkin tak ada kata kegagalan dalam hidup ini, sehingga tak perlu dirangkai kalimat “kita akan bangkit kedepan”, kedepan, kedepan, dan kedepan. Kita akan menang kedepan, kedepan, dan kedepan. Entah dimana garis “finish” kedepan itu.
Ini memang permasalahan kata, siapapun berhak berkata-kata.
Tapi ini negri kita, benarkah? Teringat dulu ~sederhananya~ setiap senin ketuka sekolah dasar, sekolah menengah, atau akhir dan untungnya tidak ada lagi sekarang ketika kuliah. Setiap pagi senin setiap sekolah pasti mengadakan upacara penaikan bendera dengan lantunan lagu Indonesia raya, sebagai symbol nasionalisme, cinta tana air. Sedikit penggalan liriknya “…indonesia raya, tanah airku,..tanah tumpah darahku.. disanalah aku berdiri,..” ya,, disana, disanalah aku berdiri, disana. Dimana? Dimana sebenarnya tanah airku? Kita bernyanyi, berdiri disini yang ternyata bukan disana.
Wajar serba ironis. Karena disana itu adalah bangsa bermoral, menjunjung tinggi hak asasi setiap warga, budayanya beragam, tak miskin identitas, menghargai segala perbedaan, jujur, adil, dan pastinya lebih bermartabat. Tapi, itu disana, entah dimana. Masih diawang-awang. Wallahu'alam.....
Bukan menyalahkan W.R Supratman dalam meciptakan lirik lagu ini, malah beliau sangat objektif dalam merangkai kata-kata. Karna memang kita belum berada pada negri yang selalu tersebutkan dalam buku-buku pendidikan kewarganegaraan dan buku-buku nasionalisme lainnya.
Semakin hari semakin membingungkan saja ternyata, terkantung-katung tak jelas arah, kenyang dengan tawaran-tawaran utopis mereka yang punya kaki panjang. Harusnya, jika memang setengah hati, jangan pernah tawarkan, kosong!
Lampanah, 2010
"Miniatur Nuh” refleksi Tsunami, 26 Desember 2004, Antara azab dan ujian)
Diposting oleh Maulidar Yusuf Atjeh"Miniatur Nuh” kata guruku (refleksi Tsunami, 26 Desember 2004, Antara azab dan ujian)
Ingatkah kau kawan?
Tentang romantika berabad-abad silam, ada cinta disana, ada luka disana, ada lara disana
Saat bahtera akan berlayar, ada cinta terpaksa dipangkas
Bukan karna terlalu panjang, namun karna Tuhan tak ridha
“selamat tinggal sayang…."
"Aku tetap harus berlayar tanpa kalian” kata Nuh penuh derai air mata
“kering sudah air dimulutku mengiba, kini terpaksa ku harus ikhlaskan, air dari Tuhanku menjemput mu sayang, kalaupun aku harus menangis. Aku berharap tetesan –tetesan ini tak akan menambah arus gelombang yang akan menyelimuti malam dan hari terakhir kalian, istriku, anakku,,, terlambat sudah,,” rintih Nuh.
Terpaksa Nuh mengiba, dan mengadu pada Tuhannya
“Ya,,, Tuhanku, Dan sesungguhnya setiap kali menyeru mereka untuk beriman agar Engkau mengampunin mereka, namun mereka memasukkan anak jari mereka ketelinganya, dan menutup bajunya ke wajah mereka dan tetap mengingkari dan menyombongkan diri. (Q.S Nuh :7)…………….”
“Tuhanku,, berbagai cara telah ku lakukan, tapi mereak tetap tak mau membuka sedikit mata hati mereka, terhadap Engkau yang menciptakan langit yang berlapis-lapis, lalu menurunkan hujan yang tak hanya dari langitpun Engkau mampu. Mereka lupa duhai Tuhanku, tak cukup titah penghambaan dariku pada mereka untuk-Mu,, kalam-Mu tak cukup untuk mereka sadar, Engkaulah yang harus disembah…!! Mereka sepertinya butuh azab_mu”
“ selalu ku berkata,,,mohon ampun pada Tuhan-mu, sungguh, Dia Maha Pengampun, jika tidak niscaya Dia akan menurunkan hujan lebat dari langit kepadamu,(Q. S. Nuh 10-11)”
“ Ya Tuhan-ku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku.(Q.S . Nuh:21)”
Bahtera itu pun akhirnya berlayar, berhari-hari, berminggu-minggu…
…
Lihatlah kawan, apa ini??!
Saudaraku, Lihatlah,,
Ini bukan sekedara kayu lapuk, tuha, bahkan kau kira tah berharga.
Ini bukan sekedar pajangan yang kau tonton, bukan sekedar pajangan yang kau masukkan kedalam pigura-pigura perak.
Tapi buka mata hatimu,,
Untuk sepersekian waktu saja kembali kemasa lalu.. ini mungkin sepersekian dari bahtera Nuh masa silam!!
Ini bahtera Nuh,,,!!
Ini miniature bahtera Nuh…
Meski tak seutuhnya persis..
Tapi kau harus tahu, Tuhan murka!
Ketamakan, keserakahan, kemunafikan, kebohongan, angkuh meraja dibumi Nya,, saban hari, saban waktu angkara semakin tajam menyibak taring!! Tanpa belas kasihan,,, Tanpa malu,. Terus bersetubuh bersama nurani
Saatnya menginjak,,! Saatnya memangkas…!!
Seolah itu titah alam yang tertulis didinding-dinding jagat ini, kabur sudah nurani, kabur bersama kejayaan..
72 bulan berlalu,,
Terhadap ikan-ikan yang menggelempar, terjemur tanpa tuan, dedaunan merenggang, pasir-pasir mengangga, dan mayat-mayat berhamburan dari berbagai penjuru, hingga lelah Izrail mencabut nyawa untuk setiap detik seribu nyawa, hingga tak sempat Izrail menata urut siapa pertama yang yang harus berada pada urut pertama kematian.
Semua terlalu cepat, tapi kita tahu Izrail bukan malaikat bodoh
Dia tahu, lidah mana dalam setengah detik seribu nyawa yang masi basah dengan Asma-Nya,.
Dia tahu, tuhan-tuhan apa yang kita sembah setiap waktu, dia tahu apa yang pantas untuk kita
…
6 Tahun, tak cukup untuk kita mencari puing-puing nurani,,
Diantara puing-puing tsunami yang saban hari mulai tertata lagi,,
Atau memang air bah, lumpur belerang itu tak cukup untuk menjadi peringatan agar kita utuh merajut jala toleran tanpa anarkis, tanpa tiran-tiran
Atau memang tangis di gubuk-gubuk tua itu adalah nyanyian untuk kita, agar semakin nyenyak terlelap dalam
mimpi diatas bantal sutra bersulam emas sulaman cacing diperut mereka,, setiap hari, setiap waktu…
Haruskan kita tunggu, miniature-miniatur Nuh lain tercipta untuk sebuah perubahan, untuk memberi sedikit makan
cacing diperut mereka
Haruskan tsunami datang lagi, menghibur kita, agar ada goresan damai sehari diatas kertas(lagi)
Lampulo, 26 Desember 2010
Part one
Hal yang membuat kita menyadari bahwa kita ada adalah perbedaan, karena perbedaan adalah kata yang telah banyak membantu kita menyadari keeksistesian sebuah keberadaan., baik suatu benda, sifat, atau lain sebagainya bahkan hal-hal yang tidak konkrit sekalipun. Bahkan keberanekaragaman lah yang membuat kita menjadi bangsa yang kaya, dan dalam islam sendiri perbedaan adalah rahmat Tuhan yang harus disyukuri dan dicerdasi dengan intelektual yang tidak memihak pada kepentingan diri, galongan atau sebagainya agar tidak terjadinya konflik-konflik seperti penomor duaan oranglain hingga muncul system-sistem patrialkan tanpa sadar dan berefek pada pengusiran tanpa sadar mereka (golongan te rtentu) dari wilayah, hukum, agama, filsafat, ekonomi, politik dan lain sebagainya, dengan dibatasi atau dikekang secara fisik maupun akal dibawah kekuasaan yang lainnya. Dan hal ini sudah dilegalkan tanpa sadar dan melekat dalam pikiran semua orang, laki-laki dan perempuan, sudah diwajarkan.
Namun berbicara masalah perbedaan, saat ini memang topic keperempuanan sedang hangat dan selalu menjadi topic pembicaraan, disamping pembahasan isu-isu social lainnya, bahkan ada beberapa universitas didunia yang mengangkat secara khusus tema feminisme atau hal yang berkaitan dengan perempuan sebagai materi kuliah khusus. Bahkan secara local pun dapat kita rasakan sendiri wacana-wacana seputar keperempuanan yang tidak hanya muncul dari perempuan sendiri, namun laki-laki pun tak kalah banyak beranggument dalam hal ini, terlepas dari penyaluran hasrat provokasi atau penengah dari brbagai polemik yang sedang menjamur.
Beberapa hari yang lalu terjadi pebicangan yang puntung antara saya dan beberapa rekan-rekan saya, hingga akhirnya sekarang saya berniat mengajak teman-teman semua untuk sedikit meluangkan waktu untuk mencerdasi bersama kontradiksi yang selalu terjadi terhadap makna keadilan, kebebasan, hak-hak, dan lainnya dalam realita yang sering berbenturan dengan nilai-nilai moral /kehormatan, agama, dan lain sebagainya, hingga muncul statment-statement “aneh” disekitar kita, seperti “Berarti memang benar perempuan itu derajatnya dibawah lelaki, lihat saja agama membenarkannya”. Saya mengatakan “aneh” dalam tanda kutip, artinya sulit bagi saya untuk menganggapnya suatu hal yang wajar, apalagi disandarkan pada agama, karena pada dasarnya agama bukanlah pengekangan, penindasan, namun agama adalah keadilan dan kebebasan.
Lantas mengapa harus mengatakan hal-hal seperti itu? Saat ini kita sering berada pada landasan yang labil dalam menyingkapi berbagai persoalan, dan hal yang bisa mengatasi ini semua adalah hanya dengan memahami betul-betul makna dari perbedaan yang diberikan Tuhan, yang sebenarnya dengan bersama-sama kita bisa membentuk kekuatan besar yang nantinya bisa peradaban yang lebih baik, bukan terus menerus saling menilik kelemahan diantara keduanya.
Hal yang perlu diingat dan dipahami benar-benar seharusnya adalah kita berbeda bukan dalam konteks baik-buruk, tapi hanya berbeda untuk saling melengkapi.
Jika banyak orang yang mengatakan bahwa perempuan itu walau bagaimanapun tetap makhluk yang kedua dimuka bumi ini, apapun yang mereka lakukan, semua, tetap saja mereka harus selalu dibawah kaki laki-laki, artinya pandangan seperti ini secara tidak langsung kita membenarkan konsep gereja/barat yang mengatakan perempuan adalah dewi primitive yang dalam hidupnya tidak perlu berbuat lebih, karena tugasnya hanya terdiri dari lima fase; melahirkan, menyusui, menjadi ibu, menoupouse, dan mati.
Lalu hal yang tak jarang kita dengar juga adalah “bukankah penghuni terbanyak dalam neraka itu adalah perempuan”, “perempuan tak perlu terlalu bebas bergerak”, “perempuan racun/penghancur moral” itu artinya secara tidak langsung perempuan itu adalah makhluk terkutuk, apalagi dari awal penciptaan Hawa pun telah menyepak Adam dari keluar dari kenikmatan syurga sebab ulahnya. Olek karena itu sudah seharusnyalah semua perempuan menanggung beban –kutukan- harus melahirkan, harus menahan rasa sakit dan menjalan berbagai kehidupan yang sulit-sulit.
Jahilyah, Grail dalam gereja sendiri awalanya merupakan symbol keperempuanan yang kemudian dibalik konsep oleh gereja sendiri, dalam artian perempuan harus disingkirkan karena ini menyangkut keberadaannya yang sering lebih banyak dan mengancam eksistensi laki-laki. Hingga akhirnya dirancang konsep dosa asal mecicipi apel dan jatuhlahlah ras manusia, karena perempuan adalah golongan yang telah menghapus kehidupan suci, maka mereka tak perlu untuk ada didepan, malah masa jahilyahpun perempuan dikatakan hanya membawa petaka hingga akhirnya dikubur hidup-hidup.
Di Aceh, dalam konflik Aceh sendiri seolah ada penekanan terhadap ranah-ranah public terhadap perempuan selama 32 tahun. Hal ini telihat dengan penghilangan secara sistematis politikus-politikus perempuan hingga muncul pandangan bahwa perempuan tidak mempunyai kualitas dalam berpolitik, dan bahkan banyak sekali kasus yang merugikan perempuan semasa konflik yang sampai hari ini tidak diproses lagi, dibiarkan mengambang. Padahal dalam sejarah kejayaan Aceh juga tidak terlepas dari peran perempuan-perempuan yang tidak membiarkan dirinya, agamanya,bangsanya tertimbun ketidakadilan
Dalam agama Islam sendiri, tak ada perbedaan antara derajat laki-laki dan perempuan, semua sama seperti “gigi sisir yang sederajat” (hadits) dan tentunya yang membedakannya hanya iman dan ketaqwaannya kepada Tuhan. Agama adalah keadilan . Bukan hanya sekedar kumpulan kertas-kertas yang berisi aturan-aturan yang dirancang oleh manusia-manusia yang diterbitkan, diperjual belikan, disiarkan demi kepentingan pribadi. Kebebasan, keadilan, dan persamaan dalam konteks yang normative itulah agama. Serta ukuran kehormatan antara laki-laki dan perempuan harusnya dipandang sama pula, artinya dalam standarisasi yang satu, jika tidak hilang makna akan kehormatan itu sendiri jika hanya menekan satu pihak.
Oleh karena itu, selayaknyalah pemahaman klasik terhadap dualisme keadilan dihilangkan, agar marginalisasi terhadap golongan tertentu dapat dihapuskan meski sudah seperti warisan sejak zaman perbudakan yang sudah melampaui batas dan terus berbekas pada setiap generasi, hingga timbul penindasa-penindasan yang dilakukan secara sadar maupun tidak. Serta untuk melawan neo-kolonialisme dalam tatanan dunia global saat ini dibutuhkan perjuangan bersama-sama, bukan saling membudakkan. Agama adalah kartu penting dalam hal ini, agar perempuan tidak dianggap sembagai alat dalam mesin kapitalis didalam dan diluar rumah di era neo-imperiaisme saat ini. Agama, politik, ekonomi tidak mungkin dipisahkan, dan agama tidak menjadikan kemungkaran sebagai kebaikan dan kebaikan sebagai kemungkaran.
Rasulullah sendiri telah menghapuskan konsep perbudakan dalam islam, karena derajat semua oreng adalah sama, setiap orang memiliki hak hidup dan berhak mengaktualisasikan hidupnya sesuai dengan aturan-aturan yang wajar dalam agama. Sebagai agama fitrah dan rahmat untuk sekalian alam sesuai dengan kalam Tuhan yang artinya “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain” (Q.S.At-taubah: 7) jelas tak ada perbedaan antara keduanya kecuali kemampuannya memikul tanggung jawab dan ilmu.
"Kurueng Baja"
Diantara pekikan nyiur yang melambai ayu, matahari pun dengan gagahnya semakin memercik bara cahaya, segerombolan elangpun terus mengepak sayap kembali keperaduan. Pantaiini semakin gersang, bangkai-bangkai kapal nelayan masa lalu bagai ranting tuayang tak habis dibakar masa, deru ombak semakin pilu merintih, seolah luka tua terus memburu bersama daratan.
Gadis berkerudung putih itu, berbaju hitam lusuh, bersarung merah kumal tak beralas kaki yang sejak tadi menyisir pantai tiba-tiba menoleh kearahku yang terlanjur terus memerhatikannya dari kejauhan. Wajahnya tetap ayu meski gurat sendu tak bisa tertutup juga, ada lubang dimatanya yang seolah meredam seribu gemuruh, membuat jantungku sedikit tertahan berdetak, namun ada hal yang paling membuat aku risih yaitu hidungnya, mancung. Mengigatkan aku pada sosok 'terindah' sekaligus 'terkeji' dalam hidupku, yang menjadi ladang aku lahir didunia, entah siapayang menanam benih.
Gadis itu semakin mempercepat langkahnya, tanpa sadar aku kehilangan jejaknya. Siapa "dara" itu....
***
Hari ini hasil pencarian kami benar-benar tak mendapat apresiasi menarik dari publik modal,terbukti dengan penawaran yang setengah dari harga biasanya. Dalam sepekan terakhir ini hasil tangkapan nelayan didaerah ini sedang sangat membanjir, maka sudah menjadi hal yang wajar jika hargapun mengalami penurunan. Hal ini biasanyaterjadi jika musim timur tiba, karna memang letak geografis daerah kami inihanya membutukan musim timur untuk mendapatkan hasil yang banyak selain jikabulan gelap tiba, atau biasanya diawal-awal bulan hijriah dan akhir-akhir bulanhijriah, namun kali ini sangat aneh, sudah berbulan-bulan hasil tangkapan kamiterus membanjir tak mengenal jadwal. Sebenaranya ini rahmat, tapi ketika aku melihat elang-elang selalu mengintari kami, firasatku terlanjur berbisik lain,bukan aku tak bersyukur. Ini benar-benar diluar kebiasaan.
Banyaknya ikan seharusnya roda perekonomian pun semakin maju, tapi kali ini kenyataanya sangatironis. Setelah hasil tangkapan ikan kami dipindahkan ke raga-raga[1],urusan pendistribusian berikutnya diatur oleh orang-orang yang sudah menunggu kedatangan kami berhari-hari didarat. Konsep dagang blo siploh peu bloe sikurung didalam rueng ta cok laba[2]dan sudah pasti pemegang keuntungan terbesar adalah mereka yang yang mempunyai modal besar. Konsep Adam Smith, tak perlu susah-susah dipelajari, bermuluk-mulukdengan kata-kata dibuku, seiring waktu memang hasrat manusia yang cenderung matrealisme dan hedonisme dapat dengan mudah kerasukan teori dagang kapitalisme, apapun alasannya, ini realita yang kaya akan terus kaya, yang miskin akan terus miskin jika ini terus-menerus mengakar, apalagi akarnya rizombium, menjalarnya sangat mudah dan cepat.
Siapa yang mempunyai langkah panjang, teknik menglobi yang lihai, uang awal yang banyak.Mereka bisa langsung menjumpai kami selepas kami memarkirkan boat kami dipancang[3],kemudian menukat uang dengan ikan kami. Kami memang harus pasrah kemana hasil tangkapan kami akan mereka bawa dan berapa harga yang mereka jual, karena mustahil kami juga yang turun untuk mendistribusikannya.
Sudah kebiasaan kami hasil penjualan ikan ini, setelah aku bagikan kepada awak-awak boat ku,yang sudah bersama-sama denganku berhari-hari menantang malam, bersetubuh dengan angin laut, dan membiarkan matahari menertawakan kami di pagi hari, tak heran jantung pun terus dikelitiki oleh ombak, apalagi jika lumba-lumba muncul, karena katanya lumba-lumba adalah hewan laut yang sangat baik hati dan akan memberi aba-aba pada manusia jika akanadanya bahaya, dan kami pun harus waspada jika nantinya sekali-kali waktu Tuhan menyentil boat kami, kami tenggelam, dan keesokan harinya segerombolan orangmengerubungi jasad, bangkai kami pun kami akan membuat panik orang di kampungentah berantah itu. Ini memang konsekuensi bagi kami, bagi awak-awak kapal kumemang ini pilihan hidup mereka untuk dapat menyambung nyawa istri dan anaknyadidarat, rela mereka menyerahkan hidup kelaut yang walaupun Tuhan ciptakan nyata tapi tetap penuh misteri. Tak ada kepastiaan hidup disini ketakutansebenarnya sangat nyata dengan tak ada satupun diantara kami yang bisaberenang, kami hanya bisa satu gaya renang yaitugaya batutenggelam. Plung. Innalillah.
Tapi kata awak kapal ku, inibagian dari ibadah mereka, apapun yang akan terjadi nantinya mereka sudah pasrahkan diri selama ini adalah jalan yang halal dan Tuhan pun ridha terhadap pekerjaan ini
Aku memang tak sepenuhnya sama tujuan dengan awak-awak kapalku. Aku bebas, jangankan punya istri atau anak, ibu bapak pun aku tak punya. Aku tak pernah tahu dimana ibukudan siapa bapakku, tepatnya aku sudah tak ingin lagi tahu dimana mereka. Umurkumemang termasuk muda, berkepala dua setengah pun belum, seharusnya aku takperlu menyerahkan keperawanan jasadku pada ketidak pastian alam, laut. Tapi ini boat ku, aku beli dari uang yang aku sendiri tidak pernah tahu dari manaasalnya. Sebelum aku berpisah dengan keluargaku, maksudku ibuku, ia menitipkan beberapa lembar kertas dan nama seseorang, tanpa sempat bertanya lebih lanjut kemana ibuku akan pergi. Kertas-kertas itulah kemudian tersulap menjadi uang-uang yang sangat banyak. Akhirnya selama delapan tahun berikutnya pun aku memulai drama kehidupanku seorangdiri.
***
Teringat delapan tahun silam...
Malam itu tepat pukul 02.08 Wib, seperti biasa aku masih menunggu ibuku pulang, menyakitkanmemang jika mengigat siapa aku sebenarnya, lewatlah sebuah mobil mewah menembus batang-batang bambu kuning didepan rumahku dan kemudian berhenti tepat dipintu rumahku, sudah hal biasa jika yang keluar dari sana adalah ibuku dan setiapkali dia pulang seolah dunia mengutukku dengan tusukan duri-duri racun namunaku tetap tak bisa berbuat apa-apa, tapi malam ini ada yang lain, raut wajah ibuku cemas sangat jelas terlihat diwajah yang sebenarnya tanpa ditampal bedak tebalpun sudah cantik, kali ini wajahnya tidak merekah seperti biasanya, bukanaku tak pernah berontak dengan sikap dan perkerjaannya ini, pulang tengah malam dengan belang-belang yang berbeda setiap malamnya. Sebagai anak laki-laki aku selalu merasa terhinakan disaat tak bisa berbuat apa-apa pada orang yangkucintai ini.
Harusnya aku sudah bisa membantu membiayai kehidupan keluarga kami (yang memang hanya ada aku danibuku), usiaku 14 tahun bukan usia kecil lagi kan? Dibandingkan membiarkan ibuku terus menerus berada dalam cengkraman belang bernafsu elang. Tapi dengarkan apa kata ibuku "..aku lakukan ini semua bukan tidak ada tujuan, kau harus sekolah tinggi, dan mengaji agar kau tahu cara berdoa yang mungkin kau bisa membantuku sedikit nantik ketika dineraka..hahhah...Dan kau harus tetap sadar bahwa harga diri itu tidak cukup dengan uang, jaditak perlu kau turut mencari uang. Kau lihat aku, aku seperti ini bukan mauku,kau harus buka mata dan pahami bahwa tak ada wanita yang ingin menjadi dan diperlakukan seperti aku dengan ikhlas, aku tahu ini dosa, aku biarkan Tuhan bebas merajamku selamanya dineraka, asalkau tak ikut terjilat sedikitpun, jadikau harus berilmu. Sudahlah jangan banyak tanya lagi, sudah hampir magrib ini,mana sepedamu, ambil ini uang bebrapa lembar kemudian berikan pada tengku[4]mu.."
Aku memang disekolahkan ditempat yang bagus ketika itu, namun tak ada yang tahu indentitasku, walaupun namaku sering berubah-rubah namun tetap tak ada yangcuriga, tak ada seorang pun yang bertanya siapa nama ayahku, aku tak mengerti mengapa ibuku bertindak seperti itu. Dengan uang yang dia punyadan kecerdikannya aku benar-benar bisa menikmati dunia pendidikan. Akupun tinggal didaerah yang tak ada tetangga seorang pun, jauh dari bisik-bisik radiobergigi, dan adalah hal biasa didaerah ku tinggal jika seorang perempuan menghidupi keluarganya seorang diri, ini adalah hal yang lumrah, mengingat konflik yang aku sendiri tak pernah tahu kapan akan berakhir dan juga konflik ini membuat anak laki-laki tak bisa bertahan lama hidup, aku pernah berfikir,fir'aun telah muncul lagi dijaman modern ini, dan menyuruh membunuh laki-laki.Entah bagaimana wajah fir'aun modern itu. Karena pembunuhan kali ini tidakhanya menggunakan senjata, namun termasuk didalamnya pembunuhan karakter, akupun tak yakin aku akan bisa hidup sampai menikmati hari tua.
Rumahku tepat diujung jalan setapak bekas peninggalan belanda, masih belum terjamah program pembangunan pemerintah, tepat dibalik pohon bambu kuning yang sengaja ibukutanam sebanyak-banyaknya, aku tak mengerti maksudnya padahal dibalik itu adatanaman mawar dengan beragam warna, bukankah itu lebih indah untuk dilihat. Inipikiranku, beda dengan pemikiran perempuan ini yang sangat kukuh dengan pendiriannya. Sekali A tetap A. Terserah benar atau salah, selama dia mengambil keputusan dia akan konsisten dengan itu. Jangan harap bisa kita ubah. Walau akhirnya yang dia dapatkan adalah rugi. Ibaratnya sihet bek tapi roe bah mandum[5]
Aku dipaksa untuk terus bersekolah, memenuhkan otakku dengan ilmu. Pagi hari aku pergisekolah menuntut ilmu dunia, sore sampai malam hari aku belajar agama didayah[6]dikampung seberang, yang santrinya tidak hanya berasal dari kampung itu saja,namun juga dari berbagai daerah, karena memang ini adalah pesantren yang didirikan oleh seorang ulama besar yang sempat menjadi qadhi pada masa pemerintahan putridari Sultan Iskandar Muda, ia adalah ulama pertama yang mengizinkan perempuan menjadi pemimpin tertinggi negara.
Sebagai ulama besar tasauf yang sudah menuntut ilmu diberbagai wilayah islam didunia ia pastipunya alasan khusus mengapa ia mengizinkan Safiatuddin menjadi ratu dinegaraIslam
Selama aku menuntut ilmu disekolah atau dayah, aku termasuk murid yang cepat menangkap pelajaran jangan heran jika aku sempat menjadi produk akselarasi pendidikan.Aku dengan cepat bisa menamatkan sekolah dan sempat melanjutkan nya kebangku perkuliahan, jika bakan karena sesuatu hal, mungkin hari ini aku sudah sarjana.
Masih kental dalam ingatanku kejadian malam itu, malam terakhir aku melihat ibuku, dia pergi dengan titipannya, dan malam itu adalah malam terakhir aku melihat wajah menornya. Pesan terakhirnya jangan pernah mencoba mencari dia karna itu akan membuat masa depan didunia ku suram, dan jangan pernah mencari dosa karna aku pastitidaka akan sanggup menahan kesuraman akhiratku. Ibuku memelukku terakhir dan kemudian buru-buiru pergi dengan keringat dingin yang terus menguncur diwajahnya dan bau amis darah tercium dihindungku, ada apa ini sebenarnya.
Dia pergi..
Sudah delapan tahun ini aku benar-benar tak pernah mencari tahu tentangnya, aku benar-benar jijik padanya yang selalu membiarkan dirinya dibelai oleh para belang-belangtolol yang tidak bisa memanfaatkan hartanya dengan baik, memang kelas ibukubukan kelas rendahan, rata-rata yang menjemputnya adalah mereka para penguasa yang sering terlihat di media-media entah dari golongan pekerjaan apa tapi yang jelas mereka punya uang banyak tapi kasihan, istrinya pasti selalu sibuk berkarirhingga suaminya mencari ladang lain. Aku pernah baca profil-profil istripejabat, pengusaha atau orang penting lainnya, rata-rata memang bukan perempuan biasa. Tapi benar-benar luar dari kebiasaan bersikap sebagai istri.
Ah entahlah...
Aku tak mau terlalu jauh berspekulasi, ibuku selalu bilang ketika ruh perempuan ditiup kejasadnya tak pernah ia meminta untuk hidup sebagai pelacur. Ini sudah takdirkatanya, Tapi menurutku, selama aku belajar walaupun takdir harus dijalani oleh manusia, tidak menutip kemungkinan nasi bisa berubah. Aku pernah menghafal sebuah ayat yang artinya " Allah tidak akan merubah suatu kaum jika mereka tak merubahnya sendiri"
Aku benar-benargerah, aku mununtut ilmu siang malam, aku tinggal di daerah syariat yang harumnya mendunia, tapi kenyataan sangat tak sipadan. Pelacuran disini memang sudah ada sejak zaman penjajahan dulu, tapi entah mengapa penghinaan terhadap negri syariat itu semakin menjadi-jadi. Termasuk apa yang dilakukan ibuku.
Ibuku pernahmelanjutkan kata-katanya, "para kaum adam diciptakan sebenarnya untuk melindungi kaum hawa, tapi sekarang mereka malah memanfaatkan hawa yang lemah sebagai sarana penyaluran birahinya, kau harus ingat nak, jangan pernah memanfatkan perempuan!! Apalagi mereka yang berada disituasi terhimpit ekonomi,imamnya tipis, ilmunya sedikit, kau harus sayangi mereka. Ibu mu ini memang sudah sangat-sangat kotor...jangan kau ikuti, cukup dengarkan apakata tengku dan guru mu,, ingat! Jika kaupunya istri kelak jangan terlalu kau korek masa lalu dia, tapi kau harusmembantu menompang dia untuk masa depan yang lebih bermartabat, atau jika kaubertemu dengan perempuan lemah, jangan kau injak-injak lagi mereka! Andaikata adaperempuan kuat, tak perlu kau kira mereka akan menyaingi mu.. kau harus tahuhanya saja mereka tak ingin ditindas! Kau jaga baik-baik anak perempuanmu,sumpal otak mereka dengan ilmu agama!! Jangan lengah atau kau akan benar-benar menyesal untuk kedua kalinya. Setelah terlahir dari rahimku..."
Aku sempat berfikir apa yang terjadi ini bukan murni salah perempuan seperti ibuku, karena sebenarnya laki-laki jauh lebih salah dengan memanfaatkan perempuan sepertiini, tidak seharusnya memang permasalahan pelacuran itu hanya dibebankan pada perempuan, bukan hanya mereka yang seharusnya bertanggung jawab atas penghinaan negeri syariat ini.
Kembali aku teringat pada "dara" dipantai kemarin, ada apa dengan dia, mengapa wajah ayunya begitu sembab, sendu, mengapa kakinya terlalu haus berjalan terlalu cepat. Aku memang talk pernah dekat dengan perempuan selain ibuku, tapi ini bukan berartiaku tidak akan mendekati perempuan itu, percayalah aku ikhlas, aku ingin membantunya menghapus sembabnya agar dunia tahu bahwa dia benar-benarmempesona..
Aku tahu ibu kubukan tidak bisa keluar dari semua itu, tapi ia memang tak punya penompang yangkuat. Dunia yang gelap bukan dunia yang tak memiliki lampu.Aku sayang ibuku.
Aku membayangkan ini semua tidak akan pernah terjadi, seandainya tidak ada mitos permasalahan keperawanan pada perempuan, sedangkan keperjakaan tidak penah dipersoalkan, andai takpernah ada asumsi bahwa perempuan yang sering diluar rumah apalagi malam hari adalah perempuan tak baik, sementara laki-laki tak pernah dipersoalkan.Stigmasi dan diskriminasi. Akupun pasti tak akan penah terlahir dari rahim pelacur. Mungkin ibuku frustasi dengan hal-hal seperti itu. Namun aku tak juga ingin terlalu membenarkan dia, karena memang iman dan taqwa ibuku yang lapuk,rapuh. Disaat dihancur, melacur adalah solusi menurutnya.
Dalam hidupku tak akan aku biarkan ada lagi perempuan yang tersiksa seperti ibuku. Aku tahu mereka makhluk lemah, tapi mereka harus tetap sadar bahwa mereka bisa untuk tak membuat diri sehina itu selama mereka punya kemauan yang kuat dan keyakinan bahwa hidup bukan sebatas pelampiasan amara dan nafsu.
***
Andai aku bisa berjumpa lagi dengan "dara" itu. Aku harap aku bisa memaafkan ibuku, yang selama ini telah aku peti matikan yang selama hidupku, karena sudah menoreh hikayat menjijikkan dihidupku. Aku tak mengerti perempuan. Yang rela menjual diri demi aku katanya, tapi haruskah ini menjadi jalan terakhir, apakah memang tak ada jalan lain. Benarkah kata-katakoen bak kaye yang han tem timoh, kadang cit tanoh kurueng baja[7], inibukan kemauan dia.
***
Senja ini dibawah payung langit,aku tahu banyak sayap-sayap kalian yang patah
Lalu hilang arah tuk sekedar menetap diri
Bangkai-bangkainya pun terlanjur dikerubungi elang buas penuh birahi
Tapi aku tak yakin sebegituburamnya takdir
Andai mereka coba sedikit sajamembuka mata
Tak biarkan diri dicakar-cakar hingga wajah seolah tak bernyawa lagi
Pasti tak ada cahaya yang hilang
Tak perlu menangisi kodrat, takperlu mencaci hasrat, tak pelu mendekam diri, kalian harus tahu siapa kalian!!
Digenggaman kalian negri ini tegak berdiri
Jangan terlalu lemas mengenggam!Karna jika roboh kami dan kita semua akan terjepit
Jangan pula terlalu keras kau cengkram, aku takut kau lupa diri dan sewaktu-waktu kau akan lelah dan semuaakan terabaikan dengan sendirinya.
Semua bisa jika bersama
Dengarkan janjiku duhai kaca yang berdebu
Akan aku ajarkan pada mereka cara membersihmu
Sangat tolol mereka yang terlalu keras membersihkan, karna kau akan cepat retak
Tapi betapa bodohnya lagi disaat mereka terlalu lembut, tak sadar kau akan tergores, kabur, keruh
Lampulo, 11 Ramadhan1431 H
"Kurueng Baja"
Meutia Yusuf
[1]Keranjang ikan
[2]Maksudnya mengambil keuntungan dalam kerugian
[3] Tempat pemberhentian ikan, hampir sama dengan pelabuhan.
[4] Orang yang berilmu agama, disini adala mereka yang mengajar mengaji
[5] Artinya jika sudah maju tidak pantang mundur
[6] Tempat belajar ilmu agama, sama seperti pesantren.
[7]Kesalahan yang bukan murni disebabkan satu alasan
Cinta Pertama Dan Terakhir
sebelumnya tak ada yang mampu
mengajakku untuk bertahan
di kala sedih
sebelumnya ku ikat hatiku
hanya untuk aku seorang
sekarang kau di sini hilang rasanya
semua bimbang tangis kesepian
kau buat aku bertanya
kau buat aku mencari
tentang rasa ini
aku tak mengerti
akankah sama jadinya
bila bukan kamu
lalu senyummu menyadarkanku
kau cinta pertama dan terakhirku
sebelumnya tak mudah bagiku
tertawa sendiri di kehidupan
yang kelam ini
sebelumnya rasanya tak perlu
membagi kisahku saat ada yang mengerti
sekarang kau di sini hilang rasanya
semua bimbang tangis kesepian
bila suatu saat kau harus pergi
jangan paksa aku tuk cari yang lebih baik
karena senyummu menyadarkanku
kaulah cinta pertama dan terakhirku
...
Ini pilihan diatas ketentuan.
Aku tak bisa mengelak lagi, ini numenaku
Aku memang tidak pernah tahu dimana letak ketinggian iman ku
Yang ku tahu hanya ada selembar, lembaran tipis, batasan kesucian dan kehinaan yang masih ku punya, tipis sekali, bak ari diatas air
Andai angina berhembus, sayup pun, ia kan retak
Dan baur kan segalanya..!!
Prahara ini begitu besar, walau ku katakana tak ada masalah dengannya
Kenyataannya dia terlanjur memenuhi isi otakku
Dan lambat laun paradigma hidupkupun akan berubah
Tusukannya tepat menyentuh saraf-saraf bathinku, gerangku menegang..!!
Ringkihku disudut ini sungguh menyakitkan!!
Aku benar-benar tak dapat fungsikan photoceptor- ku lagi dengan sempurna,,
Antara hitam dan putih, nyaris tak ada beda lagi bagi ku, untuknya
Andai bulan membuka rahasia imaginasi masalalu ku
Dan tabir kisah berabad-abad lalu tentangnya pun tersibak, dia terlanjur ada daripada tercipta..
Milyaran kisah tlah mengalir tentanggnya dalam maya ku, hingga akhirnya dia benar-benar Kau cipta,,,
Ughhh,,, andaikata bulan pengkhianat rahasiaku,, sungguh aku akan begitu malu untuk ada..
Walau sebenarnya aku ingin dia bertanya pada bulan, dan bulan tak perlu berkhianat.
Dan hari ini
Lihatlah…..!!
Sederet gelombang mulai mengusik batinku, mengajakku
Lagi-lagi, menuju lorong hatinya..
Maafkan budak ini Tuhan, terlanjurku berselingkuh dari-Mu
Tuhan, boleh jadi Engkau remukkan tulangku
Seandainya ini bukan sambungan rusuknya..
Aku tahu andaikata ku meminta, melihat ku saja, mungkin tak pantas kau ijabahkan harap ini, tapii,,,,,
Ku mohon, paksakan pengembara cinta itu bertempur diladang ini
Meski tak pantas rasanya,
Ini benar-benar bukan lagi salah waktu, namun adakah kepantasan untukku berteriak
“AKULAH PATAHAN TULANG RUSUKMU, DUHAI……!”
Rabbi,, aku benar-benar lemas sudah, andaikata Kau deretkan orang-orang hina dihadapan Mu, mungkin, tak salah lagi posisiku adalah terdepan
Akulah yang menghunus pedang dan menancap Mu dan Rasul-Mu
Owh,, ya Rabb,,,,
Tubuh ini jauh terhempas sudah, samar adanya dalam alunan
“ALLAHUAKBAR, ALLAHUAKBAR WALILLAH ILHAMD”
“ ANTA YA SALAAM, ANTA YA GHAFUR,,YA ZALJALALI WAL IKRAM”
Ada rindu yang tak pantas ada, aku benar-benar tlah terlanjur berhenti dipersimpangan ini, logikaku pun hilang fungsi
Aku tak tahu apakah masih ada kelayakan untukku berada berada dilereng bukit diantara ladang kurma merah-Mu
Sungguh, kepingan dosa tanpa sadar tlah aku tertawai
Andai rasa ini bersayap pada ampunan Mu
Antara maghfirah dan makhrifat Mu, aku mohon
Izinkan aku Tuhan, agar semua tak sekedar harap, agar jiwanya dapat menggenggam erat bathin ini,,
Meski aku terlanjur awal memulai dar garis start,
Meski inferior ini begitu besar
Ini numenaku
Duhai Penglabuh Cinta, maafkan selingkuhan-Mu ini
Izinkanlah selingkuhan-Mu ini, mencapai garis akhir dengannya
Izinkan akhirnya kelak kami dapat berteduh ditelaga Kaustar-Mu
Meski tanpa kata-kata dari ku untuknya, tapi aku punya Engkau, Tuhan..!
Layaknya budak yang tak henti memohon, Tuhan,,
Jangan larikan aku darinya, dan tak yang lari dan melarikan diri diantara kami,,
Karna semua terlanjur terlayut manja, bak sang ayah…
Aghr,,,,
Aku begitu gamang sudah jadinya,,
Ini porsi kebahagiaan jiwaku yang galau
Padahal, aku hanya ingin merindukan Tuhanku, disetiap detik hidupku tanpa harus melepaskan dia..
Meski tak ada yang pasti apakah dia menggenggan ku
Aku memeng tak akan pernah tahu, karna sampai matipun
“ AKU TAK AKAN BERTANYA, AGAR AKU ADA”
Hanya akan berandai dia lihai melihat, benda perpanjangan otak dan rasa ku yang berada diluar tengkorakku , mataku.
Tuhan,,
Sungguhku tak tahu cara, selain pinta terakhirku ini
“…sodorkan hatinya untukku kelak, ketika abad nyata ini tiba dan ketika abad yang layak itu ada, karna ku tak menggharapkan dia untuk hari ini…”
14 sya’ban 1431, 02.08 WIB….
*akhirnya….
