*Tulisan ini ditulis dalam rangka membantu warga Jepang yang sedang dilanda musibah, Tsunami, dan akan dikirim ke Jepang bersama bantuan-bantuan materil dan moril dari rakyat Aceh ke Jepang dalam " Pray From Aceh To Japan".Semoga bermanfaat dari segi psikologis.
“Jak beulage awak Jeupang bacut,,!!” sederet kalimat perintah yang diucapkan nenekku, aku tak tahu pasti apakah ia sudah pernah ke Jepang atau belum, ataupun setidaknya berjumpa dengan orang-orang Jepang. Karena dalam kenyataan kesehariaannya nenekku dan juga nenek-nenek orang lain yang ada di Aceh sering menyebutkan kata-kata Jepang dalam ucapannya, dan kata-kata initerus diikuti oleh anak-anaknya, cucu-cucunya, bahkan cicit-cicitnya.
Termasuk hari ini disaat nenek menyuruhku mengangkat jemuran karena tiba-tiba saja hujan turun. Secara eksplinsit memang “jak beulage awak Jeupang bacut,,!!” artinya adalah “jalan seperti orang jepanglah dikit,,!”, namun jika dikaji secara eksplinsit artinya adalah nenek menyuruhku untuk bergerak segera mengambil jemuran, lebih bersemangat, serta lebih cepat, lebih serius, lebih gesit. Secara cultural memang masyaraka Aceh sengaja menggunakan kata “orang jepang” untuk menjadi standar semangat dalam berkerja walaupun mereka sempat menjajah negrinya.
Aku bisa melihat ini bukan hanya sekedar kata, karna walaupun mereka adalah mantan penjajah negriku, namun aku pernah ditompang oleh mereka, tepatnya tujuh tahun lalu. Beberapa bulan setelah Aceh luluh lantak karena Tsunami, yang menghabiskan hampir separuh Tanoeh Riencong, tak terkecuali rumahku dan keluargaku. Aku mengira ini adalah akhir dari kehidupan yang berakhir dengan keadaan yang benar-benar tak wajar, karna aku masih hidup dan itu artinya aku harus berdiri lagi, sendiri diantara puing-puing reruntuhan dan mayat-mayat saudara-saudaraku.
Ternyata dugaan aku salah, aku masih punya mereka yang peduli, mereka yang punya mata hati, mereka yang punya uluran tangan panjang yang mau menompang aku dan juga sisa-sisa amuk tsunami. Salah satunya adalah mereka yang merupakan ciptaan Tuhanku yang berasal dari negri matahari terbit, Jepang.
Aku pernah bersama mereka, menjadi salah satu tongkat untukku bangkit, memapahku untuk bersama-sama membangun Acehku, difraksi semangat tak henti-hentinya datang dari mereka untuk ku dan teman-temanku di Aceh untuk terus bangkit dari berbagai keterpurukan, fisik maupun non fisik, semangat untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan, karna hidup bukan untuk kembali kemasa lalu, tetapi masa depanlah yang sedang menanti kita, masa lalu akan menjadi sejarah dan cambuk kita untuk terus bangkit membangun masa depan.
Tahun ini aku tak menyangka Tuhan kembali bertitah pada tsunami, salah satu kuasanya, untuk menyapa Jepang, meluluh lantakkan kota-kota yang ada di Jepang. Ingin rasanya aku kesana, membantu mereka saat ini juga.
Tapi aku yakin, Jepang akan lebih tegar dariku, lebih kuat dariku. Seperti pesan-pesan nenekku, untuk coba mencontohi mereka, Jepang. Jepang yang kami kenal adalah Jepang dengan semagatnya.
Sebuah semangat kebangkitan.
Semangat itu akan selalu ada pada mereka yang yakin bahwa Tuhan menciptakan matahari yang tak akan pernah kenal kata lelah, apalagi menyerah untuk kehidupan, untuk tetap terang dalam berbagai keadaan. Seperti sebuah firman Tuhan ku yang artinya “Bukankah subuh itu sudah sangat dekat.” (Qs. Hud: 81), artinya akan selalu ada sinar yang akan memancar kesenangan, kebahagian, dan kejayaan kepada kita. Seperti pagi dengan mentari yang akan membebaskan malam yang pekat dengan kegelapan.
Musibah dan kesedihan memang bagian dari kehidupan kita, ini merupakan hukum Tuhan yang akan terus berlanjut, apalagi kita tahu bahwa dunia ini bukan tempat yang akan selamanya kekal, bisa jadi hari ini kita membawa berita kesedihan, tapi esok siapa tahu, bisa saja kita yang akan menjadi bahagian dari berita duka tersebut.
Tuhan tidak lupa pula menciptakan ketegaran dan sabar, yang akan mengiring kita untuk membuka mata bahwa segala yang ada dialam ini akan selalu menuntut kita untuk menyadari bahwa Yang Mengambil adalah Yang Memberi.
Assalamu'alaikum...... Saboeh langkah dari uloen tuan munuju mimpi.. lewat kata loen meurangkai, semoga langakah sabe lam berkah..
Pengikut
About Me
- Maulidar Yusuf Atjeh
- Mencoba menjelajah dunia melalui mimpi... saya adalah saya,, dengan segala kekurangan dan kelebihan.. lewat mimpi saya mencoba merajut asa,, entah,, saya terhadap semua yang saya dapat.. kerna semua maya.. tak pasti.. tak nyata... hanya saja saya punya satu keyakinan.. yaitu, apapun yang telah terjadi hari ini,, belum tentu tak berarti, walaupun tak penting... yah,,, walaupun sering bgt aq terbang tapi jatuh lagi,, ehmm,tapi aq selalu berfikir.. kalo jatuh, yaa,, bangun lagi, trs terbang lagi, jth lagi?? yaudah bangun lagi.. eeee jatuh lagi?? istirahat dulu sebentar,, ^_^ terbang lagi... i'll get it!!
Merindukan Tuhan kami...
Bilamana mungkin kami menjadi budak yang bodoh,
Kami enggan mengecup-Nya mesra dalam sujud ini....
Merindukan Tuhan kami...
Bilamana mungkin kami menjadi budak yang cerdas,
Kami bersyukur akan hadiah perasaan cinta dari-Nya...
Hidup kami teramat singkat,
Kami tak mampu berbuat banyak untuk dunia
Kami lemah sebagai pemimpin diri ini. ..
Kami terombang-ambing dalam gelapnya khayalan,
sedang tangan ini sejak tadi belum bertindak
Tuhan, tolong selamatkan ruh kami dalam kuasa cinta-Mu...!!
Lindungi jalan kami.....
Kami lemah,..
12 sya'ban 1431 H
Kau lihat dibajukah?
Silahkan, tapi kasihan, yang ku punya hanya kain bekas, kumal, sumbangan orang, sisa pesta, penuh tambalan, dan kemudian ibuku menjahitnya kembali.
Kau lihat dikulitkukah?
Silahkan, tapi warnanya gelap, kusam, kasar, bahkan mungkin bersisik nyaris seperti…… ah kau saja yang mengatakan seperti apa
Kau lihat dimatakukah?
Silahkan, rabun, meski sudah ku tambah dua lagi
Kau lihat dibibirkah?
Ranum? Mimpi itu! Lihat, merahnya hanya bendungan darah, untung saja belum pecah, muncrat ke wajahmu
Atau ditangan?
Ada apa? Penuh goresan, sayatan pisau, bekas luka yang terajut bersama pinang-pinang yang ku belah setiap petang, kasar dengan kayu bakar yang ku angkut setiap pagi.
Atau malah dirumahku, hartaku…? Haha……………..
Apa yang kau dapat? Kecuali saat kau datang kerumahku, tak pernah lupa kuberi minum dari sumur yang digali ayahku, Ku beri makan dari padi, upahku menggarap sawah
Tapi jangan takut!! Aku jamin Halal
Ada bayam dibelakang rumahku, yang ditanam ibuku, Tak akan ambar, ada garam kiriman nenekku, dan ikan yang dikail ayah ku
Jangan resah, kau takkan menyesal mengenalku, jika kau masih ingin menghargaiku, memberiku kesempatan mengisi ruang kosong yang memang hakku yang tersebebar dijagat ini, memahami bahwa niatku benar-benar tulus, bukan melihatku sebagai sebagai racun.
Dalam gerak statis yang ku punya, pisauku bukan untuk mengiris tampa arah, semua ada arti untuk sebuah peradaban…………
8 Maret
Jika ada sajak yang lebih dahsyat dari pada petir
Kami ingin menyerap seluruh daya listrik yang dimilikinya
Ingin kami gencarkan arusnya diseluluh jagat ini
Agar mereka tahu, sedahsyat itu jiwa kami ingin berontak
Pada cicit kedidi yang tlah lupa akan sayap yang menerbanginya hingga sampai dilubung padi
Pada pinang-pinang kuning yang tak lagi menghargai batang yang pernah bersusah payah merangkak mengalirkan hara
Pada seulanga yang lupa kelopak pelindung masa rapuhnya
Pada mereka yang tak lagi menganggap ada cinta dalam aksara kami, bukan sekedar mencerca tanpa arah
Kamilah para penyair
Tak ada susunan aksara menyerah dalam deret yang kami rangkai
Tak pernah sekalipun kami berkenalan dengan lelah, meski beribu gunung ranjau tlah kami lalui demi sebongkah batu asah
Agar pena kami tetap runcing, tajam
Kamilah para penyair
Yang senja kami selalu gerah kala putih kau nodai
Kamilah para penyair
Meski malam rangkang, bantal, selimut kami kau incar, kami tak gentar
Kami akan terus berputar hingga poros kami sampai kekerak bumi
Kami tetap menjerit dalam lengkingan yang meluruhkan juntai permata dilangit
Agar mereka tahudikerak bumi ini ada kejujuran, kearifan, kebijaksanaan, keadilan, kesetiaan, pengorbanan yang tertimbun , lalu berharap seluruh permata langit tertelan ketika luruh
Kemudian masuk, mendekam dalam perut, yang perlahan akan mengkristal, dan akhirnya kedamaian terperangkap dijiwa kita semua
Inilah maksud kami yang terangkul dalam sajak untuk nanggroe….
Tanoeh Riencong, 9 Februari 2011
Oleh: Maulidar Yusuf
“Singoeh bek tuwo beuh! Jangan lupa bawa mangkuk plastic kecil ya dik, biar gampang latihan..”
“ok kaak…” koor anak-anak sambil berlari pulang.
Pesanku pada anak-anak tari binaanku disanggar agar membawa perlengkapan latihan, kali ini mereka harus latihan ekstra karena akan ada penampilan beberapa hari lagi pada sebuah acara besar di Krueng Aceh, Khanduri Laot. Tarian yang akan dipentaskan adalah tarian ranup lampuan, tarian khas Aceh untuk penyambutan tamu-tamu yang datang dan dalam acara seremonial ditarikan oleh tujuh atau sembilan penari wanita diiringi oleh music “seurunee kale”. Pada akhir tarian para penari menawarkan ranup untuk para tamu sebagai rasa hormat walaupun tidak seorangpun wajib memakannya.
“Dek noeng, kamu saja yang belikan ranup dipasar aceh ya..” kata Novi padakku untuk membeli ranup yang akan diberikan oleh para penari kepada tamu undangan yang akan hadir dalam khenduri laot pada hari kamis ini. Ranup adalah sirih yang sering dimakan oleh orang Aceh sebagai daun yang berkhasiat. Secara tradisional digunakan sebagai kunyahan setelah makan dan sering disajikan untuk menunjukkan rasa hormat kepada tamu.
“Njoe na kanduri laot uro ameh njoe ” kata ayah. Beberapa hari lagi orang tua kami yang manyoritas adalah nelayan akan mengadakan khanduri laot di Krueng Aceh.
“Krueng Aceh ini adalah salah satu sungai yang letaknya sangat strategis yang ada di Aceh, dan sudah menjadi sentral nelayan untuk menangkap ikan sejak masa kerajaan Sultan Iskandar Muda” kata Wak Yan, mantan wakil panglima laot Krueng Aceh yang juga merupakan keturunan nelayan generasi ketiga sejak masa kejayaan kerajaan Aceh. Dalam usianya yang hampir enampuluh tahun beliau masih memiliki ingatan dan wawasan yang sangat kuat tentang khanduri laot dan hal-hal yang berkaitan dengan laut
“Di Aceh njoe antara adat ngoen agama hana jeut meupisah ” kata beliau sambil memceritakan sedikit tentang kerajaan Aceh yang jaya sebagai kerajaan dengan kekuatan Islam yang sangat luar biasa, karena dalam semua hal hukum agama selalu menjadi acuan dalam beribadah dan juga menggunakan hukum adat dalam hal hubungan kemasyarakatan selama tidak bertentangan dengan hukum agama dan ini masih tetap digunakan dimasyarakat sebelum adanya hukum negara dan masih tetap ditegakkan hingga sekarang meskipun ada sebagian yang sudah lutur.
“Tapi njoe harus tetap tapeukong” lanjut beliau sangat bersemangat mengharapkan adat yang tak bertentangan dengan agama tetap harus ditegakkan agar tidak banyak permasalahan dan ketimpangan social yang terjadi dimasyarakat.
“Ditempat kita setiap tempat memiliki aturan mainnya, seperti dilaut ada Panglima Laot, disawah ada Keudjreun Blang, dipasar ada Haria Peukan, dan dihutan ada Pawang Rimba” kata Kak Dek Na, pimpinan sanggar Puekat, salah satu sanggar yang membina anak-anak nelayan yang ada diperkampungan nelayan, Lampulo .
“Fungsinya itu banyak sekali, namun tujuannya sama-sama menjaga ketertiban dimasyarakan dengan menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi” lanjut beliau disuatu petang sambil membantu kami membereskan peralatan sanggar.
Seperti tugas seorang Keujreun Blang, bersama-sama masyarakat memimpin memikirkan bagaimana pemasaran hasil panen sawah nantinya setelah keumukoh , agar masyarakat tak rugi. Ada pepatah yang sangat popular dimasyarakat Aceh “Jaroe bak langai, mata u pasai”.
Inilah Aceh, disini setiap aktivitas masyrakat memiliki aturan main tersendiri yang diatur oleh pemimpimpin masing-masing atas dasar kesepakatan bersama.
****
“Tulong bagah bacut, karap poh lapan njoe..! ” seru Apit, salah seorang pengurus sanggar kepada anak-anak penari agar segera begegas menuju area Khanduri laot yang tak jauh dari sanggar.
Dalam perjalanan menuju lokasi khanduri laot, dari kejauhan sudah tampak para tamu yang hadir. Membuat kami semakin terburu-buru untuk segera sampai.
Beberapa menit kemudian kami sampai, akhirnya para penaripun mengabil posisi masing-masing untuk menari menyambut tamu. Acara hari ini akan dibuka oleh wakil gubernur Aceh Muhammad Nazar. Dalam acara ini seperti biasa akan dihidangkan masakan-masakan khas Aceh disamping masakan khas Khanduri laot, hidangan gulai daging kerbau, kemudian akan diisi juga dengan lantunan ayat-ayat suci oleh pengajian Mesjid Raya. Ada dua belas kerbau yang disembelih dalam khanduri laot tahun ini.
“Njoe peng dari para nelayan, tahun ini dikutip dari 150 boat nelayan yang ada di Krueng Aceh nak….. dan Alhamdulillah selain bisa membeli beberapa ekor kerbau juga digunakan untuk sumbangan kepada anak-anak yatim” kata seorang nelayan yang juga sangat mengerti kondisi.
Khanduri laot adalah kegiatan adat yang tidak pernah lupa dilaksanakan oleh para nelayan yang ada di Aceh disaat memiliki rezeki dengan cara menyembelih lembu atau kerbau yang kemudian kepala berserta isi perut dari hewan tersebut dibungkus dengan kulitnya lalu dibuang kelaut dan diadakandalam 3 atau 5 tahun sekali. Secara kasat mata kita bisa melihat ini kegiatan ini hampir mirip dengan ritual ummat Hindu, seperti yang ada dipulau Jawa.
“Ini Cuma sebagai ucapan syukur kepada Allah yang telah memberikan kita rezeki dari laut, sehingga kita bisa memberi makan kepada anak dan istri” kata Wak Yan .
“Acara seperti ini, setelah Islam sangat kuat ada di Aceh sangat jauh dari ritual yang berbau syirik, karna kita bersyukur bukan kepada laut, namun kepada Allah, Sang Pemberi Rahmat” Lanjut beliau. Karena kegiatan khenduri laot ini sangat berbeda dengan apa yang dilaksanakan oleh ummat Hindu, khususnya yang ada di Pantai Laut Selatan, baik dari segi pelaksaanaan dan subtabsi.
Pantai Laut selatan yang menurut kepercayaan masyarakat dipulau Jawa dikuasai oleh Nyai Roro Kidul telah memberikan banyak anugerah sehingga harus diadakan hajatan disetiap hari senin atau kamis dalam bulan suro disaat malam kliwon, karena itu merupakan hari pantangan untuk melaut. Kerbau yang dipersembahkan haruslah dikejar-kejar terlebih dahulu ketika disembelih, agar darahnya membasahi pantai, dan keberkatanpun akan muncul. Dan mereka percaya bahwa ini akan mendatangkan rezeki yang lebih banyak.
Namun, melihat konteks Aceh yang sangat kental dengan nilai spiritual keislaman,
acara khanduri Laot ini hanyalah wujud syukur kepada Allah dengan cara mengadakan Khanduri bersama masyarakat dan anak yatim dan yang paling penting adalah doa bersama yang dipimpim oleh seorang tengku atau ulama. Acara ini dilakukan dengan penuh khidmat ketauhidan dan dalam praktiknya sangat hati-hati agar tak ada usur syirik dan riya.
“Khanduri yang kita adain ini tetap dengan menyembelih daging kerbau soalnya dagingnya itu banyak dan enak” Kata seorang panitia penyembelihan.
Menyingung persoalan mengapa kepalanya tetap dibuang kelaut, “sebernarnya semua ini tergantung niat dari yang melakukannya, kalau kita sih ini bentuk saling ketergantungan antara manusia, hewan yang ada dilaut, nah…..kalau kita membuang kepalanya kelaut ini akan mempengaruhi ekosositem laut kearah yang lebih baik dengan mempercepat pertumbuhan plankton-plankton sumber makanan bagi ikan, tapi… kalau dilihat dari sisi menjaga kebersihan lingkungan, jangan sering-sering jugalah kita buang sampah sembarangan..hehhe” kata seorang warga nelayan sambil tersenyum.
Sejak tahun 1316 ritual ini sudah ada di Aceh, namun tahun lalu berdasarkan hasil kesepakatan para Panglima Laot se-Aceh memutuskan bahwa khanduri dengan mengadakan pembuangan kepala kerbau kelaut sudah tidak dibenarkan lagi, hal ini merujuk pada penerapan syarian Islam di Aceh, walaupun kesepakatan ini tidak tertulis, namum tetap siapapun harus menjaga niat dari tujuan pembuangan kepala kerbau kelaut, bukanlah untuk sebuah persembahan, karna dalam hal apapun Allahlah tujuan kita, alam dan isinya Allahlah Sang Penguasa, dan Allahlah yang akan melebihkan dan mengurangi rezeki kita oleh karena itu hanya kepada Allah tempat kita persembahkan rasa syukur.
“Njoe siat teu na duk pakan njoe….. dengan para panglima laot lhok yang ada disekitar Banda Aceh seperti Panglima Laot Pasii tibang, Ulee Lhee, Lamtong dan lain-lain” Kata Wak Sol, seorang toke boat yang ada di Lampulo yang berada dibawah naungan Panglima Laot dari Krueng Aceh. Karena disetiap laut disini memiliki panglima yang berbeda yang disebut dengan panglima Laot Lhok yang berfungsi mengatur ketertiban dikawasanya masing-masing, seperti menyelesaikan sengketa antar nelayan. Permasalahan-pernasalan yang timbul ini akan diselesaikan dengan jalur musyawarah yang dipimpin oleh Panglima Laot dikawasannya bersama orang-orang yang bersengketa. Dengan tujuan menegakkan keadilan, sejak dulu Aceh sangat menjunjung tinggi nilai keadilan disemua sisi kehidupan pribadi dan masyarakat.
Pada dasarnya acara Khanduri Laot ini memiliki banyak tujuan yang mengandung berbagai hikmah. Selain sebagai wujud syukur kepada Allah yang telah menganuigerahkan laut sebagai tempat yang paling banyak meluapkan rezeki kepada manusia didarat, khanduri laot ini juga dijadikan masyarakat sebagai ajang silaturrrahmi sesama masyarakat.
“Sekarang zaman udah canggih, apa-apa pake telpon, sms, atau melalui media internet udah bisa berkomunikasi langsung dengan orang lain, jadinya intensitas tatap muka dengan teman, kerabat semakin berkurang, dan kita ga tahu keadaan mereka sebenarnya bagaimana” kata Luddin, seorang warga nelayan yang memiliki tempat pengolahan ikan keumamah yang juga hadir pada khenduri laot.
“Gini ni kan enak kita bisa ketemu langsung sekali-kali, kelihatan ternyata Nyak Maneh udah ga segendut dulu…hheheh” lanjutnya sambil melihat seorang ibu penjual nasi diwarung yang biasa disinggahi nelayan ketika pulang melaut disampingku.
Hampir ribuan masyarakat yang datang dalam syukuran para nelayan tahun ini, diantaranya adalah tamu undangan dan anak yatim yang diundang khusus untuk menikmati bersama hidangan yang telah disiapkan.
“Ini semua tergantung pada rezeki nelayan juga nak,,” kata salah seorang kakek saat mendengar pertanyaanku. “Pue tip thoen na khanduri njoe ?”
*****
Sebelum zhuhur acarapun sudah selesai. “Kak tolong bereskan peralatan tari ya.. kami mau jalan-jalan dulu sebentar” kata Nurul sambil terburu-buru meletakkam peralatan tari.
“Ya kak.. kami mau keliling dulu sebentar, mau liat-liat sungainya” sambung Aisyah sambil berlari meninggalkanku dengan segala pernak-pernik yang digunakan ketika menari tadi.
Potensi kepemimpinan itu memang dimiliki oleh setiap orang, namun untuk menjadi seorang pimpinan yang baik itu tak mudah. Begitulah yang terjadi hari ini dinegri kita, dimasa-masa krisis ini sulit sekali menemukan sosok pemimpin yang sempurna. Namun menjadi sebuah pertanyaan besar mengapa hari ini semua orang berlomba-lomba menjadi pemimpin orang lain, padahal memipin diri sendiri saja tak mampu, baiklah, seandainya kita katakana bahwa itu merupakan cara mereka belajar unruk sempurna, mereka berani mengambil resiko dicaci disaat kinerja mereka buruk, mereka berani disaat kesalahan yang mereka lakukan meskipun kecil tapiu menjadi bulan-bulanan semua orang. Tapi terlepas dari itu semua kita tak pernah tahu apa tujuan mereka sebenarnya, namakah? Popularitaskah? Kepeduliankah? Atau malah materil untuk kepentingan pribadi dan kelompok?. Terserah tujuan mereka, yang jelas hari ini kita bisa melihat orang-orang mulai sibuk dengan agenda kepemimpinan, baik itu menyiapkan diri sendiri menjadi pemimpin, maupun menyiapkan orang lain, tim sukseslah istilahnya.
Teringat beberapa hari yang lalu disaat kami berjumpa dengan tokoh-tokoh masyarakat di beberapa daerah yang memiliki sumberdaya alam yang tidak sedikit, namun nyaris tidak berefek apa-apa pada perekonomian masyarakatnya, tak jauh beda keadaan perekonomian dimasa konflik dengan masa setelah MoU Helsinki untuk Aceh. Mereka ini adalah tokoh masyarakat yang sangat dekat keberadaan dengan masyarakat, mereka diangkat langsung oleh masyarakatnya untuk menjadi pengatur sekaligus pemimpin, namun mereka bukan pemimpin besar dengan gaji yang cukup untuk anak dan istri mereka, bahkan jerih payah mereka dibayar nyaris dibawah upah buruh perhari, mereka tak menuntut banyak, padahal dimasa-masa konflik dulu merekalah orang yang paling dicari, bahkan terhadap keberadaan seorang separatis didesa yang masuk tanpa sepengetahuan mereka, namun yang menjadi bulan-bulanan adalah mereka, dengan tuduhan yang andaikata langit bisa langsung bersaksi tentang kejujuran maka detik itu pula petir menyambar penuduh.
Sebenarnya merekalah pemimpin yang luar biasa, mereka adalah tokoh yang dipercaya tanpa janji manis, bahkan ada yang sampai 20 tahun menjadi tokoh kepercayaan, tempat mengadu meski mereka tak tahu lagi harus mengadu kemana setelahnya kecuali pada Tuhan. Mereka bukan pemimpin besar namun segala persoalan pada masyarakat merekalah yang lebih banyak tahu dari pada orang-orang yang selalu berorasi mengelu-elukan diri bahwa dia pemimpin besar yang paling bijak dan perhatian , apalagi persoalan pada masyarakat level rendah.
Bermimpi menjadi pemimpin besar itu memang hak setiap individu, tapi jangan lupa banyak sekali catatan penting yang harus selalu diingat oleh siapapun yang akan menjadi pemimpin. Khususnya di Aceh, berikut ini ada kutipan dari beberapa tokoh masyarakat yang ada dibeberapa desa yang sedikit terpencil di Aceh beberapa waktu yang lalu. Menurut mereka perhatian pemerintah hari ini hanyalah janji manis saja, sebagai tokoh kepercayaan masyarakat didesanya, banyak janji manis dari pemerintah yang ditawarkan kepadanya dalam hal apapun, namun sampai detik ini janji itu tak kunjung jua terealisasikan, tak salah jika mereka berkata “meunjoe tan tamita keudroe sapue koen”. Apalagi menanggapi persoalah yang sedang dibicarakan saat ini terkait permasalahan siapa yang layak menjadi pemimpin kali ini kedepan “terserah soe yang ji’ek, ata cit peukateun tetap lagei soet. Bandum cit peutaba mameh, watei ka tijoh ie babah teuh, ka dihieng”.
Disaat disinggung persoalan perekonomian masyarakat setelah MoU ini mereka menjawab “ walaupun konflik di Aceh sudah reda, tapi perekonomian kami terkadang malah semakin merosot; bahkan sang hie dalam ta mita raseki leubeh goet dan leu berkah lam masa konflik, dan urueng hana troe sidroe mantoeng lagei jinoe, peng meutumpok bak sidroe urueng mantoeng, berjeh pen siribe jeut tabloe dum pue, jinoe sapue tan seip lei”. Harusnya pemerintah bisa mengatur ini semua lebih bijak.
Ketika ditanya apa harapan mereka terhadapa pemimpin kedepan “seumoga bek sampe urueng yang ek tring yu ek bak u, siapa saja boleh, asal mampu”. Tokoh yang lain menambahkan “ kita ingin dipimpin oleh orang yang berwawasan luas, dalam hal apapun, dan mampu membawa Aceh ini sebagai kiblat peradaban, bek sabe payah ta meu kiblat u jawa sabe…….”
“..harus djih bek bri uengot keu kamoe, tapi kawe, buka lapangan kerja, jangan hanya member modal usaha apalagi tanpa kontrol,nrentan dengan korupsi, ini jelas mendidik rakyat untuk jadi pemalas, fakta ini..! fakta…” harapan tokoh masyarakat didesa lain ketika ditanya keadaan ekonomi masyarakat setelah perdamaian.
“kamoe njoe asai cit urueng bangai, tapi buet hek, maunya ajaklah kami sekali waktu berdiskusi dengan mereka pemegang simpul terkuat, biar lebih tahu apa yang yang sebenarnya terjadi dimasyarakat level bawah ini….” Sambut yang lain disaat mendengar kata pemilukada menanti didepan mata.
Setelah perdamaian ternyata kesejahteraan hanya ilusi, harusnya bek sare jak cilet mameh bak rhueng, hana jeut kamoe lieh. Manyoritas rakyat semakin gerah dengan keadaan yang han glah-glah, leuh bak meuruwa meusangkot gaki lom lam trieng, leuh glah bacut kameuchop jaroe lomgen duro.
Lantas bagaimana sebenarnya perasaan mereka yang sedang sibuk bergeriliya mencari dukungan untuk mencapai puncak, bahkan tak jarang sikut menyikut, keu’ih wie, keu’ih uneun, berlomba-lomba mengumpulkan KTP, berlomba-lomba meukat ubat rata sagoe, padahal tak jarang ubat yang dijual hanya ramuan asal jadi. Pencitraan sana-sini.
Mulai sekarang sebenarnya kita bisa melihat siapa ceurape itu sebenarnya, dan sebuah pertanyaan besar lagi, apakah ada sosok yang akan benar-benar tulis ingin mensejahterakan rakyat, bukan hanya memperturut kepentingan golongan apalagi pribadi.
Seorang filsuf dari Tiongkok yang hidup dua ribu empat ratus tahun yang lampau pernah berkata: “Suatu bangsa akan berada di dalam keadaan sejahtera bila tiga syarat terpenuhi. Syarat yang pertama bila bangsa tersebut memiliki system keamanan yang kuat. Kedua bila ekonomi negara tersebut dalam keadaan yang lancar. Ketiga bila pemimpin negara dapat diandalkan oleh rakyatnya”.
Tentunya kita semua berharap jangan sampai (lagi) terpilih orang-orang “paleeh”. Karena paleeh itu adalah virus yang sangat bahaya, banyangkan saja paleeh tanoh cot teungoeh kurueng asoe, paleh inoeng teumanjoeng watei lakoe woe, paleh agam sipak kuah piuleh aso, paleeh rakyat ji meupat rata sagoe, paleh raja djitop geulinyoeng wate ta krip. Hasilnya adalah hancur disemua sudut.
“hayalan ini setinggi-tingginya, seindah-indahnya…..”
Berhayal, memang tak ada yang berhak melarang, karna imjinasi itu adalah fitrah setiap kita, temasuk berhayal hidup disebuah negri yang subur, damai, dan tenang tanpa ketimpangan-ketimpang, tapi terkadang ingin rasanya berada dinegri nyata seperti negri dalam hayalan tersebut agar tak ada gundah, gelisah dihati, tapi inilah tantangan hidup manusia, Tuhan memberi kita akal, pikiran, serta kekuatan fisik untuk berjuang dalam hidup. Tuhan pun tak akan merubah suatu kaum jika mereka tidak berusaha untuk menggunakan setiap kekuatan yang telah diberikan, hal ini juga tidak terlepas dari semua tindak vertical dan horizontal, kewjiban kepada Tuhan dan kepada sesama manusia.
Namun, meskipun kita berhayal, kita sadar bahwa kenyataan sering, bahkan selalu bersebrangan dengan jagat hayal kita. Lihat saja ketika kita keluar dari dunia hayal kita, berjumpa dengan realita, tampaklah apa yang sebenarnya terjadi dengan negri ini, yang sering jauh dari apa yang sering orang atas bicarakan, yang katanya perekonomian mikro negri ini sudah sangat maju dan berkembang, kata meraka.
Hari ini diatas gunung ini, ketika tulisan ini terpaksa kutulis untuk sekedar bercerita tentang perasaanku, kecenganganku pada pagi ini, terhadap jawaban polos seorang bocah laki-laki yang sedang memungut pinang-pinang kuning, bukankah ini jam sekolah? Bagi anak seumuran dengannya. Pukul Sembilan kawan. Ketika aku bertanya, “iya, tahu” katanya, “alah kupue teuma, loen hawa baje bola, meunjoe jak sikula hana jeut ta bloe baje bola, sipatu loem,, hek mantoeng diyue leh pue pue, habeh peng mantoeng,,”
Singkat memang, dan munafik jika kita mengatakan kita tak mengerti apa maksudnya, apa latarbelakang dia berkata demikian. Karena ini bukan sekali kita berjumpa dengan kenyataan seperti ini, ini adalah kesekian kalinya. Seandainya ditanya siapa yang salah, terkadang aku tidak ingin mengatakan pemerintah. Tapi jika disuruh mengulas kata aku akan akan menyalahkan pemerintah.
Isi UUD dan pembukaannya sepertinya akan selalu menjadi karya tulis yang sistematis, yang tebaik yang pernah dimiliki negri ini, terlalu indah sehingga harus disimpan didalam lemari jauh dari debu, jauh dari rayap, terlalu ribet mugkin jika disimpan dihati, lebih gampang menciptakan aturan baru, kemudian pelaksanaannya pun jauh dari kekonsistenan. Maklumlah, Negara berkembang ini katanya, yah…mungkin memang iya, saatnya berkembang bebas dan terus mengembang, dan sangat menyedihkan seandainya terjadi pengembangan yang sangat ironis dengan tujuan dasar, kesejahteraan.
Salahkan jika mengatakan bahwa pemerintah telah mengingkari falsafah dasar negri ini, pemerintah mendustai UUD, disaat terlihat jelas pengingkaran kesempatan anak bangsa untuk menikmati wajib belajar 9 tahun, dan dalam pasal 31 jelas disebutkan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas kecerdasan bangsa.
Melihat realita saat ini, disaat kemauan rakyat tak sama dalam hal menuntut ilmu. Pantaskah pemerintah mengatakan bahwa mereka telah lelah mengurus semua ini, karena permasalahan ingti dari semuanya sebenarnya adalah emosional individu, ohhooww….Lantas “kupue meusigak that jak calon droe keu pemimpin ?”.
Kita bisa melihat disaat pemilu, pilkada, pilkades, dan pilka-pilka lainnya. Jelas tergambar emosi, ambisi untuk menjadi pemenang, dan sikut kanan sikut kiri itu hal biasa, semua cara ditempuh agar bisa mendapatkan sebuah kursi, entah ~kita mana tahu~ apa tujuan sebenarnya. Apkah kekuasaan mutlak untuk kesejahteraan orang lain, atau malah kekuasaan yang terkontaminasi dengan hasrat memperoleh jalan pintas menjadi hartawan, maklum sajalah negri ini berbeda dengan negri lain.
Lihat saja Amerika, disaat seseorang ingn menjadi penguasa/mendapatkan jabatan, mereka harus memiliki kekayaan yang memadai terlebih dahulu, baru kemudian mencalonkan diri menjadi penguasa, sedangkan dinegri ini kebalikannya, kejar kekuasaan dulu, baru kemudian menjadi kaya raya. Kultur yang berbeda, karena itu tak perlu heran jika sosok-sosok seperti Om Gayus muncul.
Benarkah begitu utopisnya mengharapkan sosok pemimpin seperti Rasulullah, atau setidaknya seperti para Kulafaurrasyidin?
Apa yang sering terjadi hari ini jika dikatakan sebuah media pembelajaran, bahkan selalu dikatak sebuah proses menuju kesejahteraan, sebuah proses pendidikan, maka siapa sebenarnya yang mendapat didikan baik dari kenyataan ini, karna yang ada hanya paranoid terhadap penguasa, hidup dalam tekanan. Tak salah mungkin jika ada orang yang membeci kalimat “kegagalan adalah awak dari kesuksesan”. Karena kata-kata itu adalah bentuk kepesimisan yang dilapisi dengan semangat pembenaran kegagalan. Ada baiknya mungkin tak ada kata kegagalan dalam hidup ini, sehingga tak perlu dirangkai kalimat “kita akan bangkit kedepan”, kedepan, kedepan, dan kedepan. Kita akan menang kedepan, kedepan, dan kedepan. Entah dimana garis “finish” kedepan itu.
Ini memang permasalahan kata, siapapun berhak berkata-kata.
Tapi ini negri kita, benarkah? Teringat dulu ~sederhananya~ setiap senin ketuka sekolah dasar, sekolah menengah, atau akhir dan untungnya tidak ada lagi sekarang ketika kuliah. Setiap pagi senin setiap sekolah pasti mengadakan upacara penaikan bendera dengan lantunan lagu Indonesia raya, sebagai symbol nasionalisme, cinta tana air. Sedikit penggalan liriknya “…indonesia raya, tanah airku,..tanah tumpah darahku.. disanalah aku berdiri,..” ya,, disana, disanalah aku berdiri, disana. Dimana? Dimana sebenarnya tanah airku? Kita bernyanyi, berdiri disini yang ternyata bukan disana.
Wajar serba ironis. Karena disana itu adalah bangsa bermoral, menjunjung tinggi hak asasi setiap warga, budayanya beragam, tak miskin identitas, menghargai segala perbedaan, jujur, adil, dan pastinya lebih bermartabat. Tapi, itu disana, entah dimana. Masih diawang-awang. Wallahu'alam.....
Bukan menyalahkan W.R Supratman dalam meciptakan lirik lagu ini, malah beliau sangat objektif dalam merangkai kata-kata. Karna memang kita belum berada pada negri yang selalu tersebutkan dalam buku-buku pendidikan kewarganegaraan dan buku-buku nasionalisme lainnya.
Semakin hari semakin membingungkan saja ternyata, terkantung-katung tak jelas arah, kenyang dengan tawaran-tawaran utopis mereka yang punya kaki panjang. Harusnya, jika memang setengah hati, jangan pernah tawarkan, kosong!
Lampanah, 2010
