Written by: Maulidar Yusuf, SID 230919091
Although the red coals at the crease crossed your mind, if emotions are heating your scalp, not even the violence that you give to the helpless child, child abuse is often accompanied by emotional refuge in the name of educating the child discipline SAVE OUR CHILDREN (dr Widodo Judarwanto SpA).
From that quotations this journal will be started, as a prospective teacher I just realized how many problems in this world are concerned about the violence, including violence against children in the world of education. We know that no one wanted the violence to happen. Against anyone, including children.
According to Jack D. Douglas and Frances Chalut Waksler, the term force is used to describe the behavior, either openly (overt) or closed (covert), and whether they are attacking (offensive) and last (defensive), which accompanied the use of force to another person. Therefore one of the acts of violence that often occurs in the world of education is the act of school bullying. In the case of school bullying, violence is not only done by teachers, but also friends. Violence in children but never seemed to escape from everyday life-threatening child survival. Violence in children is mostly done precisely by the people closest to them, especially parents, caregivers, friends, and school teachers. An online survey of 299 people who made "Korando" states, A large respondents or 55.18% (165 people) said it is still often seen and experienced violence against children or teenagers who do parents and teachers. While 74 people, or approximately 24.75% said sometimes and 60 people or 20:07% said rarely
A summary of research on "Conditions and Triggers Violence in Education" written by Drs. Abd. Assegaf Rachman, M. Ag, is Lecturer IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Rewritten by M. Khoirul Muqtafa. Supported by the Ministry of Religious Affairs in the framework of Competitive Research conducted by the Directorate of Islamic Higher Education, Ministry of Religious Affairs of Indonesia Year 2002. Stating that need to be reviewed in advance the state of education today, namely the internal conditions and external conditions. Internal conditions are internal factors which directly influence the behavior of the student / students and educators, including violent behavior. While external conditions is the condition of non-education which is an indirect factor for the onset of the potential for violence in education
About the violence I have some facts that occurred in a junior high school in Banda Aceh, a gym teacher who was too often punish students because it is not carrying gym clothes, often the teacher is using the hard object to punish students. The other case, an elementary school student who often get the scorn of his teacher who has a weakness in the exact subject, the violence is violence also gained an inner, a pressure in the form of words. Apart from teachers, bullying is also done by fellow students, such as seniority that occurs when the beginning of school, it can occur in the form of hazing or a play of competing groups, in large measure we can find examples of bullying in the fighting between students.
From the above facts could I conclude, there are many things behind the acts the violence against children. The first: frequent the violence against students who do not follow the rules, as usual any violation would get a penalty. However, a lot of penalties obtained outside of the ordinary, this is where the birth act of the violence Second: the imposition of generality ability of students, so the student can not capture the whole matter. Pupils forced to something that does not like or even beyond the limits of his ability, it is not rarely make fear, despair, mental castration. The third: students accustomed to the spectacle the violence, until they do the violence to vent their emotions.
Than there are two main factors of school bullying action, the first factor in the family and environmental education. Later in the education process in schools. Violence is often the case not only physically, but also sexual, psychological, and neglect. If the child is always in a the violence environment, there will be two possible characters are formed. The first character, his soul will try to practice the violence which he obtained, the result will often occur new violence. The second possibility of personal distress, mider, and confidence that allows children who are less desperate and did not develop. School bullying is clear that the action is very detrimental to childhood development This violence can not continue to occur. There are many steps that can be done by educators to address this violence.
First of all an educator must understand the meaning of bullying. This understanding is not just the literal meaning only, but the application, the awareness will happen if a clear understanding. This understanding must occur between the two sides. Teachers and parents, as the most important part in the educational process both these elements have to understand the meaning of bullying and the effects of bullying. Furthermore, for students. Students, understanding for the pupils may be given when a school lesson, for example: in the subjects of language, teach students with language that is not mutually flout fellow, and understanding the dangers of violence in any form we can use some of the to overcome the bias action of this school bullying.
As the concept applying Humanizing of the classroom is coined by John P. Miller focused on the development model of "affective education". Educational model is based on three things: recognize ourselves as a growth process which is and will continue to change, recognize the self-concept and identity, and integrating the awareness heart and mind. Changes made are not limited to any material substance, but more importantly on the methodological aspects considered very humane.Active learning is triggered by Melvin L. Silberman. Inviting children understand what is heard in a systematic and responsible, so it reduces the action brutality and dangerous. Bullying could also be prevented by instilling faith-based education and character education.
All parties must be together to solve this problem. the violence can occur anywhere, the involvement of parents and the playing environment is very influential in dealing with these bullying actions, even the authority of the government also has a large in preventing this crime.
Assalamu'alaikum...... Saboeh langkah dari uloen tuan munuju mimpi.. lewat kata loen meurangkai, semoga langakah sabe lam berkah..
Pengikut
About Me
- Maulidar Yusuf Atjeh
- Mencoba menjelajah dunia melalui mimpi... saya adalah saya,, dengan segala kekurangan dan kelebihan.. lewat mimpi saya mencoba merajut asa,, entah,, saya terhadap semua yang saya dapat.. kerna semua maya.. tak pasti.. tak nyata... hanya saja saya punya satu keyakinan.. yaitu, apapun yang telah terjadi hari ini,, belum tentu tak berarti, walaupun tak penting... yah,,, walaupun sering bgt aq terbang tapi jatuh lagi,, ehmm,tapi aq selalu berfikir.. kalo jatuh, yaa,, bangun lagi, trs terbang lagi, jth lagi?? yaudah bangun lagi.. eeee jatuh lagi?? istirahat dulu sebentar,, ^_^ terbang lagi... i'll get it!!
Malam ini mungkin aku pulang lagi pukul 02.00, pekerjaanku belum selesai. Tiga pesan singkat dari Ratna, adikku yang dia ingin tahu jadwal pulangaku malam ini, tak bisa aku balas, pulsaku tak cukup lagi.
Gerimis mulai membasahi jalan, hiruk pikuk pasar perlahan mulai mereda. Sayup-sayup terdengar suara tawa sekelompok laki-laki yang sedang bermain kartu diujung gang tempat aku berdiri saat ini. Dari kejauhan aku bisa melihat botol-botol minuman, entah apa jenisnya. “sebaiknya kamu pulang saja” sebuah bisikan tiba-tiba menghentikan langkahku. Aku bingung, apakah aku harus pulang, sedangkan aku belum mendapatkan apa-apa malam ini.
“[KAK! DIMANA?!!]” pesan dari Ratna masuk lagi, ini yang keempat.
Ratna, adikku, beberapa hari lagi umurnya akan menepati tujuh belas, aku beruntung memilikinya, dia sangat mengerti kondisi kami. Meskipun seiring berjalannya waktu, usia bertambah, dan kebutuhan hidup tak pernah kompromi. Apalagi Ratna telah aku sekolahkan di Sekolah Menengah Akhir ternama dan diakui dari segi kualitas pembelajarannya dikota ini. Aku tak ingin dia yang satu-satunya kumiliki menjadi sepertiku. Semua orang tahu, dia pintar dan juga cantik.
Tujuh tahun lalu aku tak sempat lagi mengambil ijazah SMA-ku. Musibah itu telah membuat aku kehilangan segala yang aku punya, termasuk kepercayaan diriku. Saat itu aku merasa langit saja tak lagi memberi ruang untukku, apalagi bumi, tak satupun keluargaku diberi kesempatan berjalan bersamaku lagi, melalui murka laut aku menjadi sebatang kara. Kebahagian yang aku miliki telah usai.
Namun ternyata, dugaanku salah! Dua tahun kemudian aku berjumpa Ratna, disebuah tenda kuning bertuliskan CARE, ia sedang sedang bersama belasan anak sebaya dengannya memerhatikan seorang warga asing. Bisa aku pastikan dia sedang mengajari adikku bahasa dari Negara mereka.
Sejak pertemuan itu, ku coba memandang langit, sekilas wajah orangtuaku muncul. Ketika itu pula ruh ku mulai bersahabat dengan jasad. Aku lantas berjanji dalam hati, aku akan menjaga Ratna. Aku tahu Ratna adalah gadis pintar, telah banyak prestasi-prestasi yang diraih Ratna sejak sekolah dasar bahkan hingga saat ini, oleh karena itu aku bertekad akan menyekolahkan Ratna hingga dia menjadi sarjana, berpendidikan yang baik seperti yang diharapkan almarhum bapak dan ibu, dan yang paling penting adalah dia bisa berguna untuk kebaikan orang lain. Sebisa mungkin aku akan membiayainya, agar Ratna tak menjadi sepertiku yang kotor, seperti tempat aku berkerja saat ini. Aku tidak akan menyerah.
***
“Kak, kenapa sih harus pulang pagi setiap hari? Atau tengah-tengah malam” Tanya Ratna disuatu pagi, sebelum dia berangkat sekolah. Alah, aku tak ingin menghiraukan lagi pertanyaan ini, ini bukan kali pertama pertanyaan seperti ini ia lontarkan untukku.
“Kenapa sih kak ga jawab? Kakak kerja apa sih sebenarnya?” dia mengulang pertanyaannya lagi, aku rasa tak ada guna menjawabnya. Namun, Ratna masih berdiri didepanku menunggu aku menjawab.
“Buat apa nanyak-nanyak?! Tugas kamu itu sekolah. Tenang aja duetnya halal kok! Aku ga nyuri..!!” jawaban ini keluar dari mulutku dengan nada yang tinggi sambil merapikan pakainku lalu langsung keluar rumah lagi menuju gudang berukuran 4x2, jika dimasa bapak masih ada tempat ini pasti digunakan sebagai tempat penyimpanan barang bekas, saat ini temapt ini kami sulap menjadi kedai kecil, ini menjadi sumber pertama pengisi kantong kami dan biaya Ratna sekolah. Ada beberapa jenis makanan ringan, rokok, serta keperluan yang sering dicari ibu-ibu rumah tangga disekitar kami tanpa harus berjauh-jauh menuju pasar.
“Tapi kak, orang-orang disini selalu nanya kakak kemana setiap malam? Kerja apa setiap malam? Dimana? Ratna harus jawab apa kak…?” lanjut Ratna sambil mengiring langkahku.
“Lhoh, aku kan udah bilang, aku pergi kerja..” jawabku datar. “Pekerjaannya apa?” sambung Ratna. “Ratna! Apa urusan mereka? Perlu tahu segala hal tentang kita?! Apa peduli mereka kalau perut kita kosong? Apa peduli mereka kalau kamu putus sekolah?!” jawabku setengah membentak Ratna, adik semata wayangku, “udahlah, cepat berangkat sekolah sana..” Ratna terdiam. Ada tetesan bening dimata yang mulai turun menuju pipi putuhnya.
Maafkan kakakmu, tak seharusnya kau menanggung malu seperti ini. Sekolah dan hidupmu harus berlanjut. Abaikan siapa aku.
***
“Dek, ini berapa harganya?”
“Lima ribu aja bu”
“Duh mahalnya, tiga ribu aja ya,, kan kamu banyak duit, tuh masukannya tiap malam lancer dari pejabat-pejabat kali ya, hehehe, atau mangkal dimana biasanya nih, hehehe..” celoteh seorang pembeli sambil menyindir halus.
Setiap hari aku semakin heran dengan banyak sekali orang yang menyindirku, semakin aku tak menghiraukan, sayup-sayup aku tahu mereka semakin sering membicarakan tentanggku. Bercerita tentang kakak si Ratna yang sering pergi sore pulang malam atau pagi. Namum mereka lupa menyisipkan rasa prihatin terhadap beras dirumahku yang habis, tunggakan listrik yang hampir dua bulan lebih, dan yang terpenting adalah biaya pedidikan Ratna setiap bulan.
Padahal beberapa pemuda disini banyak sekali yang tak memiliki pekerjaan, sering berurusan dengan polisi, dan mereka juga sering pulang malam, pagi, bahkan tak pulang berhari-hari entah kemana. Lantas mengapa hanya aku, padahal aku berkerja, mencari nafkah untuk hidup kami, tak pernah perkerjaanku ini mengusik mereka, tapi mengapa mereka sering membicarakan aku, tanpa izin dariku menambah-nambah pernak-pernik negative tentangku.
Aku pernah mendengar disuatu surau bahwa dosa para pengumpat lebih besar dari pada penzina, karna pengumpat menyangkut karakter diri orang lain dan pembicaraannya bisa menyebar hingga pelosok pelosok kampung, dan tanpa fakta itu fitnah, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.
Mereka telah mengahancurkan bukan hanya karakterku, namun juga adikku, membuat adikku malu untuk sekedar menganggakat wajah dihadapan mereka, apalagi bergaul. Semua hanya karena ku sering keluar sore, pulang malam atau pagi. Hanya karena aku sering bergulat dengan pekerjaanku hingga pagi datang.
Aku memang bekerja ditempat kotor, tempat ini memang tak bersih. Sampah-sampah ini memang sangat menjijikkan. Tapi ini halal!. Menjadi pengais sampah tak pernah dilarang agama. Aku tak mungkin bekerja dipagi hari. Karena jatahku malam, sampah-sampah ini harus diolah pada malam hari dan pagi sampai siang aku harus berjualan.
Meskipun tempat aku bekerja didominasi oleh laki-laki, tapi salahkah aku? Aku juga punya kaki dan tangan yang sama jumlahnya. Tak masalah bagiku, asalkan halal.
Terlalu banyak didunia ini manusia yang merasa lebih tahu bagaimana seharusnya orang lain hidup, namun sayang tak jarang ia lupa bagaimana cara seharunya menjalani hidupnya sendiri. Tuhan menjadi saksi, aku masih suci.
Tahun ajaran baru, anak-anak sekolah pasti membawa buku baru. Buku tulis yang masih bersih, belum ada tulisan apa-apa. Masih putih polos.
Sebuah buku tulis dapat diibaratkan dengan kehidupan kita. Sampul depan adalah hari lahir kita. Sampul belakang adalah hari kematian kita. Lembaran-lembaran dalam buku tulis adalah hari-hari yang kita jalani dalam hidup.
Lembaran putihu polos itu bisa saja kita corat-coret dengan pensil aneka warna. Bisa kita isi tulisan rapi. Demikian pun dengan hidup kita. Suatu hari bisa saja kita isi dengan umpatan, cacian dan perbuatan buruk lainnya. Suatu hari bisa juga kita isi dengan hal-hal yang baik.
Bagi yang telah mengisi dengan hal-hal tidak baik, dan ingin memperbaikinya tak perlu risau jika tak bisa. Di halaman selanjutnya masih ada lembar putih polos yang dapat kita isi tulisan rapi dan bermanfaat. Jika hari ini anda berbuat tidak baik dan ingin memperbaikinya, jangan khawatir. Esok masih ada hari baru yang dapat kita isi dengan hal-hal yang baik.
Bagi yang telah mengisi dengan hal-hal baik, janganlah berbangga hati dulu. Masih banyak lembaran-lembaran putih dibelakang. Teruslah berusaha untuk mengisinya dengan tulisan rapi dan bermanfaat. Jangan tergoda untuk mencorat-coret sembarangan, mengotorinya, apalagi merobek-robeknya. Jika hari ini anda berbuat baik, janganlah lantas ada perasaan sombong dan memandang rendah orang lain. Teruslah istiqomah untuk tetap berbuat baik. Jika ada godaan untuk berbuat tidak baik, segera tepiskanlah.
Selagi belum sampai sampul belakang
Teruslah berusaha menulis yang baik
Selagi ajal belum datang
teruslah berusaha menebar kebaikan
Jika saat ini banyak sekali gerakan-gerakan seperti organisasi-organisasi kampus, non-kampus, serta organisasi masyarakat sipil lainnya, namun masih belum terlihat relasi dengan perubahan di local, nasional dan bahkan internasional. Mengintip pada kolom oraganisasi yang ada di Aceh, yang semakin lama semakin menjamur, namun sayangnya permasalahan di masyarakat tetap belum terbaca dari perspektif lingkungan, demokrasi, HAM dan gender. Serta kondisi masyarakat dirasakan semakin dalam ketertindasan.
Terlebih lagi disaat mengigat sedikit kisah masa lalu tentang pembunuhan-pembunuhan misterius, penangkapan se-enak perutnya oleh serdadu dan penyiksaan sebagai kesuka-riaan di kamp-kamp militer yang dimulai akhir 1980-an. Perampasan tanah rakyat oleh cukong yang dibeking brimob di Kuala Batee. Represi dan penyiksaan pemilih pasca pencoblosan di waktu pemilu 1987 dan 1992 di seluruh Aceh. Tentunya masih banyak lagi daftarnya, belum dibaca dari perspektif HAM dan demokrasi. Organisasi masyarakat sipil yang memiliki afiliasi ke partai politik masih melihat (seandainya mereka mengetahuinya) hal itu sebagai kenormalan hidup bernegara di Aceh.
Melihat fonomena seperti ini, hati siapa yang tak tergerak demi sebuah perubahan, meskipun kecil namun namun hanya bergantung pada satu kepentingan: Lillahita’ala. Namun, sangat disayangkan disaat sedikit saja mulut ini terkuak, sedikit demi sedikit angin berhembus mengibas sekaligus mengiris hati. Saat dikatakan “ini dia ni aktivis gender’, padahal “apa pasaiii????”.
Saya tak suka jika dikatakan saya adalah “aktivis gender” atau “aktivis feminism” atau aktivis lainnya yang mengarah pada persoalan perempuan saja, yang seolah-olah aktivis penentang kodrat, setidaknya begitulah citra yang terbentuk dikebayakan orang, karena, diakui atau tidak, kebanyakan orang memiliki pola pikir yang tergiring terun temurun, yang terbentuk dari dari lingkungan, dan yang terkhusus keluarga.
Jika dikaji dari kacamata lingkungan, terdapatlah adat, yang terbentuk dari tingkah laku keseharian warga yang kemudian kewajaran atau tidaknya menjelma menjadi takaran nilai, moral. Adat ini menjadi hukum social yang sangat unic, karena walaupun tak tertulis, adat ini menjadi ikatan yang sangat kuat, yang mengikat nilai-nilai kewajaran dalam lingkup social kemasyarakatan, sehingga tak jarang keluarga, yang merupakan unsure social terkecil, sangat kuat memegang hukum adat ini, yang kemudian secara turun temurun dipelihara dan ditanamkan pada pola pikir anggota keluarga, hal ini terus dilakukan agar tidak terjadinya suatu penyimpangan adat yang dapat mengakibatkan sanksi-sanksi social dalam masyarakat. Oleh karena itu terbentuklah sebuah pola pikir yang sama terhadap sebuah kenyataan, tak tekecuali pandangan tentang permasalahan perempuan.
Ketidak sukaan saya ini bukan disebabkan karena sebuah ketakutan terhadap sanksi social yang nantinya saya dapat jika saya mendapat julukan “aktivis gender” atau yang sejenisnya. Namun, saya sangat tidak setuju adanya pengelompokann-pengelompokan aktivis berdasarkan unsure kelamin. Karena memang dalam persoalan aktivis yang selalu berkaitan dengan perjuangan tidak pernah dikhususkan berjuang untuk perempuan ataupun laki-laki saja, ini menyangkut tentang perjuangan hak kemanusian yang diberikan Tuhan kepada semua insane yang ada dimuka bumi ini, namun karena ada sisi buruk dari sifatnya manusia hak-hak tersebut sering dilecehkan, demi kepentingan golongan bakhan pribadi. Padahal jelas dalam titah Tuhan mengatakan bahwa tak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, kecuali ketakwaan mereka.
Ketika saya banyak berbicara tentang hak-hak manusia, khususnya perempuan, itu artinya saya tidak menuntut perempuan untuk menjadi laki-laki, memiliki hak yang sama dari segala segi. Karena memang walaupun Tuhan telah mengatakan hak setiap manusia adalah sama, Ia juga telah membagi isi alam ini dengan bagian-bagian yang sangat sempurna, tentunya dengan keteraturan yang sangat indah. Aturan-aturan itu semua bertujuaan untuk kesejahteraan manusia itu sendiri dengan bagian-bagian tersendiri yang setiap bagian itu membutuhkan bagian yang lain untuk mencapai kesempurnaan.
Didalam agama sendiri tak pernah ada dalil yang turun dispesialkan kepada laki-laki atau pun perempuan, semua memiliki kedudukan yang sama.
Saat kita masih berada dalam tempurung besinya, haruskah kita hanya bergulat dalam diskusi menyudukkan kaum-kaum tertentu? Padahal semua memiliki keistimewaan masing-masing, dan berikut juga kelemahannya.
Dalam permainan catur saja, ratu adalah kunci segalanya, dia biasa bergerak bebas kekiri, kekanan, kedepan, dan kebelakang, tak ada benteng yang bisa menghalang langkahnya, bahkan dengan keahliannya, poncongpun yang biasanya bergerak miring tak bisa menyingkirkannya. Terkadang apalah artinya raja, meskipun ia memiliki kekuasaan yang luar biasa, namun geraknya selalu tebatas, tak ingin meremehakan sih, namun kenyataan berkata bahwa raja hanya mampu menyiapkan pion-pion sebagai tumbal agar ia tidah tersingkirkan. Raja harus selalu dilindungi, dan langkah perlindungan ini pun tidaklah gratis, banyak sekali prajurit-prajurit penting lainnya yang harus jadi tumbal.
Namun, sering sekali keahlian ratu diremehkan, diabaikan, bahwa dengan segala system patriaki atau dengan kata lain laki-laki adalah segalanya, setiap pertarungan ratu tak dilibatkan, namun prajurit-prajurit laki-laki dahulu yang dipaksa menjadi tumbal, entah dimana rasa prikemanusiaan itu, sering sekali ratu harus memaksa dirinya bergerak tanpa izin untuk melindungi rakyatnya yang telah dibantai, bergerak tanpa izin bukanlah hal yang mudah, meskipun niat bersih yang disandang.
Pengorbanan sering tak berarti, disaat kesombongan merajai sanubari, disaat kebiasaan menguasai tubuh, padaha belum tentu apa yang sudah menjadi kebiasaan itu adalah suatu kebenaran, sering sekali kebaikan terinjak disaat perasaan dikedepankan, padahal kita memiliki otak yang berisi akal yang Tuhan perintahkan untuk berfikir menimang-nimang mana yang baik mana yang tak baik.
Pengaruh alam bawah sadar memang sangat luar biasa, ia selalu tak rela kita keluar dari jalur kebiasaa, bahkan untuk kebaikan sekalipun, dan alam bawah sadarmu juga yang telah membuat kakiku terPASUNG……………………………………….
Jika hanya perempuan terlahir hanya untuk mrnjadi seorang ibu, maka begitu kejamnya Tuhan, dalam dunia yang luas ini, Tuhan hanya sedikit memberika ruang pada makhluk jenis tertentu, sangat menyedihkan sekali pandangan seperti ini. Padahal dalam konteks keislaman, islam memandang posisi perempuan sebagai posisi yang paliag penting dalam rumah tangga dan masyarakat sebagai upaya pembentukan generasi islam,Rasulullah SAW,menempatkan posisi ibu yang utama bagi anak-anaknya ,sebagaimana sabdanya yang artinya:
“Abu Huraira berkata:Datanglah seseorang kepada Nabi SAW. Dan bertanya :siapakah yang berhak akan layani dengan sebaik-baiknya? Jawab Nabi SAW :Ibumu. Kemudian siapa /jawab Nabi :Ibumu .Kemudian siapa ? Jawab Nabi :Ibu mu .Lalu siapa lagi ? Jawbab Nabi :Ayahmu.”(Muttafaakun”alaihi).
Seorang ahli pendidikan,Abdullah Nashih Ulwan mengungkapkan,ibu merupakan sekolah. Barang siapa menyiapkannya, ia telah menyiapkan bangsa yang berbibit dan berakar kokoh. Maksudnya bahwa seorang ibu merupakan pendidikan yang mempunyai posisi penting dalam keluarga, terutama sekali kalau dilihat pada saat proses anak berada dalam kandunagan ibu selama Sembilan bulan dan proses menyusui anak setelah melahirkan, mengindikasi bahwa masa awal kehidupan anak di dunia, punya kedekatan yang kuat pada sosok ib. Zakiyah Daradjat dalam bukunya“Kesehatan Mental dalam Keluarga”mengatakan sebagai berikut :
Karena orang yang dikenal pertama anak adalah ibunya.Dan ibu itulah yang memberikan pengalaman pertama kepada si anak, apakah pengalaman dilihat didengar atau dilihat ,di dengar atau dirasakannya pada tahun-tahun pertama dari umurnya akan merupakan unsur penting dalam membina kepribadiannya.Jika pengalaman tersebut menyenangkan dan baik pertumbuhan anak, maka unsur positif dan baiklah yang akan memenuhipribadi anak yang tumbuh. Tetapi jika pengalaman tidak menyenangkan dan tidak baik yang dirasakan anak dari ibunya waktu ia kecil, maka unsur negativ dan kurang baiklah yang akan mewarnai pribadi anak yang tumbuh itu dan begitu juga yang terjadi pada lingkungannya.
Untuk mendapatkan generasa yang handal, maka dimulai dari pendidiknya haruslah seorang yang handal pula.Jadi seorang ibu yang handal, haruslah membekali diri dengan keteguhan iman dan berilahmu pengetahuan yang tinggi. Karena di zaman sekarang ini begitu banyak tantangan dan pengaruh-pengaruh yang dihadapi seorang anak.Oleh karena itu, ibu harus memulai dangan mengajarkan anak-anaknya tentang dasar-dasar keimanann dari sejak kecil untuk membantu mereka menjadi manusia yang saleh, kuat imannya dan memiliki pemahaman yang benar tentang agama dan menjadi anggota umat islam yang menyaruh kebaikan dan mencegah ke mungkaran.
Dari sini dapat kita lihat betapa islam sangat menghargai perempuan dan saya tidak pernah memaksa diri untuk keluar dari jalur "keperempuanan saya" namun saya sangat menyadari bahwa peran yang dibangun bersama-sama sangatlah penting,artinya banyak peran yang dibutuhkan dalam perubahan moral. Kemampuaanya juga tak bisa diragukan dalam mendidik dan niatnya juga tanpa kepentingan buruk, jadi salahkah dia jika dia untuk belajar, menelusuri lebih dalam semua jejak yang ada disemesta ini, dan selalu mencoba untuk ada dan bersama-sama membangun bangsa ini, apalagi disaat keadaan yang serba huru hara ini.
Meski Cengkraman Tinggal di UjungJari
Benarkah sudah bukan saatnya lagi berfikir arti semua ini, jika memang yang menggangga ini adalah tanah merah sang durjana jahannam, biarlah semua terkurung didalam. Jika memang kemarau datang dan Tuhan tak lagi ulurkan tanggan –Nya. Biarlah semua terkekang pada hakikat semu asal tak menjalar merekah . Biarlah meruah asal tak tumpah.
Siapa sebenarnya penguasa kebebasan. Apakah sama adanya seperti ayam, tak ada pencemburu sejati layaknya sang betina meski dia pelaku kejahatan "incest" tak ada hukum yang pernah bisa menjamahnya, atau malah bak sang jantan, sang "exbihitionist", yang menggagahilalu mematuk berulang-ulang kali pada betina seolah itu isyarat cintanya yang terselubung dalam kata "aku tak benar-benar ingin menikahimu".
Apa kebebasan itu sebenarnya.Akankah sama seperti elang yang terbang sejak datang pagi menuju mentari tapi bukan untuk membunuh diri.
Bagaimana kebebasan itu adanya.Haruskah tak ada tradisi terlangkahi, adat terkangkangi, atau berbagai siklus kehidupan lainnya yang tergagahi. Lahir, makan, uang, mati.
Dimana tempat kebebasan bersemanyam. Lantas saat ini yang terlihat air tidak pernah diizinkan terbang keatas. Dan daun basahpun tak pernah dipaksakan terbakar.
Mengapa katanya kebebasan dipaksa ada. Bukankah hidup ini ejaan takdir yang tlah dikelola, dirancang, lalu digilir tuk bersama cicipi siang sampai malam bergilir petang.
Padahal ada bahagia, senang,bangga, damai menyatu pada satu dimensi, lantas mengapa harus ada kesadaranyang tak mengatasi emosi, hinggap lenyap terbelenggu, terhempas pada dimensi terburuk,hingga tak ada kuas tuk lukis air. Karena memang perjalanan sudah satu garis,satu warna. Gelap. Mau apa kata, jangan sentil apapun yang membuat darahmengalir, andai meruahpun tak ada yang peduli, karna tak selamanya horizontal.
Siapa yang akan mengembalikan nyawacinta, setelah seabad lamanya terendam amarah yang berpacu bersaing untuk mendapat jejak Tuhan. Takkala darah itu mengalir ditangan, mengapa jemari tetap tak akan melepaskan, padahal yang kita punya nyawa diujung jari, akan kusumpal luka dengan rambut tergumpal, kubalut dengan sobekan baju dibadan, agar kuncuran darah tak lagi mencari tanah, agar darah beri'ktikaf dipundi sunyi, bersemanyam bersama gua rapuh.Hingga lumut terus menari, biarkan dinding menghijau lapuk bersama zikir,hingga kala gelap datang mencambuk mimpi keluar dari jasad, agar tak ada cakrawala yang tak terjamaah. Hingga ambruk dinding terajam angkara murka, laluterbang menyatu bersama topan, dan keabadiaanpun tiba, rantaipun tak beku lagi.
Entah apa arti peran yang dipahami,hingga belukar tak lagi jadi mantra tuk merangkak melintang mimpi. Hidup inipunya kita kawan, memang benar kematian itu lebih indah dan manis dibandingkanpercintaan bersama kemunafikan yang memaksa pisau bermata dua, memang tak sama selisih malam dan siang, bukan rentang gelap-terang yang menjadi cela. Karena memang semua arah ada dua, cawanpun tak sendiri penuh dengan kedamaian dan ketentraman, permusuhan dan kesulitanpun ada dan akan penuh terisi dicawanmisteri.
Tapi ini sepertinya permasalahanamanah kawan, bukan kebebasan. Kita ini memang organisme kolektif yang terikatkontrak sejak ruh disumpal kejasad. "Qalu balaa syahidna". Kontrak vertikalpunterbentuk, harusnya menyadarkan kita tak harus terlalu bergantung pada kontrak'baru' horizontal terlalu kuat.
Tak seharusnya kerangka kita sajayang dilihat dari stabilitas dan perubahan, karna memang kita sama dengan mereka, semua berpeluang menghancurkan. Bukankah Tuhan pernah berkata "..Tlahterjadi kerusakan dimuka bumi karna ulah dan perbuatan manusia..". Manusiakawan! Manusia. Bukan hanya kita, tapi juga mereka.
Tak ada yang lebih hina kawan,karna memang "manyuhinillahu famaa lahuumin mukrimin, innallaha yaf'alu maayasyaa' ".
Bukan hanya duri yang terlalu tajammenusuk, karna memang jemari-jemari itu tak pernah membiarkan lepas meski diujungkuku. Lubang-lubang memang telah banyak tersumbat, tapi bukan berarti darah taklagi punya tempat. Tapi kawan, jangan terlalu putih menilai kapas, karena memangdalam hitungan sepersekian menit umur bisa menyusut, dalam sepersekian detik bumi akan menyempit.
Kita selau mengharapkan orang lainsopan atas kita, menghargai kita, tapi kita sendiri tidak tahu berapa harga diri itu, jangan salahkan orang lain. Karna sampah pun tidak akan pernah menjadi debu tanpa asap dari dirinya sendiri.
Kita tahu kawan, kayupun tidak akanpernah sempurna menjadi mawar jika dilempar begitu saja, hingga yang mereka lihat hanya belukar, penuh duri, hanya akan menjadi beban, agar tak terlalumengusik lalu ditebang agara tak memanjang terlalu jauh dan menahan langkah.Terlalu cepat berlari sebelum dikejar, keindahan pun terabaikan. Ada mawar dibalik belukar.
Bersabarlah sedikit saja, menikmati proses ini selagi pagi menetap sebelum senja dan akhirnya "hasbunallah wanikmal wakil"
"allahumma inni a'uzubika min hammiwal huzni, wal 'ajzi walkasali, walbukhli wal jubni, wa dhala'iddaini waghalabatirrijaal"
Semoga tak ada kisah yang hilang disaat kita menerjang gemuruh dan mereka menghantam badai. Kalaupun nantinya kita sama-sama terjepit disela batu karang, kuharap tak sesempit itu kita menarik kesimpulan. Karna darah yang menguncur terlalu berharga dari merah rekah mawar...
Lampulo, Ramadhan 1431 H
“Perempuan Pengusung Peradaban Untuk Bangsa”.
Oleh: Maulidar Yusuf
Sejak zaman Rasulullah, masalah yang dihadapi kaum perempuan telah mendapat perhatian besar. Prinsip Islam yang mengutamakan keadilan dan kesetaraan ummat manusian, memberikan dorongan kuat bagi perempuan untuk mendapatkan hak-hak yang telah digariskan oleh Allah, disamping kewajiban yang harus dilaksanakan.
Dengan mengikuti petunjuk Allah, Nabi Muhammad telah membibing ummat Islam untuk memuliakan perempuan. Norma ideal tentang kesetaraan perempuan dengan laki-laki, dan bagaimana seharusnya relasi antara keduanya, serta kewajiban mereka terhadap Tuhan dan sesame manusia, telah diajarkan oleh Allah, sebagaimana terkandung dalam Al-Qur’an.
Namun dalam kehidupan sehari-hari, sering ditemukan kesenjangan antara norma ideal yang seharusnya dilaksanakan, dengan sikap dan perilaku yang dipengaruhi oleh budaya maupun pemahaman agama yang patriarkis. Dampaknya terlihat jelas pada pandangan dan sikap yang menempatkan perempuan sebagai makhluk yang lemah, tidak penting (subordinat) dan sekedar pelayanan atau pemuas nafsu laki-laki. Pandangan dan sikap yang merendahkan harkat dan martabat kaum perempuan telah berlangsung sejak zaman sebelum islam datang dan masi berkembang sampai pada masa sesudahnya. Bahkan hal ini sering berlanjut menjadi penidasan-penindasan.
Banyak sekali kasus yang kita temui dewasa ini yang merugikan perempuan, disamping kesadaran dari kaum perempuan sendiri yang minim, bahwa mereka sebenarnya mampu menjadi lebih baik dari apa yang sering berkembang dan telah membudaya dilingkungannya, termasuk didalamnya hegemoni laki-laki. Padahal dalam Islam sendiri perempuan selalu didorong untuk berfikir dan bersikap kritis. Sehingga paradigm budaya “fisik” yang unggul pada masa jahilyah, bisa bergantu dengan budaya “akal” yang mengedepankan rasio dan moralitas. Perempuan berhak bersikap kritis, mempertanyakan berbagai persoalan yang bertentangan dengan hak-hak dan moralitas, serta menggugat apa-apa yang dipandang bersebrangan dengan prinsip kesetaraan dan keadilan.
Oleh karena kemampuan yang sama tersebut, meski memiliki perbedaan, perbedaan tersebut bukan hal yang harus diperdebatkan, namun haruslah disingkapi dengan arif dan bijak, karena permasalahan perempuan hari ini, bukan sekedar hak dan fungsi saja, tapi juga peran. Bangkitnya sebuah peradabaan suatu bangsa sangat bergantung kepada peran perempuan. Hal ini bisa kita lihat bagaimana perubahan-perubahan yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh perempuan dimasa lalu.
Telah ada ketetapan dari dulu hingga sekarang peran perempuan memang tidak terbatas dalam ruang domestic semata, perempuan bisa lebih dari itu, selama masih dalam koridor normative dan tidak melawan kodratnya.
Terciptanya atau terwujudnya peradaban yang baik adalah cermin dari pembagian peran yang benar terhadap setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Termasuk terciptanya pendidikan yang baikpun tidak terlepas dari pengaruh budaya, ekonomi, social, serta politik suatu wilayah. Hal ini juga sangat bergantung pada peran institusi mikro, seperti keluarga, maupun makro, seperi Negara, yang selalu memiliki benang merah diantara keduanya.
Oleh karena itu penulis ingin sedikit memaparkan tentang betapa pentinggnya peran perempuan dalam menciptakan sebuah peradaban, serta pengaruh-pengaruh yang telah diciptakan oleh tokoh-tok perempuan, yang seharusnya menjadi acuan kepada setiap perempuan hari ini untuk berani bergerak dan serius menjalankan perannya, baik perannya kepada Tuhannya, keluargan, dan masyarakat.
Islam dan Peran Perempuan
Tuhan menciptakan manusia dengan dibekali kekuatan akal serta diiringi kesucian wahyu untuk mencapai kesempurnaan. Di alam ‘azali manusiapun berikrar menjadi khalifah Tuhan di muka bumi. Manusia bersedia mengemban amanat suci langit untuk menebarkan kebaikan serta mencegah kemungkaran di dunia. Sebuah amanat yang tak sanggup diemban oleh makhluk mana pun. Maka, manusia memiliki konsekuensi untuk membangun diri serta lingkungannya, baik pada lingkup keluarga maupun masyarakat secara luas.
Demikian halnya dengan perempuan sebagai salah satu misdaq manusia, tak dapat lepas dari amanat tersebut. Perempuan, sebagaimana laki-laki memiliki tanggung jawab terhadap diri dan masyarakatnya. Dari sinilah, muncul ada tiga peran utama yang dimiliki oleh perempuan. Pertama, peran yang terkait dengan kehidupan individu, yaitu hubungan transendental manusia dengan Tuhannya. Kedua, peran perempuan dalam kehidupan keluarga baik sebagai istri maupun ibu dari anak-anaknya. Ketiga, peran perempuan di masyarakat.
Peran terakhir ini, memunculkan dua tesis berseberangan. Di satu sisi, ada sebagian kelompok yang sama sekali menolak keterlibatan perempuan di ranah publik. Kekhawatiran yang kerap kali dimunculkan adalah terjadinya fitnah serta kekacauan peran. Di sisi lain, tak sedikit kalangan yang memberikan kebebasan seluas-luasnya untuk terjun di masyarakat tanpa adanya pembatasan. Pendapat ini muncul sebagai reaksi terhadap kelompok pertama. Padahal sampai hari ini banyak sekali kita lihat peran perempuan yang sangat berpengruh pada perubahan-perubahan yang berguna untuk masyarakat luas.
“Tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki dari sisi kemanusiaan. Karena perempuan sebagaimana laki-laki memiliki hak yang sama dalam menentukan masa depannya. Adapun perbedaan yang ada di antara keduanya, tidak mengurangi sisi kemanusiaan itu sendiri”.
a. Peran perempuan dalam bidang
b. Peran perempuan sebagai seorang sosok ibu dan proses pendidikan
Islam memandang posisi perempuan sebagai posisi yang paliag penting dalam rumah tangga dan masyarakat sebagai upaya pembentukan generasi islam,Rasulullah SAW,menempatkan posisi ibu yang utama bagi anak-anaknya ,sebagaimana sabdanya yang artinya:
“Abu Huraira berkata:Datanglah seseorang kepada Nabi SAW. Dan bertanya :siapakah yang berhak akan layani dengan sebaik-baiknya? Jawab Nabi SAW :Ibumu. Kemudian siapa /jawab Nabi :Ibumu .Kemudian siapa ? Jawab Nabi :Ibu mu .Lalu siapa lagi ? Jawbab Nabi :Ayahmu.”(Muttafaakun”alaihi).
Seorang ahli pendidikan,Abdullah Nashih Ulwan mengungkapkan,ibu merupakan sekolah. Barang siapa menyiapkannya, ia telah menyiapkan bangsa yang berbibit dan berakar kokoh. Maksudnya bahwa seorang ibu merupakan pendidikan yang mempunyai posisi penting dalam keluarga, terutama sekali kalau dilihat pada saat proses anak berada dalam kandunagan ibu selama Sembilan bulan dan proses menyusui anak setelah melahirkan, mengindikasi bahwa masa awal kehidupan anak di dunia, punya kedekatan yang kuat pada sosok ib. Zakiyah Daradjat dalam bukunya“Kesehatan Mental dalam Keluarga”mengatakan sebagai berikut :
“Karena orang yang dikenal pertama anak adalah ibunya.Dan ibu itulah yang memberikan pengalaman pertama kepada si anak, apakah pengalaman dilihat didengar atau dilihat ,di dengar atau dirasakannya pada tahun-tahun pertama dari umurnya akan merupakan unsur penting dalam membina kepribadiannya.Jika pengalaman tersebut menyenangkan dan baik pertumbuhan anak, maka unsur positif dan baiklah yang akan memenuhipribadi anak yang tumbuh. Tetapi jika pengalaman tidak menyenangkan dan tidak baik yang dirasakan anak dari ibunya waktu ia kecil, maka unsur negativ dan kurang baiklah yang akan mewarnai pribadi anak yang tumbuh itu”.
Untuk mendapatkan generasa yang handak, maka dimulai dari pendidiknya haruslah seorang yang handal pula.Jadi seorang ibu yang handal, haruslah membekali diri dengan keteguhan iman dan berilahmu pengetahuan yang tinggi. Karena di zaman sekarang ini begitu banyak tantangan dan pengaruh-pengaruh yang dihadapi seorang anak.Oleh karena itu, ibu harus memulai dangan mengajarkan anak-anaknya tentang dasar-dasar keimanann dari sejak kecil untuk membantu mereka menjadi manusia yang saleh, kuat imannya dan memiliki pemahaman yang benar tentang agama dan menjadi anggota umat islam yang menyaruh kebaikan dan mencegah ke
Pendidikan dan Perempuan
Pendidikan merupakan usaha pembinaan keterampilan menggunakan pengetahuan atau pengajaran (the art of imparting or acquiring knowledge and habit through instructional as study) yang mencakup aspek jasmani, akal, dan rohani.
Secara historis, perintah menuntut ilmu dalam islam tidak dibatasi oleh usia, jenis kelamin (pria atau perempuan). Al Qur’an member kesempatan untuk beramal kebajikan kepada semua dan Allah akan memberikan balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Dalam pandangan Allah derajat setiap manusia sebagai seorang hamba adalah sama, yang membedakannya hanyalah kadar iman dan ketakwaannya. Secara konseptual jelas bahwa yang membedakan manusia sesame manusia hanyalah kemampuan mereka mengaplikasi ilmu yang telah dianugerahkan oleh Tuhan untuk manusia, karena manusia diberi kelebihan akal pikiran sehingga dengan akal manusia dapat membedakan yang mana baik dan yang mana buruk, dengan akal pula manusia berbeda dengan binatang. Oleh sebab itu pendidikan semestinya berpegang pada tataran konseptual yang benar sehingga pada tataran aplikasinya tidak keliru. Karena kekeliruan itulah yang sering mengakibatkan permasalahan dalam dunia pendidikan itu sendiri.
Pada masa awal perjuangan Islam perempuan memiliki intergritas yang tinggi sebagai seorang yang cerdas . Kecerdasan perempuan pada masa lalu terbukti dalam catatan sejarah seperti saidah Aisyah selaku isteri Rasulullah SAW yang banyak menghafal hadis sampai hari ini tetap dinilai memiliki otoritas yang tinggi.
Secara historis, pada periode awal perjuangan penegakan ajaran islam perempuan diberikan kedudukan tinggi dalam mengakses informasi dari Rasulullah Saw, walaupun pendidikan berpusat dirumah, denagan menggunakan system halaqah. Artinya semua pendekatan yang dinereikan oleh Rasulullah semua bertujuan menjelaskan al-quran kepada sahabat termasuk kaunm perempuan.
Berdasarkan uraian tersebut dapat dipahami behwa peluang yang ada tidak disia-sia kan oleh perempuan untuk memperdalam ilmu agama islam dengan berbagai cara, oleh karena itu perempuan seharusnya tidak lengah terhadap kesempatan-kesempatan yang terbuka luas untuk menuntut ilmu.
Modal perempuan sangat besar untuk menjadi manusia yang super dalam mekanisme penciptaan imajinasi kreatif. Fakta menunjukkan bahwa kebanyakan perempuan lebih peka terhadap masalah. Ia menjadi cepat dewasa. Namun, struktur sosial yang patriarkal kadang membuat imajinasinya terbatas dalam wilayah kuasa sistem patriarki.
Oleh karena itu
Inilah lembar-lembar disaat kemuraman menjadi teman
Bukan permasalahan takdir,m maupun keadilan Tuhan
Namun adakah Tuhan menjadikan kehidupan sebagai beban untuk manusia?
Lantas untuk apa Tuhan menciptakan manusia?
Jika hidangan beban, siksaan, anianya menjadi hidangan untuk mereka
Inilah detik-detik mulut tak perlu menggangga dan gantikan dengan merantai mata hati
Meskipun tahu “Tuhan tak akan merubah satu kaumpun jika mereka tidak ingin berusaha merubahnya sendiri”
Malah benarkan semua tingkah, jika kita tejebak dalam arus ketidak adilan Tuhan
Terasa terasing, sayup-sayup terdengar “ Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?”
Inilah desah-desah terkrisis, yang menati pahatan senja menuju peraduan
Celaka, celaka, dan kemudian celaka
Sebuah titah dari Hakim Langit, tak ada yang kuasa menolak
Lalu tiba saat tak berdaya dalam luka yang terus berputar, harus benarkan bahwa tak akan pernah ada bintang tunggangan yang telungkup, itulah kesabaran, tak akan punya batas.
“Sekali-kali Allah tidak mengaruniakan nikmat kepada seseorang hamba, kemudian Dia tarik nikmat itu dan Dia gantikan dengan kesabaran, kecuali Allah gantikan dengan yang lebih baik dari apa yang telah ia cabut darinya”
Ternyata………….
Dalam lembaran ini hanya ada dua pilihan, tetap merangkak lalu berdiri berlari hingga akhirnya terbang atau berhenti disini tanpa arti.
*Dulu kau yang telah membuatku terbangun, mengapa harus sekarang kau jatuhkan aku...................................
