Part one
Hal yang membuat kita menyadari bahwa kita ada adalah perbedaan, karena perbedaan adalah kata yang telah banyak membantu kita menyadari keeksistesian sebuah keberadaan., baik suatu benda, sifat, atau lain sebagainya bahkan hal-hal yang tidak konkrit sekalipun. Bahkan keberanekaragaman lah yang membuat kita menjadi bangsa yang kaya, dan dalam islam sendiri perbedaan adalah rahmat Tuhan yang harus disyukuri dan dicerdasi dengan intelektual yang tidak memihak pada kepentingan diri, galongan atau sebagainya agar tidak terjadinya konflik-konflik seperti penomor duaan oranglain hingga muncul system-sistem patrialkan tanpa sadar dan berefek pada pengusiran tanpa sadar mereka (golongan te rtentu) dari wilayah, hukum, agama, filsafat, ekonomi, politik dan lain sebagainya, dengan dibatasi atau dikekang secara fisik maupun akal dibawah kekuasaan yang lainnya. Dan hal ini sudah dilegalkan tanpa sadar dan melekat dalam pikiran semua orang, laki-laki dan perempuan, sudah diwajarkan.
Namun berbicara masalah perbedaan, saat ini memang topic keperempuanan sedang hangat dan selalu menjadi topic pembicaraan, disamping pembahasan isu-isu social lainnya, bahkan ada beberapa universitas didunia yang mengangkat secara khusus tema feminisme atau hal yang berkaitan dengan perempuan sebagai materi kuliah khusus. Bahkan secara local pun dapat kita rasakan sendiri wacana-wacana seputar keperempuanan yang tidak hanya muncul dari perempuan sendiri, namun laki-laki pun tak kalah banyak beranggument dalam hal ini, terlepas dari penyaluran hasrat provokasi atau penengah dari brbagai polemik yang sedang menjamur.
Beberapa hari yang lalu terjadi pebicangan yang puntung antara saya dan beberapa rekan-rekan saya, hingga akhirnya sekarang saya berniat mengajak teman-teman semua untuk sedikit meluangkan waktu untuk mencerdasi bersama kontradiksi yang selalu terjadi terhadap makna keadilan, kebebasan, hak-hak, dan lainnya dalam realita yang sering berbenturan dengan nilai-nilai moral /kehormatan, agama, dan lain sebagainya, hingga muncul statment-statement “aneh” disekitar kita, seperti “Berarti memang benar perempuan itu derajatnya dibawah lelaki, lihat saja agama membenarkannya”. Saya mengatakan “aneh” dalam tanda kutip, artinya sulit bagi saya untuk menganggapnya suatu hal yang wajar, apalagi disandarkan pada agama, karena pada dasarnya agama bukanlah pengekangan, penindasan, namun agama adalah keadilan dan kebebasan.
Lantas mengapa harus mengatakan hal-hal seperti itu? Saat ini kita sering berada pada landasan yang labil dalam menyingkapi berbagai persoalan, dan hal yang bisa mengatasi ini semua adalah hanya dengan memahami betul-betul makna dari perbedaan yang diberikan Tuhan, yang sebenarnya dengan bersama-sama kita bisa membentuk kekuatan besar yang nantinya bisa peradaban yang lebih baik, bukan terus menerus saling menilik kelemahan diantara keduanya.
Hal yang perlu diingat dan dipahami benar-benar seharusnya adalah kita berbeda bukan dalam konteks baik-buruk, tapi hanya berbeda untuk saling melengkapi.
Jika banyak orang yang mengatakan bahwa perempuan itu walau bagaimanapun tetap makhluk yang kedua dimuka bumi ini, apapun yang mereka lakukan, semua, tetap saja mereka harus selalu dibawah kaki laki-laki, artinya pandangan seperti ini secara tidak langsung kita membenarkan konsep gereja/barat yang mengatakan perempuan adalah dewi primitive yang dalam hidupnya tidak perlu berbuat lebih, karena tugasnya hanya terdiri dari lima fase; melahirkan, menyusui, menjadi ibu, menoupouse, dan mati.
Lalu hal yang tak jarang kita dengar juga adalah “bukankah penghuni terbanyak dalam neraka itu adalah perempuan”, “perempuan tak perlu terlalu bebas bergerak”, “perempuan racun/penghancur moral” itu artinya secara tidak langsung perempuan itu adalah makhluk terkutuk, apalagi dari awal penciptaan Hawa pun telah menyepak Adam dari keluar dari kenikmatan syurga sebab ulahnya. Olek karena itu sudah seharusnyalah semua perempuan menanggung beban –kutukan- harus melahirkan, harus menahan rasa sakit dan menjalan berbagai kehidupan yang sulit-sulit.
Jahilyah, Grail dalam gereja sendiri awalanya merupakan symbol keperempuanan yang kemudian dibalik konsep oleh gereja sendiri, dalam artian perempuan harus disingkirkan karena ini menyangkut keberadaannya yang sering lebih banyak dan mengancam eksistensi laki-laki. Hingga akhirnya dirancang konsep dosa asal mecicipi apel dan jatuhlahlah ras manusia, karena perempuan adalah golongan yang telah menghapus kehidupan suci, maka mereka tak perlu untuk ada didepan, malah masa jahilyahpun perempuan dikatakan hanya membawa petaka hingga akhirnya dikubur hidup-hidup.
Di Aceh, dalam konflik Aceh sendiri seolah ada penekanan terhadap ranah-ranah public terhadap perempuan selama 32 tahun. Hal ini telihat dengan penghilangan secara sistematis politikus-politikus perempuan hingga muncul pandangan bahwa perempuan tidak mempunyai kualitas dalam berpolitik, dan bahkan banyak sekali kasus yang merugikan perempuan semasa konflik yang sampai hari ini tidak diproses lagi, dibiarkan mengambang. Padahal dalam sejarah kejayaan Aceh juga tidak terlepas dari peran perempuan-perempuan yang tidak membiarkan dirinya, agamanya,bangsanya tertimbun ketidakadilan
Dalam agama Islam sendiri, tak ada perbedaan antara derajat laki-laki dan perempuan, semua sama seperti “gigi sisir yang sederajat” (hadits) dan tentunya yang membedakannya hanya iman dan ketaqwaannya kepada Tuhan. Agama adalah keadilan . Bukan hanya sekedar kumpulan kertas-kertas yang berisi aturan-aturan yang dirancang oleh manusia-manusia yang diterbitkan, diperjual belikan, disiarkan demi kepentingan pribadi. Kebebasan, keadilan, dan persamaan dalam konteks yang normative itulah agama. Serta ukuran kehormatan antara laki-laki dan perempuan harusnya dipandang sama pula, artinya dalam standarisasi yang satu, jika tidak hilang makna akan kehormatan itu sendiri jika hanya menekan satu pihak.
Oleh karena itu, selayaknyalah pemahaman klasik terhadap dualisme keadilan dihilangkan, agar marginalisasi terhadap golongan tertentu dapat dihapuskan meski sudah seperti warisan sejak zaman perbudakan yang sudah melampaui batas dan terus berbekas pada setiap generasi, hingga timbul penindasa-penindasan yang dilakukan secara sadar maupun tidak. Serta untuk melawan neo-kolonialisme dalam tatanan dunia global saat ini dibutuhkan perjuangan bersama-sama, bukan saling membudakkan. Agama adalah kartu penting dalam hal ini, agar perempuan tidak dianggap sembagai alat dalam mesin kapitalis didalam dan diluar rumah di era neo-imperiaisme saat ini. Agama, politik, ekonomi tidak mungkin dipisahkan, dan agama tidak menjadikan kemungkaran sebagai kebaikan dan kebaikan sebagai kemungkaran.
Rasulullah sendiri telah menghapuskan konsep perbudakan dalam islam, karena derajat semua oreng adalah sama, setiap orang memiliki hak hidup dan berhak mengaktualisasikan hidupnya sesuai dengan aturan-aturan yang wajar dalam agama. Sebagai agama fitrah dan rahmat untuk sekalian alam sesuai dengan kalam Tuhan yang artinya “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain” (Q.S.At-taubah: 7) jelas tak ada perbedaan antara keduanya kecuali kemampuannya memikul tanggung jawab dan ilmu.
Assalamu'alaikum...... Saboeh langkah dari uloen tuan munuju mimpi.. lewat kata loen meurangkai, semoga langakah sabe lam berkah..
Pengikut
About Me
- Maulidar Yusuf Atjeh
- Mencoba menjelajah dunia melalui mimpi... saya adalah saya,, dengan segala kekurangan dan kelebihan.. lewat mimpi saya mencoba merajut asa,, entah,, saya terhadap semua yang saya dapat.. kerna semua maya.. tak pasti.. tak nyata... hanya saja saya punya satu keyakinan.. yaitu, apapun yang telah terjadi hari ini,, belum tentu tak berarti, walaupun tak penting... yah,,, walaupun sering bgt aq terbang tapi jatuh lagi,, ehmm,tapi aq selalu berfikir.. kalo jatuh, yaa,, bangun lagi, trs terbang lagi, jth lagi?? yaudah bangun lagi.. eeee jatuh lagi?? istirahat dulu sebentar,, ^_^ terbang lagi... i'll get it!!
"Kurueng Baja"
Diantara pekikan nyiur yang melambai ayu, matahari pun dengan gagahnya semakin memercik bara cahaya, segerombolan elangpun terus mengepak sayap kembali keperaduan. Pantaiini semakin gersang, bangkai-bangkai kapal nelayan masa lalu bagai ranting tuayang tak habis dibakar masa, deru ombak semakin pilu merintih, seolah luka tua terus memburu bersama daratan.
Gadis berkerudung putih itu, berbaju hitam lusuh, bersarung merah kumal tak beralas kaki yang sejak tadi menyisir pantai tiba-tiba menoleh kearahku yang terlanjur terus memerhatikannya dari kejauhan. Wajahnya tetap ayu meski gurat sendu tak bisa tertutup juga, ada lubang dimatanya yang seolah meredam seribu gemuruh, membuat jantungku sedikit tertahan berdetak, namun ada hal yang paling membuat aku risih yaitu hidungnya, mancung. Mengigatkan aku pada sosok 'terindah' sekaligus 'terkeji' dalam hidupku, yang menjadi ladang aku lahir didunia, entah siapayang menanam benih.
Gadis itu semakin mempercepat langkahnya, tanpa sadar aku kehilangan jejaknya. Siapa "dara" itu....
***
Hari ini hasil pencarian kami benar-benar tak mendapat apresiasi menarik dari publik modal,terbukti dengan penawaran yang setengah dari harga biasanya. Dalam sepekan terakhir ini hasil tangkapan nelayan didaerah ini sedang sangat membanjir, maka sudah menjadi hal yang wajar jika hargapun mengalami penurunan. Hal ini biasanyaterjadi jika musim timur tiba, karna memang letak geografis daerah kami inihanya membutukan musim timur untuk mendapatkan hasil yang banyak selain jikabulan gelap tiba, atau biasanya diawal-awal bulan hijriah dan akhir-akhir bulanhijriah, namun kali ini sangat aneh, sudah berbulan-bulan hasil tangkapan kamiterus membanjir tak mengenal jadwal. Sebenaranya ini rahmat, tapi ketika aku melihat elang-elang selalu mengintari kami, firasatku terlanjur berbisik lain,bukan aku tak bersyukur. Ini benar-benar diluar kebiasaan.
Banyaknya ikan seharusnya roda perekonomian pun semakin maju, tapi kali ini kenyataanya sangatironis. Setelah hasil tangkapan ikan kami dipindahkan ke raga-raga[1],urusan pendistribusian berikutnya diatur oleh orang-orang yang sudah menunggu kedatangan kami berhari-hari didarat. Konsep dagang blo siploh peu bloe sikurung didalam rueng ta cok laba[2]dan sudah pasti pemegang keuntungan terbesar adalah mereka yang yang mempunyai modal besar. Konsep Adam Smith, tak perlu susah-susah dipelajari, bermuluk-mulukdengan kata-kata dibuku, seiring waktu memang hasrat manusia yang cenderung matrealisme dan hedonisme dapat dengan mudah kerasukan teori dagang kapitalisme, apapun alasannya, ini realita yang kaya akan terus kaya, yang miskin akan terus miskin jika ini terus-menerus mengakar, apalagi akarnya rizombium, menjalarnya sangat mudah dan cepat.
Siapa yang mempunyai langkah panjang, teknik menglobi yang lihai, uang awal yang banyak.Mereka bisa langsung menjumpai kami selepas kami memarkirkan boat kami dipancang[3],kemudian menukat uang dengan ikan kami. Kami memang harus pasrah kemana hasil tangkapan kami akan mereka bawa dan berapa harga yang mereka jual, karena mustahil kami juga yang turun untuk mendistribusikannya.
Sudah kebiasaan kami hasil penjualan ikan ini, setelah aku bagikan kepada awak-awak boat ku,yang sudah bersama-sama denganku berhari-hari menantang malam, bersetubuh dengan angin laut, dan membiarkan matahari menertawakan kami di pagi hari, tak heran jantung pun terus dikelitiki oleh ombak, apalagi jika lumba-lumba muncul, karena katanya lumba-lumba adalah hewan laut yang sangat baik hati dan akan memberi aba-aba pada manusia jika akanadanya bahaya, dan kami pun harus waspada jika nantinya sekali-kali waktu Tuhan menyentil boat kami, kami tenggelam, dan keesokan harinya segerombolan orangmengerubungi jasad, bangkai kami pun kami akan membuat panik orang di kampungentah berantah itu. Ini memang konsekuensi bagi kami, bagi awak-awak kapal kumemang ini pilihan hidup mereka untuk dapat menyambung nyawa istri dan anaknyadidarat, rela mereka menyerahkan hidup kelaut yang walaupun Tuhan ciptakan nyata tapi tetap penuh misteri. Tak ada kepastiaan hidup disini ketakutansebenarnya sangat nyata dengan tak ada satupun diantara kami yang bisaberenang, kami hanya bisa satu gaya renang yaitugaya batutenggelam. Plung. Innalillah.
Tapi kata awak kapal ku, inibagian dari ibadah mereka, apapun yang akan terjadi nantinya mereka sudah pasrahkan diri selama ini adalah jalan yang halal dan Tuhan pun ridha terhadap pekerjaan ini
Aku memang tak sepenuhnya sama tujuan dengan awak-awak kapalku. Aku bebas, jangankan punya istri atau anak, ibu bapak pun aku tak punya. Aku tak pernah tahu dimana ibukudan siapa bapakku, tepatnya aku sudah tak ingin lagi tahu dimana mereka. Umurkumemang termasuk muda, berkepala dua setengah pun belum, seharusnya aku takperlu menyerahkan keperawanan jasadku pada ketidak pastian alam, laut. Tapi ini boat ku, aku beli dari uang yang aku sendiri tidak pernah tahu dari manaasalnya. Sebelum aku berpisah dengan keluargaku, maksudku ibuku, ia menitipkan beberapa lembar kertas dan nama seseorang, tanpa sempat bertanya lebih lanjut kemana ibuku akan pergi. Kertas-kertas itulah kemudian tersulap menjadi uang-uang yang sangat banyak. Akhirnya selama delapan tahun berikutnya pun aku memulai drama kehidupanku seorangdiri.
***
Teringat delapan tahun silam...
Malam itu tepat pukul 02.08 Wib, seperti biasa aku masih menunggu ibuku pulang, menyakitkanmemang jika mengigat siapa aku sebenarnya, lewatlah sebuah mobil mewah menembus batang-batang bambu kuning didepan rumahku dan kemudian berhenti tepat dipintu rumahku, sudah hal biasa jika yang keluar dari sana adalah ibuku dan setiapkali dia pulang seolah dunia mengutukku dengan tusukan duri-duri racun namunaku tetap tak bisa berbuat apa-apa, tapi malam ini ada yang lain, raut wajah ibuku cemas sangat jelas terlihat diwajah yang sebenarnya tanpa ditampal bedak tebalpun sudah cantik, kali ini wajahnya tidak merekah seperti biasanya, bukanaku tak pernah berontak dengan sikap dan perkerjaannya ini, pulang tengah malam dengan belang-belang yang berbeda setiap malamnya. Sebagai anak laki-laki aku selalu merasa terhinakan disaat tak bisa berbuat apa-apa pada orang yangkucintai ini.
Harusnya aku sudah bisa membantu membiayai kehidupan keluarga kami (yang memang hanya ada aku danibuku), usiaku 14 tahun bukan usia kecil lagi kan? Dibandingkan membiarkan ibuku terus menerus berada dalam cengkraman belang bernafsu elang. Tapi dengarkan apa kata ibuku "..aku lakukan ini semua bukan tidak ada tujuan, kau harus sekolah tinggi, dan mengaji agar kau tahu cara berdoa yang mungkin kau bisa membantuku sedikit nantik ketika dineraka..hahhah...Dan kau harus tetap sadar bahwa harga diri itu tidak cukup dengan uang, jaditak perlu kau turut mencari uang. Kau lihat aku, aku seperti ini bukan mauku,kau harus buka mata dan pahami bahwa tak ada wanita yang ingin menjadi dan diperlakukan seperti aku dengan ikhlas, aku tahu ini dosa, aku biarkan Tuhan bebas merajamku selamanya dineraka, asalkau tak ikut terjilat sedikitpun, jadikau harus berilmu. Sudahlah jangan banyak tanya lagi, sudah hampir magrib ini,mana sepedamu, ambil ini uang bebrapa lembar kemudian berikan pada tengku[4]mu.."
Aku memang disekolahkan ditempat yang bagus ketika itu, namun tak ada yang tahu indentitasku, walaupun namaku sering berubah-rubah namun tetap tak ada yangcuriga, tak ada seorang pun yang bertanya siapa nama ayahku, aku tak mengerti mengapa ibuku bertindak seperti itu. Dengan uang yang dia punyadan kecerdikannya aku benar-benar bisa menikmati dunia pendidikan. Akupun tinggal didaerah yang tak ada tetangga seorang pun, jauh dari bisik-bisik radiobergigi, dan adalah hal biasa didaerah ku tinggal jika seorang perempuan menghidupi keluarganya seorang diri, ini adalah hal yang lumrah, mengingat konflik yang aku sendiri tak pernah tahu kapan akan berakhir dan juga konflik ini membuat anak laki-laki tak bisa bertahan lama hidup, aku pernah berfikir,fir'aun telah muncul lagi dijaman modern ini, dan menyuruh membunuh laki-laki.Entah bagaimana wajah fir'aun modern itu. Karena pembunuhan kali ini tidakhanya menggunakan senjata, namun termasuk didalamnya pembunuhan karakter, akupun tak yakin aku akan bisa hidup sampai menikmati hari tua.
Rumahku tepat diujung jalan setapak bekas peninggalan belanda, masih belum terjamah program pembangunan pemerintah, tepat dibalik pohon bambu kuning yang sengaja ibukutanam sebanyak-banyaknya, aku tak mengerti maksudnya padahal dibalik itu adatanaman mawar dengan beragam warna, bukankah itu lebih indah untuk dilihat. Inipikiranku, beda dengan pemikiran perempuan ini yang sangat kukuh dengan pendiriannya. Sekali A tetap A. Terserah benar atau salah, selama dia mengambil keputusan dia akan konsisten dengan itu. Jangan harap bisa kita ubah. Walau akhirnya yang dia dapatkan adalah rugi. Ibaratnya sihet bek tapi roe bah mandum[5]
Aku dipaksa untuk terus bersekolah, memenuhkan otakku dengan ilmu. Pagi hari aku pergisekolah menuntut ilmu dunia, sore sampai malam hari aku belajar agama didayah[6]dikampung seberang, yang santrinya tidak hanya berasal dari kampung itu saja,namun juga dari berbagai daerah, karena memang ini adalah pesantren yang didirikan oleh seorang ulama besar yang sempat menjadi qadhi pada masa pemerintahan putridari Sultan Iskandar Muda, ia adalah ulama pertama yang mengizinkan perempuan menjadi pemimpin tertinggi negara.
Sebagai ulama besar tasauf yang sudah menuntut ilmu diberbagai wilayah islam didunia ia pastipunya alasan khusus mengapa ia mengizinkan Safiatuddin menjadi ratu dinegaraIslam
Selama aku menuntut ilmu disekolah atau dayah, aku termasuk murid yang cepat menangkap pelajaran jangan heran jika aku sempat menjadi produk akselarasi pendidikan.Aku dengan cepat bisa menamatkan sekolah dan sempat melanjutkan nya kebangku perkuliahan, jika bakan karena sesuatu hal, mungkin hari ini aku sudah sarjana.
Masih kental dalam ingatanku kejadian malam itu, malam terakhir aku melihat ibuku, dia pergi dengan titipannya, dan malam itu adalah malam terakhir aku melihat wajah menornya. Pesan terakhirnya jangan pernah mencoba mencari dia karna itu akan membuat masa depan didunia ku suram, dan jangan pernah mencari dosa karna aku pastitidaka akan sanggup menahan kesuraman akhiratku. Ibuku memelukku terakhir dan kemudian buru-buiru pergi dengan keringat dingin yang terus menguncur diwajahnya dan bau amis darah tercium dihindungku, ada apa ini sebenarnya.
Dia pergi..
Sudah delapan tahun ini aku benar-benar tak pernah mencari tahu tentangnya, aku benar-benar jijik padanya yang selalu membiarkan dirinya dibelai oleh para belang-belangtolol yang tidak bisa memanfaatkan hartanya dengan baik, memang kelas ibukubukan kelas rendahan, rata-rata yang menjemputnya adalah mereka para penguasa yang sering terlihat di media-media entah dari golongan pekerjaan apa tapi yang jelas mereka punya uang banyak tapi kasihan, istrinya pasti selalu sibuk berkarirhingga suaminya mencari ladang lain. Aku pernah baca profil-profil istripejabat, pengusaha atau orang penting lainnya, rata-rata memang bukan perempuan biasa. Tapi benar-benar luar dari kebiasaan bersikap sebagai istri.
Ah entahlah...
Aku tak mau terlalu jauh berspekulasi, ibuku selalu bilang ketika ruh perempuan ditiup kejasadnya tak pernah ia meminta untuk hidup sebagai pelacur. Ini sudah takdirkatanya, Tapi menurutku, selama aku belajar walaupun takdir harus dijalani oleh manusia, tidak menutip kemungkinan nasi bisa berubah. Aku pernah menghafal sebuah ayat yang artinya " Allah tidak akan merubah suatu kaum jika mereka tak merubahnya sendiri"
Aku benar-benargerah, aku mununtut ilmu siang malam, aku tinggal di daerah syariat yang harumnya mendunia, tapi kenyataan sangat tak sipadan. Pelacuran disini memang sudah ada sejak zaman penjajahan dulu, tapi entah mengapa penghinaan terhadap negri syariat itu semakin menjadi-jadi. Termasuk apa yang dilakukan ibuku.
Ibuku pernahmelanjutkan kata-katanya, "para kaum adam diciptakan sebenarnya untuk melindungi kaum hawa, tapi sekarang mereka malah memanfaatkan hawa yang lemah sebagai sarana penyaluran birahinya, kau harus ingat nak, jangan pernah memanfatkan perempuan!! Apalagi mereka yang berada disituasi terhimpit ekonomi,imamnya tipis, ilmunya sedikit, kau harus sayangi mereka. Ibu mu ini memang sudah sangat-sangat kotor...jangan kau ikuti, cukup dengarkan apakata tengku dan guru mu,, ingat! Jika kaupunya istri kelak jangan terlalu kau korek masa lalu dia, tapi kau harusmembantu menompang dia untuk masa depan yang lebih bermartabat, atau jika kaubertemu dengan perempuan lemah, jangan kau injak-injak lagi mereka! Andaikata adaperempuan kuat, tak perlu kau kira mereka akan menyaingi mu.. kau harus tahuhanya saja mereka tak ingin ditindas! Kau jaga baik-baik anak perempuanmu,sumpal otak mereka dengan ilmu agama!! Jangan lengah atau kau akan benar-benar menyesal untuk kedua kalinya. Setelah terlahir dari rahimku..."
Aku sempat berfikir apa yang terjadi ini bukan murni salah perempuan seperti ibuku, karena sebenarnya laki-laki jauh lebih salah dengan memanfaatkan perempuan sepertiini, tidak seharusnya memang permasalahan pelacuran itu hanya dibebankan pada perempuan, bukan hanya mereka yang seharusnya bertanggung jawab atas penghinaan negeri syariat ini.
Kembali aku teringat pada "dara" dipantai kemarin, ada apa dengan dia, mengapa wajah ayunya begitu sembab, sendu, mengapa kakinya terlalu haus berjalan terlalu cepat. Aku memang talk pernah dekat dengan perempuan selain ibuku, tapi ini bukan berartiaku tidak akan mendekati perempuan itu, percayalah aku ikhlas, aku ingin membantunya menghapus sembabnya agar dunia tahu bahwa dia benar-benarmempesona..
Aku tahu ibu kubukan tidak bisa keluar dari semua itu, tapi ia memang tak punya penompang yangkuat. Dunia yang gelap bukan dunia yang tak memiliki lampu.Aku sayang ibuku.
Aku membayangkan ini semua tidak akan pernah terjadi, seandainya tidak ada mitos permasalahan keperawanan pada perempuan, sedangkan keperjakaan tidak penah dipersoalkan, andai takpernah ada asumsi bahwa perempuan yang sering diluar rumah apalagi malam hari adalah perempuan tak baik, sementara laki-laki tak pernah dipersoalkan.Stigmasi dan diskriminasi. Akupun pasti tak akan penah terlahir dari rahim pelacur. Mungkin ibuku frustasi dengan hal-hal seperti itu. Namun aku tak juga ingin terlalu membenarkan dia, karena memang iman dan taqwa ibuku yang lapuk,rapuh. Disaat dihancur, melacur adalah solusi menurutnya.
Dalam hidupku tak akan aku biarkan ada lagi perempuan yang tersiksa seperti ibuku. Aku tahu mereka makhluk lemah, tapi mereka harus tetap sadar bahwa mereka bisa untuk tak membuat diri sehina itu selama mereka punya kemauan yang kuat dan keyakinan bahwa hidup bukan sebatas pelampiasan amara dan nafsu.
***
Andai aku bisa berjumpa lagi dengan "dara" itu. Aku harap aku bisa memaafkan ibuku, yang selama ini telah aku peti matikan yang selama hidupku, karena sudah menoreh hikayat menjijikkan dihidupku. Aku tak mengerti perempuan. Yang rela menjual diri demi aku katanya, tapi haruskah ini menjadi jalan terakhir, apakah memang tak ada jalan lain. Benarkah kata-katakoen bak kaye yang han tem timoh, kadang cit tanoh kurueng baja[7], inibukan kemauan dia.
***
Senja ini dibawah payung langit,aku tahu banyak sayap-sayap kalian yang patah
Lalu hilang arah tuk sekedar menetap diri
Bangkai-bangkainya pun terlanjur dikerubungi elang buas penuh birahi
Tapi aku tak yakin sebegituburamnya takdir
Andai mereka coba sedikit sajamembuka mata
Tak biarkan diri dicakar-cakar hingga wajah seolah tak bernyawa lagi
Pasti tak ada cahaya yang hilang
Tak perlu menangisi kodrat, takperlu mencaci hasrat, tak pelu mendekam diri, kalian harus tahu siapa kalian!!
Digenggaman kalian negri ini tegak berdiri
Jangan terlalu lemas mengenggam!Karna jika roboh kami dan kita semua akan terjepit
Jangan pula terlalu keras kau cengkram, aku takut kau lupa diri dan sewaktu-waktu kau akan lelah dan semuaakan terabaikan dengan sendirinya.
Semua bisa jika bersama
Dengarkan janjiku duhai kaca yang berdebu
Akan aku ajarkan pada mereka cara membersihmu
Sangat tolol mereka yang terlalu keras membersihkan, karna kau akan cepat retak
Tapi betapa bodohnya lagi disaat mereka terlalu lembut, tak sadar kau akan tergores, kabur, keruh
Lampulo, 11 Ramadhan1431 H
"Kurueng Baja"
Meutia Yusuf
[1]Keranjang ikan
[2]Maksudnya mengambil keuntungan dalam kerugian
[3] Tempat pemberhentian ikan, hampir sama dengan pelabuhan.
[4] Orang yang berilmu agama, disini adala mereka yang mengajar mengaji
[5] Artinya jika sudah maju tidak pantang mundur
[6] Tempat belajar ilmu agama, sama seperti pesantren.
[7]Kesalahan yang bukan murni disebabkan satu alasan
Cinta Pertama Dan Terakhir
sebelumnya tak ada yang mampu
mengajakku untuk bertahan
di kala sedih
sebelumnya ku ikat hatiku
hanya untuk aku seorang
sekarang kau di sini hilang rasanya
semua bimbang tangis kesepian
kau buat aku bertanya
kau buat aku mencari
tentang rasa ini
aku tak mengerti
akankah sama jadinya
bila bukan kamu
lalu senyummu menyadarkanku
kau cinta pertama dan terakhirku
sebelumnya tak mudah bagiku
tertawa sendiri di kehidupan
yang kelam ini
sebelumnya rasanya tak perlu
membagi kisahku saat ada yang mengerti
sekarang kau di sini hilang rasanya
semua bimbang tangis kesepian
bila suatu saat kau harus pergi
jangan paksa aku tuk cari yang lebih baik
karena senyummu menyadarkanku
kaulah cinta pertama dan terakhirku
...
Ini pilihan diatas ketentuan.
Aku tak bisa mengelak lagi, ini numenaku
Aku memang tidak pernah tahu dimana letak ketinggian iman ku
Yang ku tahu hanya ada selembar, lembaran tipis, batasan kesucian dan kehinaan yang masih ku punya, tipis sekali, bak ari diatas air
Andai angina berhembus, sayup pun, ia kan retak
Dan baur kan segalanya..!!
Prahara ini begitu besar, walau ku katakana tak ada masalah dengannya
Kenyataannya dia terlanjur memenuhi isi otakku
Dan lambat laun paradigma hidupkupun akan berubah
Tusukannya tepat menyentuh saraf-saraf bathinku, gerangku menegang..!!
Ringkihku disudut ini sungguh menyakitkan!!
Aku benar-benar tak dapat fungsikan photoceptor- ku lagi dengan sempurna,,
Antara hitam dan putih, nyaris tak ada beda lagi bagi ku, untuknya
Andai bulan membuka rahasia imaginasi masalalu ku
Dan tabir kisah berabad-abad lalu tentangnya pun tersibak, dia terlanjur ada daripada tercipta..
Milyaran kisah tlah mengalir tentanggnya dalam maya ku, hingga akhirnya dia benar-benar Kau cipta,,,
Ughhh,,, andaikata bulan pengkhianat rahasiaku,, sungguh aku akan begitu malu untuk ada..
Walau sebenarnya aku ingin dia bertanya pada bulan, dan bulan tak perlu berkhianat.
Dan hari ini
Lihatlah…..!!
Sederet gelombang mulai mengusik batinku, mengajakku
Lagi-lagi, menuju lorong hatinya..
Maafkan budak ini Tuhan, terlanjurku berselingkuh dari-Mu
Tuhan, boleh jadi Engkau remukkan tulangku
Seandainya ini bukan sambungan rusuknya..
Aku tahu andaikata ku meminta, melihat ku saja, mungkin tak pantas kau ijabahkan harap ini, tapii,,,,,
Ku mohon, paksakan pengembara cinta itu bertempur diladang ini
Meski tak pantas rasanya,
Ini benar-benar bukan lagi salah waktu, namun adakah kepantasan untukku berteriak
“AKULAH PATAHAN TULANG RUSUKMU, DUHAI……!”
Rabbi,, aku benar-benar lemas sudah, andaikata Kau deretkan orang-orang hina dihadapan Mu, mungkin, tak salah lagi posisiku adalah terdepan
Akulah yang menghunus pedang dan menancap Mu dan Rasul-Mu
Owh,, ya Rabb,,,,
Tubuh ini jauh terhempas sudah, samar adanya dalam alunan
“ALLAHUAKBAR, ALLAHUAKBAR WALILLAH ILHAMD”
“ ANTA YA SALAAM, ANTA YA GHAFUR,,YA ZALJALALI WAL IKRAM”
Ada rindu yang tak pantas ada, aku benar-benar tlah terlanjur berhenti dipersimpangan ini, logikaku pun hilang fungsi
Aku tak tahu apakah masih ada kelayakan untukku berada berada dilereng bukit diantara ladang kurma merah-Mu
Sungguh, kepingan dosa tanpa sadar tlah aku tertawai
Andai rasa ini bersayap pada ampunan Mu
Antara maghfirah dan makhrifat Mu, aku mohon
Izinkan aku Tuhan, agar semua tak sekedar harap, agar jiwanya dapat menggenggam erat bathin ini,,
Meski aku terlanjur awal memulai dar garis start,
Meski inferior ini begitu besar
Ini numenaku
Duhai Penglabuh Cinta, maafkan selingkuhan-Mu ini
Izinkanlah selingkuhan-Mu ini, mencapai garis akhir dengannya
Izinkan akhirnya kelak kami dapat berteduh ditelaga Kaustar-Mu
Meski tanpa kata-kata dari ku untuknya, tapi aku punya Engkau, Tuhan..!
Layaknya budak yang tak henti memohon, Tuhan,,
Jangan larikan aku darinya, dan tak yang lari dan melarikan diri diantara kami,,
Karna semua terlanjur terlayut manja, bak sang ayah…
Aghr,,,,
Aku begitu gamang sudah jadinya,,
Ini porsi kebahagiaan jiwaku yang galau
Padahal, aku hanya ingin merindukan Tuhanku, disetiap detik hidupku tanpa harus melepaskan dia..
Meski tak ada yang pasti apakah dia menggenggan ku
Aku memeng tak akan pernah tahu, karna sampai matipun
“ AKU TAK AKAN BERTANYA, AGAR AKU ADA”
Hanya akan berandai dia lihai melihat, benda perpanjangan otak dan rasa ku yang berada diluar tengkorakku , mataku.
Tuhan,,
Sungguhku tak tahu cara, selain pinta terakhirku ini
“…sodorkan hatinya untukku kelak, ketika abad nyata ini tiba dan ketika abad yang layak itu ada, karna ku tak menggharapkan dia untuk hari ini…”
14 sya’ban 1431, 02.08 WIB….
*akhirnya….
Perlak, 1870. Ini tahun kelahirannya.
Terlalu subyektif jika sampai hari ini kita menvonis bahwa perempuan harus selalu berada digaris belakang, harus selalu dilindungi dari berbagai macam keganasan. Padahal seharusnya kewajiban melindungi adalah keharusan semua insan terhadap insan lainnya tanpa harus memandang jenis kelamin apa yang dia miliki demi terwujudnya perdamaian hakiki.
Ada sebuah fakta sejarah di Seramoe Mekkah ada seorang ‘srikandi’ yang tak pernah bersedia dihina, apalagi dilecehkan demi bangsa dan agama dia rela menerjang peluru. Perjalanan hidup yang merupakan unsur sadar dan tidak sadar dalam diri setiap manusia tentunya perlahan akan membentuk karakter setiap orang. Begitulah yang terjadi pada diri ‘srikandi’ yang satu ini. Suasana perang dan kekerasan pada masa kelahirannya dan setiap liku pertumbuhan serta perkembangannya telah sangat mempengaruhi kehidupannya.
Srikandi ini tidak pernah mau tunduk terhadap colonial, oleh sebab itu ia dan suaminya berjuang mati-matian dengan menciptakan berbagai taktik untuk menghantam gaphe-gaphe Belanda pada saat itu. Meskipun tanpa senjata lengkap namun semangat jihad fisabilillah telah membutakan hati mereka untuk tidak hidup belama-lama dalam keterhinaan.
Hidup dengan penuh tekanan dan penyiksaan tak pernah sedikitpun membuat peluh rasa menyerah menetes dibenak mereka, walau hingga akhirnya ia harus kehilangan suami tercintanya yang terjebak dalam perangkap hingga akhirnya ditembaki oleh para kolonila. Ia tetap tegar dan terus berjuang dengan seorang yang pernah ditunjuk oleh suaminya untuk menggantikannya ketika ia harus pergi terlebih dahulu. Perjuangan merekapun semakin mendapat tekanan yang sangat parah. Hingga akhirnya dalam sebuah pertempuran di Paya Ciecem, suami keduanya pun meninggal. Dalam pertempuran ini banyak masyarakat yang putus asa dan akhirnya menyerahkan diri, tapi ‘srikandi’ ini tidak pernah putus asa apalagi menyerahkan diri. Demi bangsa dan agama ia tetap terus berusaha meloloskan diri berserta seorang bayi laki-lakinya.
Dialah ‘srikandi’ anggun dari Perlak, Cut Nyak Meutia. Keteguhan hati dan kepintarannya menciptakan taktik perang selalu membuat para kolonial gerah. Sampai akhirnya ia pun dikepung dan tanpa rasa prikemanusiaan perempuan ini ditembaki beramai-ramai oleh kolonial, akhirnya berbutir-butir peluru bersarang ditubuhnya. Srikandi penerjang peluru.
Cut Nyak Meutia adalah representasi dari perempuan-perempuan Aceh yang heroik dan tangguh mempertahankan martabat agama dan bangsa. Tidak pernal mengenal ketidakberdayaan, karna darah mereka adalah perpaduan kejayaan dan kebebasan untuk hidup.
Sudah jelas pada dasarnya identitas perempuan Aceh yakni perempuan yang anggun, tegar, kuat, dan tidak cengeng. Maka sudah sudah sepatutnyalah ‘srikandi-srikandi’ sekarang sadar siapa mereka sebenarnya.
Mengenang Cut Nyak Meutia sebenarnya bukan hanya menbayangkan romantika perperangan fisik antara perempuan Aceh dan kolonial, namun juga perjuangan mempertahankan cinta sucinya dengan Teuku Muhammad atau yang lebih dikenal dengan Teuku Cik Tunoeng. Ini merupakan bukti bahwa perempuan Aceh sudah dari dulu merupakan sosok yang bebas menentukan hidupnya. Awalnya memang Cut Nyak ini sejak kecil sudah dijodohkan oleh orang tuannya, tapi akhirnya ia lebih memilih Teuku Muhammad, pemuda yang dicintainya, untuk menjadi pendamping hidupnya.
Perjuangannya demi bangsa dan agama serta ketenguhan terhadap cintanya ini pun tidak pernah luput dari cobaan, karena pernikahan pertamanya ini tidak bertahan lama dan begitu juga dengan pernikahan keduanya. Tapi ia tidak pernah pasrah begitu saja terhadap takdir. Karna dia sadar bahwa kualitas kesabaran seseorang itu tergantung bangaimana ia berusaha melawan takdir menuju martabat yang lebih baik.
Pertanyaannya hari ini adalah akankah ada duplikat Cut Nyak hari ini?
Sepanjang perjalanan hidupnya dihabiskan untuk belajar, mengaji, dan berjuang demi terangkatnya martabat keimanan. Menikah dengan ridha Allah, berjuang dengan jiwa seorang ibu yang tak pernah gentar melawan si “mata biru” meski darah birunya bertabur peluru. Serta tak pernah rela dilecehka oleh kafir laknatillah. Mungkin sangat ironis dengan keadaan sekarang banyak ‘srikandi’ yang berlomba-lomba meperlecehkan dirinya dengan perbuatan-perbuatan yang jauh dari norma-norma agama dan budaya.
Memang sampai kapanpun sejarah tidak akan berulang sama seperti yang pernah terjadi. Namun impossible is nothing, disaat kita berani bermimpi. Karna tolak ukur kapasitas kita adalah disaat ada keberanian untuk bermimpi dan berusaha mewujudkan kembali gemilang masa lalu ini, dan semua ini bukan hanya menjadi hal yang utopis disaat para ‘srikandi’ sadar bahwa dunia menanti perannya.
Apa yang terjadi pada hari ini memang merupakan sebuah fonomena bahwa bukan saatnya lagi srikandi-srikandi Aceh bersembunyi dibalik tempurung, karna sejarah indatu telah mengukir anggun tentang sosok Cut Nyak Meutia dan ‘srikandi’ lainnya yang tak pernah apatis terhadap keadaan sekitarnya.
Bukan suatu hal yang mustahil sosok cut Nyak Meutia kembali hadir dizaman modern dan kontemporer saat ini, asalkan ada kemauan yang besar pada para perempuan hari ini dan esok untuk terus berusaha meningkatkan SDM, salah satunya dalam hal penyetaraan ilmu pengertahuan. Mengingat saat ini tidak ada lagi batasan-batasan untuk menikmati ilmu pengetahuan, semua orang berkesempatan dan berhak mendapatkan pendidikan yang sama. Namun tetap dalam dalam tutunan yang layak dan wajar dalam rentetan yang normative, artinya tidak melawan etika-etika relegius dan kodrati.
Oleh karena itu suatu keharusan kesempatan untuk berkembang atau istilahya mengejar karier bagi perempuan tidak terbentur dengan nilai-nliai persamaan prinsip (tingkat status) dengan laki-laki. Harus ada kontrol yang sesuai dengan aturan agama agar tidak ada kebablasan sikap yang seolah perempuan bisa hidup tanpa laki-laki. Istilah ‘gender’ pada hari ini terkadang menjadi sumber wacana yang tak jarang menjadi sumber malapetaka hingga tersulut bara api bagi perempuan untuk mendapatkan sebuah target yang tak pantas, seperti kenyataan pada hari ini ada pos-pos yang tidak mungkin dicapai oleh perempuan.
Tapi semua ini tetap tidak akan pernah menutup ladang kemungkinan bagi perempuan untuk menabur spirit kemajuan dan mendukung perkembangan bangsa seperti Cut Nyak Meutia yang memiliki andil besar untuk membangun peradabaan dan tak pernah sedetikpun membiarkan martabatnya dilecehkan oleh siapapun. Sudah saatnya para perempuan hari ini berfikir bahwa dia ada dan sadar bahwa dunia menanti kehadiran peran dan ketegarannya. Wallahu’alam…
Mau bernafas tentunya perlu alat nya, hidong, ya kan?
gt jg dgn kepercayaan,,
mw dapat kepercayaan lg?? tentunya perlu BUKTI!
Profesional, itu kunci smw!!
pembenaran? itu bukan solusi! kalau emang gx bisa, blg terus dari awal. Kita bertugas bukan berhubungan dengan Galah tapi dgn jarum! runcing, menusuk!
Sekali aja gak masok, publik angkat suara, menusuk? pasti.
Hidup adalah pilihan.Pilihan tuk meninggalkan atau Ditinggalkan!
Maulidar, Hari ini kamu 1 jam lebihtelat! itu bukan rekor yg membanggakan tuk didengar!!
bisa profesional atau enggak sich sbnrnya???
De Beaulieu Augustin ( 1589 - 1637) is a French century general of ke-17, what in the year 1619 assigned to lead a armed expedition to Indies East consist of three ship ( 275 kru, 106 cannon) and referred " Armada of Montmorency "
Armada of visiting Acheh, a conducive experience Beaulieu to write one other best Account Acheh in the early of century of ke-17. Beaulieu come in contact with Sultan of Iskander Young ( 1607-36) to obtain;get commerce permit and agreement to found factory.
Arrival of Agustine Beaulieu de to Acheh greeted very either by governance of Acheh, proven in the article of Beaulieu greeted good with extraordinary expectation by Acheh with idiosyncrasy like wall which was floor and dihiasai which was unfolding carpet of Turki, and a number of 30 women with decorative silver batil beautiful jewel stone, which entertain you of Beaulieu. Is later;then continued by show of artistry. Come up lah 15 girl with last small drum came up also 2 pretty girl very menabjubkan because beautiful once, husk of halius, not suspecting country as hot as that meeting beautiful girl as white as month;moon. Clothes chief of village of weaving gold, Beaulieu really see him. This also prove that people of aceh very esteem guest.
Beaulieu giving many presentses to Sultan, with bingkisan which have never Acheh. Although first day arrival of to Acheh not yet, been accepted direct by king. Because at that moment king are pain, new after read of King letter of Prancis audiensi executed.
Beaulieu narrating many that residents many which have read and count/calculate. They are devotee of art, cleaner of this matter seen from clothes and household him. Later;Then worker are Achenese talent. Blacksmith, making ship isn't it membership which is very amaze. Beaulieu also narrate that Sultan of Iskandar Young have formed Acheh people kaarakter become best soldier d archipelago of nusantara.
all important matter in kekautan of sultan of dalah armed forces Sea which consist of battleships of infinitude lands, line of ivanteri afirmed by elephant army and 3 pelapuhan of Energy aceh and of Pedir.
Bealiu write down that battleship ship far bigger than made by battleship ship European people epoch, that is with length 12o foot/feet, this kappal is very heavy and beautiful, ad for and high and there are biliki-bilik and also oars very pannjang but light, people of aceh very make ship.
that Ship ship is taken care of by special people in it load until 800 army by 900 elephant tail . this elephant can boost up the foot/feet of thrice contemporaneously in honour of Sultan. That have isn't it people of aceh very in the case of crafting/ diligence and worker.
Beaulieau also write down concerning people of aceh which is " king more than the infinite" with the meaning people of aceh that more major king than the infinite because eager to face morning sultan to libel others before he is libeled others. Though he/she not yet of course will be libeled by others.
Beaulieu also mention concerning jurisdiction of Acheh which if a criminal arrested he cannot run again and surrenderness brought forwards penalization and judge for kejahan is cane. If cane have hence finishing his penalization lah. He/She also write down judge accepting ransom to penalization. This matter designate that hokum can payee with money. Become for easy plutocrat to redeem penalization while pauper more serve time cane.
Admiral of Agustien possible Beaulieu de fail of opportunity trade denganAceh, as English, time he/she tour there as French king courier. On that account, not surprise if reading the composition of there are flavours forerunner of dislike searched for badness of his article subyek. Begitupun of his report, can be obtained the image of situation of Acheh during the period.
hahahaha,,,,,
before i go Belanda,, njoe sedikit banyak loen peutrang ttg si Beaulieu, data lgkp djih gohlom loen temukan,, maybe,,, when i go Holand i'll write more ^_^
